KORAN MERAPI – Pendidikan ideal tidak hanya mencerdaskan, akan tetapi juga memerdekakan, membentuk karakter, dan memberdayakan manusia untuk kebermanfaatan bagi semua. Ki Hajar Dewantara mengungkapkan bahwa pendidikan haruslah berorientasi pada kemandirian siswa, didukung oleh sistem among mencakup nilai asah, asih, asuh.
Ki Hajar Dewantara memaknai bahwa pendidikan sebagai proses pembudayaan kodrat alam setiap individu dengan kemampuan yang dimiliki untuk mempertahankan hidup yang tertuju pada tercapainya kemerdekaan, sehingga dapat memperoleh keselamatan, keamanan, kenyamanan, dan kebahagiaan lahir batin. Pendidikan ini terjadi dalam lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat, yang disebut sebagai Tri Pusat Pendidikan.
Salah satu visinya adalah untuk membentuk siswa yang bukan hanya cerdas secara intelektual, melainkan juga cerdas secara emosional maka diperlukan pendidikan karakter. Pendidikan karakter dilaksanakan dalam lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Pendidikan karakkter tersebut dijalankan secara holistik dengan meneladani nilai-nilai Tamansiswa sebagaimana digagas oleh Ki Hajar Dewantara.
Dalam pandangan Ki Hajar, pendidikan harus berlandaskan pada budaya bangsa, berfungsi sebagai pranata sosial yang melestarikan dan mengembangkan kebudayaan, serta menciptakan pembelajaran menyenangkan, sebagaimana tercermin dalam konsep ‘Tamansiswa’. Filosofi ini sejalan dengan pemikiran K.H. Ahmad Dahlan, yang melihat pendidikan sebagai alat perubahan sosial. Baginya, pendidikan bukan hanya transfer ilmu, tetapi proses pembentukan manusia berintegritas yang berperan aktif dalam menciptakan umat berkemajuan dengan prinsip berbuat untuk kemaslahatan.
Dalam konteks pembelajaran sains atau Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), nilai-nilai Tamansiswa yang bisa diterapkan, diantaranya ngrasa dan nglakoni. Artinya dalam pembelajaran sains sudah sepatutnya mempunyai ngrasa yang berarti memahami. Kemudian baru nglakoni yang berarti melaksanakan. Sama seperti pada umumnya aktivitas pembelajaran sains dimulai dari kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup serta dapat dilakukan dengan pendekatan Etno-STEM atau integrasi etnosains dengan pendekatan STEM, yang meliputi Science (Sains), Technology (Teknologi), Engineering (Teknik), dan Mathematics (Matematika).
Nilai-nilai Tamansiswa selanjutnya yang bisa kita terapkan dalam pembelajaran sains, yaitu Tri N, yang merupaan diantara ajaran Ki Hajar Dewantara berkaitan dengan Tamansiswa. Tri N sendiri meliputi tiga aspek, yaitu niteni, nirokke, dan nambahi.
Pada proses niteni atau mengamati, siswa akan melakukan proses pengamatan ataupun memperhatikan arahan-arahan baik yang terdapat dalam materi, media, maupun penjelasan langsung dari guru tentang subbab atu materi yang akan atau sedang dipelajari.
Kemudian pada proses nirokke atau meniru, siswa akan meniru apa saja yang dipaparkan pada saat proses niteni. Proses nirokke dapat dikatkan berhasil apabila siswa mampu meniru, mencontoh, atau mempraktikkan apa yang ia dapat dari kegiatan niteni. Jika siswa belum mampu untuk meniru, mencontoh, atau mempraktikkan apa yang didapat dari kegiatan niteni maka, guru perlu melakukan pengulasan kembali tentang materi yang akan atau sedang dipelajari.
Selanjutnya pada proses nambahi atau menambahkan, siswa akan diberikan kebebasan dalam berkreasi, mengembangkan dan menambahkan apa yang ia dapatkan dari kegiatan niteni dan nirokke.
Dalam kaitannya dengan pembelajaran sains, ajaran Tri N tersebut dilakukan secara terpadu. Guru dapat memasukkan nilai-nilai tri N ke dalam proses belajar mengajar. Sebut saja, yang lekat dalam pembelajaran sains, yaitu kegiatan praktikum. Misal praktikum ecoprint pada Bab VI Ekologi dan Keanekaragaman Hayati di Indonesia. Dalam hal ini sebaiknya nilai tri N diintegrasikan pada prosedur kerja ataupun komponen-komponen praktikum. Persiapan tersebut dilakukan pada sejumlah komponen praktikum yaitu: Judul, tujuan, dasar teori, alat dan bahan, prosedur kerja, hasil, dan diskusi.
Semua itu tentunya harus dijalankan secara sinergi oleh semua pihak dalam rangka merefleksikan kembali peran pendidikan serta berkomitmen secara nyata untuk menjadikan pembelajaran sains yang interaktif, reflektif, kontekstual, dan bermakna. Dengan meneladani dan menerapkan nilai-nilai Tamansiswa Ki Hajar Dewantara dalam pembelajaran sains tentu akan meningkatkan keterlibatan siswa, pembelajaran lebih bermakna, mengurangi kesenjangan belajar, dan menciptakan pengalaman pembelajaran yang berkarakter sebagai bagian dari problem solver persoalan pendidikan saat ini. (*)




















