KORAN MERAPI – Suara pantulan bola seluloid yang beradu cepat dengan bat kayu memenuhi aula kantor BLPT di Jalan Kyai Mojo Yogyakarta. Selama tiga hari penuh, sejak 2 hingga 4 April 2026, tensi tinggi menyelimuti arena. Di bawah sorot lampu gedung, para atlet pelajar terbaik se-DIY bertarung habis-habisan demi gengsi daerah dalam gelaran Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) DIY 2026.
Hasilnya? Kontingen Kota Yogyakarta sukses menasbihkan diri sebagai penguasa meja pingpong. Dengan torehan empat medali emas dan satu medali perak, “Kota Gudeg” resmi menyandang gelar Juara Umum cabang olahraga tenis meja.

Kemenangan ini tidak didapat dengan mudah. Panitia pelaksana, Hendra Abimanyu, mengungkapkan bahwa persaingan tahun ini terasa jauh lebih “panas”. Hal ini dipicu oleh regulasi ketat yang membatasi tiap kabupaten/kota hanya boleh mengirimkan satu wakil di setiap nomor pertandingan.
“Karena hanya ada satu wakil per nomor, tiap atlet yang turun adalah yang terbaik dari daerahnya. Tidak ada ruang untuk santai; setiap pertandingan sejak awal terasa seperti babak final,” ujar Hendra di sela-sela penutupan acara.
Dominasi Kota Yogyakarta terlihat hampir di semua lini. Emas mengalir dari nomor Ganda Campuran, Ganda Putra, Tunggal Putra, hingga Tunggal Putri. Satu-satunya celah yang gagal ditembus adalah nomor Ganda Putri, yang secara dramatis berhasil direbut oleh kontingen Kabupaten Sleman.
Kualitas permainan yang tersaji memang berada di atas rata-rata level pelajar biasa. Berdasarkan pantauan di lapangan, banyak atlet yang berlaga di POPDA kali ini merupakan wajah-wajah familiar yang sebelumnya sempat “baku hantam” di ajang PORDA DIY 2025 di Gunungkidul tahun lalu.
Jam terbang yang tinggi membuat mental para pemain lebih stabil. Meskipun kemampuan teknis antar kabupaten/kota mulai merata, atlet-atlet Kota Yogyakarta diakui memiliki ketenangan dan variasi serangan yang lebih menonjol, sehingga mampu menyapu bersih mayoritas podium tertinggi.

Penutupan acara ditandai dengan prosesi pengalungan medali yang penuh haru. Berikut adalah klasemen akhir distribusi medali, yaitu Kota Yogyakarta dengan 4 emas dan 1 perak; Kabupaten Sleman dengan 1 emas, 3 perak dan 1 perunggu; Kabupaten Bantul dengan 1 perak dan 3 perunggu; dan Kabupaten Kulonprogo dengan 4 perunggu serta Kabupaten Gunungkidul dengan 2 perunggu.
Dengan hasil ini, Kota Yogyakarta kembali membuktikan pembinaan atlet usia dini mereka masih menjadi yang terbaik di DIY. Namun, bagi Sleman dan Bantul, raihan perak dan perunggu tahun ini menjadi sinyal kuat bahwa persaingan di tahun mendatang akan semakin sulit diprediksi. (Mty)



















