KORAN MERAPI – Asosiasi Lintas Pariwisata Indonesia (APLPI) terus memperkuat inovasi destinasi wisata berbasis potensi lokal. Melalui diskusi daring yang digelar pada Sabtu (14/3/2026), APLPI mengangkat tema strategis: “Menelusuri Jejak Rempah Eksotis: Wisata Edukasi Cabai Jawa (Long Pepper)”.
Kegiatan ini menghadirkan narasumber Dr. (Can) Ariyanto, SE., MM., yang merupakan Direktur Bakpia Jogkem Grup sekaligus Pengawas Manajemen DPP APLPI. Dalam paparannya, Ariyanto menekankan pentingnya mengangkat kembali identitas Nusantara melalui literasi jalur rempah, khususnya komoditas Cabai Jawa (Piper retrofractum Vahl).
”Indonesia telah lama dikenal sebagai ‘Ibu Pertiwi’ bagi berbagai jenis rempah dunia. Namun, di balik dominasi lada hitam dan cengkih, ada permata tersembunyi yakni Cabai Jawa. Potensi ini bukan sekadar komoditas pertanian, melainkan modal kuat untuk wisata edukasi dan ekonomi kreatif,” ujar Ariyanto di hadapan peserta Zoom Meeting.
Dalam materinya, Ariyanto membedah empat tujuan utama program pengembangan Agrowisata Cabai Jawa, yaitu Revitalisasi Sejarah, disini mengenalkan kembali identitas Nusantara melalui jalur rempah.
Lalu Edukasi dan Konservasi dimana ada Transfer pengetahuan budidaya dan pelestarian plasma nutfah.
Kemudian Ekonomi Kreatif, yaitu Inovasi pengolahan produk turunan untuk pemberdayaan masyarakat lokal.
Selanjutnya Destinasi Berkelanjutan, ada membangun model wisata tematik dan memperkuat jejaring agrowisata.
Ia menjelaskan strategi monetisasi yang bisa diterapkan, mulai dari penjualan tiket paket edukasi (workshop dan bibit), penjualan produk turunan seperti bubuk Cabai Jawa premium, hingga kemitraan instansi untuk studi tur dan penelitian.
Diskusi yang berlangsung pukul 13.00 hingga 15.00 WIB ini diikuti dengan antusias oleh pengurus dan anggota APLPI dari berbagai tingkatan, mulai dari DPP, DPD, hingga DPC di seluruh Indonesia.
Terpantau hadir dalam daftar peserta antara lain perwakilan dari DPD APLPI Lampung, Jawa Tengah, Aceh, NTB, hingga tingkat kota seperti Semarang, Jepara, Rembang, dan Pringsewu.

Beberapa nama yang hadir di antaranya Muhamad Fazari (DPP APLPI), Edi Sapwanto, Dodi B Fathory, serta tokoh-tokoh daerah seperti Koestino (Lampung) dan M. Zamroni (Kota Semarang).
”Strategi pemasaran ke depan harus mencakup unique branding dan pemanfaatan pemasaran digital untuk menampilkan keindahan serta keunikan desa wisata budaya kita,” tambah Ariyanto yang juga aktif sebagai akademisi di Poltek “API” Yogyakarta tersebut.
Salah satu peserta dari Semarang, Antonius Sugianto (Gie), memberikan apresiasinya terhadap konsep agrowisata berbasis rempah ini.
”Konsep pengembangan Long Pepper ini sangat relevan untuk diterapkan di daerah. Kami melihat peluang besar untuk mengintegrasikan potensi pertanian rempah dengan sektor pariwisata melalui branding yang unik. Ini adalah langkah nyata dalam memperkuat jejaring agrowisata antarwilayah,” ungkap Antonius di sela-sela sesi tanya jawab.
Melalui kegiatan ini, APLPI berharap para pelaku pariwisata di daerah dapat segera mengadopsi konsep agrowisata rempah ini guna menciptakan daya tarik wisata yang berbeda dan memiliki nilai sejarah yang kuat. (Rls)



















