KORAN MERAPI – Melangkah masuk ke kawasan Rotowijayan, Kelurahan Kadipaten, Kemantren Kraton, wisatawan tidak hanya disambut oleh deretan bangunan bersejarah, tetapi juga oleh denyut nadi inovasi yang kental. Di bawah naungan semangat “Kadipaten Responsi,” kelurahan ini tengah bertransformasi menjadi kawasan yang melek digital namun tetap berpijak kuat pada pemberdayaan masyarakat lokal, namun juga berakar pada budaya dan tradisi. Gerbang premium masuk Kadipaten adalah Gapura di sisi barat Pagekaran Kraton. Selain itu ada pula Plengkung Jagasura, gerbang masuk dari Perempatan Gerjen dan Plengkung Jagabaya yakni Gapura di perempatan Tamansari. Memasuki Kadipaten, adalah masuk ke kawasan Njeron Beteng Kraton.
Dua pilar utama yang menjadi motor penggerak perubahan ini adalah Wis Kawentar dan Si Kumbang Mas. Keduanya bukan sekadar nama jargon, melainkan wujud nyata kolaborasi antara tradisi, teknologi, dan tangan dingin para penggerak wilayah.
Secara harfiah, Wis Kawentar adalah bahasa Jawa yang bermakna Sudah Termasyur, namun di sisi lain merupakan akronim dari Wisata Kadipaten Wahana Seni Ekonomi Kreatif Budaya dan Tradisi. Inovasi ini mengubah sudut-sudut kampung menjadi anjungan wisata yang hidup. Namun, kekuatan utamanya bukan hanya pada estetika, melainkan pada ekosistemnya. Kampung Ngasem, Kampung Kadipaten Wetan, Kampung Kadipaten Kulon, dan Kampug Kadipaten Kidul bergerak dinamis mengokohkan eni, budaya dan tradisi yang sudah menjiwai masyarakatnya.
“Meningkatnya pendapatan masyarakat dirasakan oleh seluruh warga Kadipaten yang bergelut di sector UMKM dan Pariwisata. Stakeholder berperan aktif sesuai tupoksinya masing-masing,” ujar Pinituwa Tuwanggana Kadipaten, Haryawan Emir Nuswantoro, didampingi Lurah Kadipaten Suparman, S.Sos. saat ditemui jurnalis koranmerapi.id di Kantor Tuwanggana Kelurahan Kadipaten, Rabu (15/4/26) pagi.

Di Kadipaten, pariwisata adalah kerja keroyokan. Pokdarwis dan Kampung Wisata bertindak sebagai pengelola, sementara Forum UMKM mengisi rantai ekonomi. Bahkan, isu lingkungan dan ketangguhan bencana pun diselipkan melalui Forum Bank Sampah, Kampung Panca Tertib mengelola isu Tertib Lingkungan Bangunan Damija Usaha serta Tertib Sosial, hingga Kampung Tangguh Bencana (KTB). Tak ketinggalan, kelompok rentan seperti Paguyuban Lansia dan PKK RW hingga RT pun dilibatkan untuk memastikan kesejahteraan menyentuh seluruh lapisan warga. Anak muda Kadipaten yang tergabung Karang Taruna Kadipaten pun tak ketinggaan berperan di Rintisan Kelurahan Budaya dan aktifitas kesejahteraan sosial.
Jika Wis Kawentar menyentuh sisi ekonomi kreatif budaya pariwisata, maka Si Kumbang Mas (Sistem Informasi Kolaborasi Usulan Pembangunan Masyarakat) merevolusi cara warga berpartisipasi dalam pembangunan agar lebih partiipatif. Warga masyarakat diberi kebebasan menyampaikan usulan pembangunan, tidak membedakan latar belakang social, ekonomi, pendidikan maupun usia.
Berangkat dari ide segar Pemuda Pelopor Kota Yogya, Fahmi Reza Prasastio, S. Kom, MCs, AI, usulan Musrenbang yang dulunya identik dengan tumpukan kertas kini beralih ke ranah digital. Melalui platform berbasis Google Form yang mudah diakses, warga dapat menyampaikan aspirasi pembangunan secara CERDAS (cepat responsive, digital, transparan).
Digitalisasi ini membuktikan bahwa Kelurahan Kadipaten tidak gagap teknologi. Dengan dukungan dari tokoh-tokoh muda dan pendampingan dari Ketua Komisi B DPRD Kota Yogyakarta Ir. Muh. Sofyan, proses perencanaan wilayah kini menjadi lebih akuntabel dan efisien.
Inovasi tidak berhenti di situ. Di sudut Kantor Kelurahan, terdapat Rimba Kadipaten, sebuah ruang interaksi yang memanfaatkan aset ruangan secara optimal untuk sekretariat kepanitiaan maupun kegiatan lembaga masyarakat. Lembaga dan Masyarakat bisa memanfaatkan untuk kegiatan insidental maupun pertemuan rutin.
Warga juga didorong untuk memanfaatkan lahan sempit melalui program Lampitbuaya (Lahan Sempit untuk Budidaya Tanaman Lidah Buaya). Hasil kolaborasi Pokdarwis dan Kelompok Tani Kencana Asri & Naga Asri ini memberikan nilai ekonomis tambahan bagi pekarangan warga yang terbatas di area perkotaan. Lidah buaya diolah menjadi minuman dan sabun kecantikan.
Bahkan, bagi warga yang sedang beraktivitas di kelurahan, tersedia Pojok Ngopi, fasilitas minum kopi dan teh gratis sebagai bentuk pelayanan yang humanis dari Tuwanggana dan pihak Kelurahan.
Melalui kanal informasi DeWA IMuT (WhatsApp Informasi Mudah Tersampaikan), setiap perkembangan pembangunan didistribusikan secara real-time kepada warga sejak tahun 2020.
Kelurahan Kadipaten kini bukan lagi sekadar wilayah administratif yang berdampingan dengan bangunan heritage Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, melainkan sebuah laboratorium sosial di mana teknologi digital dan gotong royong warga bertemu untuk menciptakan kesejahteraan yang berkelanjutan.
“Kami ingin inovasi ini bukan sekadar tren, tapi menjadi budaya kerja yang meningkatkan kualitas hidup setiap warga Kadipaten,” pungkas Haryawan Emir Nuswantoro, SS, SE Pinituwa Tuwanggana Kadipaten yang sehari-hari aktif berbisnis dan aktif di KADIN (Kamar Dagang dan Industri dan HIPPI (Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia). (Ags)



















