KORAN MERAPI – Pemerintah Kota Yogyakarta menegaskan komitmennya untuk mentransformasi pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) agar tidak sekadar bertambah secara kuantitas, namun benar-benar “naik kelas” melalui penguasaan pasar dan produksi. Hal ini disampaikan oleh Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, saat membuka agenda Workshop Nasional Business Blueprint: Smart Branding & Smart Funding yang diinisiasi oleh Gerakan Entrepreneur Masyarakat Maju (GEMMA) Indonesia Raya di Hotel Arkadewi Boutique, Kamis (23/4/26).
Dalam kesempatan yang sama, dilaksanakan pula prosesi khidmat pengukuhan dan pelantikan Dewi Wahyu Cakraningrat sebagai Ketua DPC GEMMA Yogyakarta masa bakti 2026-2029 oleh Ketua Umum GEMMA Indonesia Raya, Sri Setiawati.

Dalam arahannya, Wali Kota Hasto Wardoyo menyoroti kelemahan mendasar UMKM yang kerap belum memiliki sistem kuat untuk menguasai pasar lokal. Ia menekankan pentingnya perubahan ideologi berpikir dari sekadar berproduksi menjadi penguasa pasar.
“Blueprint kita harus bicara kerangka pikir ideologi. Organisasi seperti GEMMA dan dinas pembina harus terus menanamkan konsep penguasaan pasar dan produksi. Fokus kita bukan menambah jumlah UMKM, tapi meningkatkan kualitas dan pendapatan agar mereka benar-benar naik kelas,” tegas Hasto.
Sebagai contoh nyata, Pemkot Yogyakarta telah mengimplementasikan kebijakan penggunaan batik “Segoro Amarto Reborn” sebagai seragam wajib bagi sekitar 6.500 ASN, yang produksinya dikelola langsung oleh UMKM melalui Koperasi Merah Putih di tingkat kelurahan.
Kepala Bidang Usaha Mikro Kecil Dinas Perindustrian Koperasi dan UKM Kota Yogyakarta, Bebasari Sitarini, menambahkan bahwa saat ini tercatat 6.835 UMKM terverifikasi di Kota Yogyakarta, dengan target pendataan mencapai 36.000 melalui sistem Sibakul.
“Branding adalah kunci agar UMKM kita bisa go global. Kami bersinergi dengan pihak swasta dan organisasi seperti GEMMA untuk memastikan kontinuitas dan daya saing produk UMKM di sektor kuliner, fesyen, hingga kerajinan,” ujar Sita.
Ketua Umum GEMMA Indonesia Raya, Sri Setiawati, menyatakan kesiapannya untuk membersamai para pelaku usaha, termasuk kelompok rentan seperti perempuan, lansia, dan disabilitas. “Kami membawa program kolaboratif dengan berbagai kementerian untuk disinergikan di Yogyakarta melalui konsep smart branding dan smart funding,” tuturnya.
Usai dilantik sebagai Ketua DPC GEMMA Yogyakarta 2026-2029, Dewi Wahyu Cakraningrat dalam pidato perdana menekankan bahwa amanah ini adalah tanggung jawab besar untuk membawa organisasi menjadi lebih solid dan profesional.

“Kami akan fokus pada penguatan kapasitas anggota, pengembangan kewirausahaan berbasis potensi lokal, serta pemberdayaan perempuan dan generasi muda. Kami ingin GEMMA menjadi organisasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Yogyakarta melalui kolaborasi dengan pemerintah dan dunia usaha,” ucap Dewi dengan optimis.
Acara ini menandai babak baru bagi ekosistem kewirausahaan di Yogyakarta, di mana sinergi antara kebijakan pemerintah dan gerakan masyarakat diharapkan mampu menciptakan iklim ekonomi yang inklusif atau yang disebut Wali Kota Hasto sebagai “Kapitalisme Kanan Bawah”, di mana modal dan kesejahteraan dikuasai oleh rakyat banyak melalui koperasi dan UMKM. (Ags)

















