KORAN MERAPI – Bagi banyak anak muda, sejarah mungkin hanya deretan angka tahun yang membosankan di buku sekolah. Namun, bagi pengurus Pemuda Kampung Jogjakarta, sejarah adalah kompas. Sepekan sebelum kalender menunjuk tanggal 13 Februari, mereka memutuskan untuk meninggalkan hiruk-pikuk kota dan melakukan sebuah perjalanan spiritual: Napak Tilas Leluhur Mataram.
Dipimpin oleh Ketua Umumnya, Haryawan Emir Nuswantoro, rombongan yang terdiri dari Agus Susanto, Haris Syarif Usman, Monda Saragih, dan Fabian Elfatta Daniswara ini memulai perjalanan ke Desa Kerten, Jantiharjo, Karanganyar.
Di sebuah sudut sunyi di Karanganyar, mereka berdiri di atas tanah yang 271 tahun lalu menjadi saksi bisu lahirnya Yogyakarta. Di sinilah Perjanjian Giyanti ditandatangani.
“Berdiri di sini rasanya seperti mendengar bisikan masa lalu,” ujar Emir dengan nada reflektif. “Yogyakarta tidak lahir begitu saja. Ada darah, air mata, dan diplomasi jenius dari Pangeran Mangkubumi di tanah ini. Kami ke sini bukan untuk piknik, tapi untuk menjemput jati diri.”
Bagi mereka, memahami Perjanjian Giyanti adalah cara untuk menghargai setiap jengkal tanah di Jogja saat ini. Tanpa peristiwa di desa kecil ini, mungkin tidak akan ada Malioboro atau Alun-alun yang kita kenal sekarang.

Perjalanan berlanjut ke Pajang, Makamhaji. Di sana, reruntuhan petilasan Kerajaan Pajang menyambut mereka dengan keheningan yang magis. Kedatangan rombongan disambut oleh Mbah Yasmin, sang juru kunci yang wajahnya menyimpan ribuan cerita tentang dinasti yang pernah berjaya di tanah Jawa.
Di bawah naungan pohon-pohon tua, mereka berbincang tentang silsilah dan bagaimana api perjuangan itu terus berpindah tangan hingga sampai ke generasi mereka.
Satu momen yang paling menggetarkan adalah saat seluruh rombongan setengah melingkar, menundukkan kepala dalam doa yang khusyuk. Di depan petilasan para leluhur, mereka bukan lagi sekadar pengurus organisasi, melainkan “anak cucu” yang sedang mengadu dan memohon restu.

“Kami titipkan doa ini untuk para leluhur, agar semangat mereka tidak hanya berhenti di buku sejarah, tapi mengalir di nadi kami. Semoga Allah SWT selalu memberi rahmat untuk tanah Mataram,” gumam Bang Monda.
Napak tilas ini memberikan pesan kuat: menjadi pemuda Jogja bukan cuma soal gaya, tapi soal menjaga amanah sejarah. Mereka pulang dengan satu misi baru, yaitu memastikan bahwa api Mataram tetap menyala di hati setiap pemuda kampung di Yogyakarta.
Karena seperti kata pepatah, “Orang yang kehilangan sejarahnya adalah orang yang kehilangan masa depannya.” (Rls)



















