KORAN MERAPI – Dewan Pimpinan Daerah Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (DPD HIPPI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terus mendorong pengembangan pertanian ramah lingkungan melalui kegiatan Pembelajaran Bio SAKA, sebuah teknologi pupuk berbasis rumput yang ramah alam. Kegiatan ini digelar di Sekar Wangi Resto, Jalan Wates, Gamping, Sleman, Senin siang (19/1/2026).
Kegiatan tersebut diikuti oleh pengurus DPC HIPPI Bidang Pertanian dari empat kabupaten dan satu kota di DIY, pelaku pertanian, pegiat lingkungan, serta masyarakat umum yang tertarik mempelajari praktik pertanian berkelanjutan.
Bio SAKA merupakan terobosan pembuatan pupuk alami berbasis rumput yang berfungsi sebagai solusi pencegahan hama tanaman sekaligus mampu menghilangkan bau tidak sedap dari sampah organik. Teknologi ini dinilai efektif, murah, dan mudah diterapkan oleh masyarakat luas.
Ketua DPD HIPPI DIY, Ariyanto, dalam sambutannya menegaskan pentingnya inovasi sederhana yang berdampak besar bagi ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan. Menurutnya, Bio SAKA menjadi contoh konkret pemanfaatan kearifan lokal dan ilmu terapan untuk menjawab tantangan pertanian modern.
“Kita sengaja mengadakan pertemuan ini sebagai bagian dari edukasi untuk menyelamatkan alam melalui langkah nyata. Pembelajaran ini berkaitan dengan proses pembuatan pupuk organik berbahan daun, sampah rumah tangga, dan kotoran hewan. Bio SAKA adalah salah satu contoh nyata bagaimana menjaga dan melestarikan alam, dari alam kembali ke alam,” jelas Ariyanto kepada koranmerapi.id.
Paparan materi disampaikan oleh Muhammad Anshar, Founder Bio SAKA, yang menjelaskan filosofi serta prinsip dasar teknologi Bio SAKA. Ia menyampaikan bahwa rumput liar yang tumbuh sehat menyimpan kekuatan alami yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan ketahanan tanaman.
“Rumput liar memiliki potensi sebagai elisitor tanaman. Bio SAKA membantu meningkatkan ketahanan tanaman terhadap hama, memperbaiki kesehatan lahan, serta mereduksi bau tidak sedap dari sampah organik tanpa melalui proses fermentasi maupun penggunaan bahan kimia,” terang Muhammad Anshar.
Tidak hanya penyampaian materi, peserta juga diajak mengikuti praktik langsung pembuatan Bio SAKA. Mulai dari pemilihan rumput, teknik perendaman dan pemijatan, hingga cara aplikasi yang tepat pada tanaman. Praktik ini membuktikan bahwa teknologi Bio SAKA mudah diterapkan dan dapat dilakukan oleh siapa saja.
Seluruh rangkaian acara dipandu oleh MC Azfa Pabulo yang membawakan kegiatan secara komunikatif dan interaktif, sehingga suasana pembelajaran berlangsung cair dan partisipatif.
Melalui kegiatan ini, DPD HIPPI DIY berharap para peserta dapat mengimplementasikan teknologi Bio SAKA secara mandiri di lahan pertanian maupun lingkungan sekitar, sebagai langkah nyata menuju pertanian sehat, lingkungan bersih, serta kemandirian petani. (Rls)



















