KORAN MERAPI – Kolaboasi lintas sektor di Jakarta Timur membuahkan hasil nyata dalam menuntaskan persoalan anak tidak sekolah (ATS). Sebanyak 75 anak putus sekolah di wilayah Kecamatan Duren Sawit, termasuk 11 anak berkebutuhan khusus (ABK), resmi kembali mendapatkan akses pendidikan cuma-cuma melalui program intervensi terpadu berbasis gotong royong.
Kepastian pemenuhan hak pendidikan tersebut ditandai dengan penyerahan bantuan perlengkapan sekolah, buku pelajaran, hingga kartu transportasi harian di Gelanggang Remaja Duren Sawit, Jalan Balai Rakyat, Jakarta Timur, Jumat, 28 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Sekretaris Kota Administrasi Jakarta Timur Eka Darmawan, Camat Duren Sawit Kelik Sutanto, jajaran Lurah se-Kecamatan Duren Sawit, Bunda PAUD Jakarta Timur Essie Feransie Munjirin, Bunda PAUD Duren Sawit, serta seluruh Bunda PAUD Kelurahan se-Kecamatan Duren Sawit.
Turut hadir tiga anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi DKI Jakarta, yakni Mohamad Ongen Sangaji, Justin Adrian Untayana, dan Alia Noorayu Laksono.
Dalam paparannya yang disertai pemutaran video dokumentasi kegiatan, Kepala Satuan Pelaksana (Satlak) Pendidikan Kecamatan Duren Sawit, Farida Farhah, menjelaskan langkah akselerasi pengentasan anak putus sekolah yang bermula dari verifikasi faktual lapangan.

Farida mengungkapkan, data awal Kementerian Pendidikan mencatat 3.080 anak berstatus ATS di wilayah Duren Sawit. Menindaklanjuti angka tersebut, pihaknya menggandeng Kepala Seksi Kesra dari tujuh kelurahan serta kader Dasawisma untuk melakukan penyisiran door-to-door.
“Sebagian besar data awal terbukti merupakan anomali karena warga telah pindah domisili ke luar Jakarta, menikah, meninggal dunia, atau alamatnya sudah tidak ditemukan. Dari hasil verifikasi faktual, kami menjaring 105 anak riil,” ujar Farida.
Dari 105 anak tersebut, kata Farida, sebanyak 75 anak menyatakan tekad kuat untuk kembali bersekolah. Adapun 30 anak lainnya terkendala pekerjaan sebagai buruh bangunan berpindah-pindah serta faktor pernikahan usia dini.
“Sebanyak 64 anak non-disabilitas kami fasilitasi bersekolah gratis di PKBM Golden dengan model pembelajaran hybrid, memanfaatkan Aula Pusat Kegiatan Guru (PKG) di Kantor Satlak. Sementara bagi 11 anak berkebutuhan khusus, kami distribusikan ke enam SLB swasta karena SLB Negeri kuotanya terbatas,” jelas Farida.
Guna mengatasi kendala biaya masuk SLB swasta sebelum Data Pokok Pendidikan (Dapodik) dan KJP aktif, Farida menggalang skema orang tua asuh kolaboratif yang didanai secara patungan oleh Camat, tujuh Lurah, dan tiga tokoh masyarakat.
Sekretaris Kota Jakarta Timur, Eka Darmawan, memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif terintegrasi yang digagas di tingkat kecamatan ini.
“Pemerintah Kota Jakarta Timur sangat mengapresiasi langkah konkret Satlak Pendidikan Duren Sawit bersama seluruh unsur kewilayahan. Mengembalikan anak ke sekolah bukan hanya tugas dinas pendidikan, melainkan panggilan nurani kita bersama. Kolaborasi ini adalah teladan nyata bahwa tidak boleh ada satupun anak di Jakarta yang kehilangan masa depannya karena kendala biaya maupun disabilitas,” tutur Eka.
Apresiasi serupa disampaikan oleh Bunda PAUD Jakarta Timur, Essie Feransie Munjirin, yang menekankan pentingnya lingkungan belajar yang ramah dan inklusif.
“Pendidikan adalah hak fundamental setiap anak. Keberhasilan merangkul kembali 75 anak ini, khususnya belasan penyandang disabilitas, menunjukkan betapa kuatnya peran keluarga, para Bunda PAUD, dan kader Dasawisma saat bergerak bersama dengan penuh kepedulian,” ucap Essie.
Dukungan politik dan pengawasan anggaran turut disuarakan oleh para legislator Kebon Sirih yang hadir. Anggota DPRD DKI Jakarta, Mohamad Ongen Sangaji, menegaskan komitmen legislatif untuk terus mengawal keberlanjutan program penanganan ATS.
“Kami di legislatif melihat langkah terpadu Duren Sawit ini sebagai terobosan luar biasa. Pemutakhiran data secara langsung ke lapangan terbukti mampu memotong distorsi birokrasi. Model orang tua asuh dan sinergi lintas dinas seperti ini patut direplikasi di seluruh wilayah DKI Jakarta dan kami siap mendukung penuh dari sisi regulasi serta alokasi anggaran daerah,” tegas Ongen.
Sementara itu, Justin Adrian dan Alia Noorayu Laksono turut memuji pembekalan praktis yang diberikan saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), seperti pelatihan wirausaha minuman kekinian disertai hibah blender dari Dinas KPKP, sosialisasi antiperundungan dari Satpol PP, edukasi sampah dari Dinas LH, hingga pemeriksaan psikologis oleh Puskesmas dan Dinas PPAPP.
Selain menanggung biaya pendidikan, sinergi ini melengkapi kebutuhan operasional siswa secara utuh. BAZNAS (BAZIS) menyerahkan paket perlengkapan sekolah, TP-PKK menyalurkan buku pelajaran, dan tokoh masyarakat memfasilitasi kartu JakLingko untuk transportasi harian.
Pemerintah Kecamatan Duren Sawit bersama Satlak Pendidikan memastikan bahwa pendampingan akan berlangsung berkelanjutan melalui evaluasi bulanan bersama PKBM dan SLB guna memonitor tingkat kehadiran serta capaian akademik siswa. (Rls)




















