KORAN MERAPI – Gelaran Jogja10K 2026 yang berlangsung pada Minggu (3/5/26) pagi ini tidak sekadar menjadi ajang adu kecepatan bagi ribuan pelari. Di antara derap langkah peserta, terselip kisah inspiratif tentang perjuangan, kasih sayang, dan pembuktian bahwa keterbatasan fisik bukanlah akhir dari segalanya.
Alfa Pratomo (47), seorang penyintas stroke pendarahan otak, berdiri tegak di garis start dengan semangat yang membara. Bagi Alfa, lari bukan sekadar hobi yang ia tekuni sejak 2012, melainkan sebuah simbol kebangkitan.

Enam tahun lalu, hidup Alfa berubah drastis setelah serangan stroke membuatnya terbaring di ICU: selama 3 Minggu dan harus hidup dengan kelumpuhan. Ingatan saat ia hanya bisa duduk di kursi roda masih membekas jelas. “Saat di kursi roda, saya sempat berpikir, mungkinkah saya bisa berlari lagi?” kenangnya.
Namun, berkat dukungan penuh dari istri dan sahabat, Alfa memilih untuk melawan takdir. Hanya dalam tiga bulan setelah serangan, ia memulai perjuangan pemulihan dari kursi roda, beralih ke tongkat, hingga akhirnya mulai memberanikan diri berjalan cepat.
Perjalanan comeback-nya dimulai pada 2023 di Mangkunegaran Run Solo, berlanjut ke Borobudur Marathon 2024, hingga menyelesaikan half marathon di Jakarta Marathon 2025. Kini, di Jogja10K, ia kembali menambah koleksi medali sebagai bukti nyata pemulihannya. “Jogja10K adalah medali keenam kategori 10k saya setelah pulih dari stroke. Saya ingin membangun optimisme kepada sesama penyintas stroke lumpuh bahwa kita bisa pulih. Kelumpuhan bukan akhir dari segalanya,” tegas Alfa.
Semangat Alfa ternyata menular kepada sang ayah, Alex Purno Murdoko (75). Pria yang berdomisili di Yogyakarta ini turut serta dalam gelaran Jogja10K, bukan tanpa alasan. Sebagai penyintas diabetes, Alex menjadikan olahraga sebagai “obat” utamanya.
“Dengan olahraga, khususnya kardio, saya bisa menurunkan dan menstabilkan gula darah,” ujar Alex. Meski usianya telah memasuki angka 75 tahun, Alex sangat sadar akan batasan fisiknya. Ia memilih untuk melakukan powerwalk (jalan cepat) alih-alih berlari demi menjaga lutut agar tetap aman.
Alex mengaku, motivasi terbesarnya untuk ikut serta dalam berbagai ajang lari adalah sang anak, Alfa. “Saya diajari Alfa bagaimana ikut event lari agar bisa finish dengan aman. Saya sangat menjaga heart rate saya agar tidak lebih dari 140 atau maksimal 80% dari HRmax,” jelasnya.

Di ajang Jogja10K kali ini, Alex turun di kategori 5km, yang merupakan ajang keempat baginya. Baginya, kegiatan ini adalah bentuk dukungan nyata bagi sang anak sekaligus cara menjaga kualitas hidup di masa lansia. Selain itu memotivasi masyarakat agar jangan malas bergerak.
Kisah Alfa dan Pak Alex di Jogja10K 2026 menjadi pengingat bagi kita semua. Bahwa di balik setiap medali yang dikalungkan, ada perjuangan melawan keterbatasan, disiplin yang ketat, dan kasih sayang yang saling menguatkan. Mereka membuktikan bahwa dengan optimisme, usia maupun kondisi fisik bukanlah penghalang untuk terus melangkah. (Ags)




















