KORAN MERAPI – Kelurahan Pringgokusuman, Kemantren Gedongtengen, Kota Yogyakarta merupakan salah satu wilayah yang memiliki posisi penting dalam lanskap Kota Yogyakarta.
Kelurahan ini menjadi bagian dari kawasan penyangga sumbu filosofis Yogyakarta, sekaligus berada di titik strategis antara Stasiun Tugu dan kawasan Malioboro.
Letak tersebut membuat Kampung Notoyudan Kelurahan Pringgokusuman tumbuh sebagai ruang kampung kota yang dinamis. Di satu sisi, wilayah ini berada dekat dengan pusat pergerakan wisata dan transportasi. Disisi lain, kehidupan masyarakatnya tetap kuat dengan identitas kampung, aktivitas seni, dan tradisi yang dijaga secara turun-temurun.
Kawasan Kampung Notoyudan Kelurahan Pringgokusuman juga memiliki potensi ekonomi yang terus berkembang. Banyak usaha homestay, persewaan kendaraan bermotor, kuliner, dan jasa pendukung wisata tumbuh subur sebagai sumber penghidupan warga. Keberadaan Kampung Kuliner Pringgokusman dan Kampung Wisata Seni Budaya turut memperkuat wajah Pringgokusuman sebagai kawasan yang menghubungkan aktivitas ekonomi, pariwisata, dan kebudayaan masyarakat.
Di tengah geliat ekonomi tersebut, Pringgokusuman khususnya Kampung Notoyudan juga terus merawat kekuatan seni-budaya lokal.
Dukungan Dana Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta hadir untuk menguatkan berbagai kegiatan kebudayaan masyarakat, mulai dari bergada, barongsay, jatilan, Karawitan Anak dan Dewasa dan tersedia Gamelan Laras slendro dan Pelog.
Salah satu identitas budaya yang menonjol dari wilayah ini adalah Bergada Notoyudo. Kelompok seni keprajuritan rakyat bergaya Mataram ini tumbuh dari Kampung Wisata Sumonggo Pringgo yang berkedudukan di kampung Notoyudan, Kemantenan, Gedongtengen, Kota Yogyakarta. Keberadaannya menjadi wujud nyata bagaimana tradisi keprajuritan Jawa tetap hidup di tengah masyarakat kampung kota.
Nama Notoyudo memiliki makna yang dekat dengan karakter masyarakat setempat. “Noto” merujuk pada Arti di wilayah Menata/Baris atau Siapsiaga. Sementara “Yudo” mengandung Maksud Prajurit, Notoyudo mengandung maksud Menata Barisan ataupun kesiapsiagaan warga. Makna ini menggambarkan masyarakat yang siap bergerak bersama, menjaga lingkungan, memperkuat gotong royong, serta merawat tradisi sebagai bagian dari identitas kampung.
Sebagai kelompok bergada rakyat, Bergada NOTOYUDO lahir dan bergerak dari prakarsa masyarakat Kampung Notoyudan pada 19 Oktober 2016, sebagai Ketua Suroto dan Pembina dari 2 Personil Anggota Prajurit Kraton Ngayogyokarto dari Bregodo Nyutra mulai dari berbaris hingga memainkan alat Musik (ungel-ungel) dengan Swadaya Murni Masyarakat. Kelompok ini berbeda dengan bergada keraton atau prajurit resmi istana. Bergada rakyat tumbuh dari ruang sosial warga, digerakkan oleh semangat kebersamaan, dan menjadi sarana untuk menghidupkan kembali nilai keprajuritan Mataram dalam bentuk seni pertunjukan, kirab budaya, dan kegiatan kampung. Dan sudah Masuk even Tahunan di Kegiatan Jenang Suran, dan Merti Kali di wilayah Kelurahan Pringgokusuman Kemantren Gedongtengen.
Dalam setiap penampilan, Bergada Notoyudo menghadirkan unsur tata baris, kostum, musik, aba-aba, dan formasi yang khas. Barisan biasanya diawali oleh manggala atau panji sebagai pemimpin pasukan, disusul pembawa bendera, korps ungel-ungel atau pemusik, serta prajurit jajar yang membawa perlengkapan seperti tombak maupun replika senjata kayu.
Korps musik pengiring menjadi bagian penting dalam penampilan bergada. Instrumen seperti tambur, suling miring, bendhe, kecer, simbal, dan slompret digunakan untuk mengatur irama langkah pasukan. Dari irama tersebut, para anggota dapat bergerak dalam lampah macak yang pelan, anggun, dan berwibawa, maupun lampah rikat yang lebih cepat seperti gerak mars keprajuritan.
Keunikan lain Bergada Notoyudo terlihat dari penggunaan aba-aba berbahasa Jawa. Komando seperti “Siyaga yitna… gya”, “Tindak… gya”, “Kendel… gya”, dan “Mulyani… gya” menjadi bagian dari tata
keprajuritan rakyat yang membedakannya dari baris-berbaris modern. Bahasa Jawa dalam hal ini tidak hanya menjadi alat perintah, tetapi juga penanda nilai, rasa, dan identitas budaya.
Bagi Kampung Wisata Sumonggo Pringgo Kelurahan Pringgokusuman, keberadaan Bergada Notoyudo memiliki peran yang penting. Kelompok ini menjadi atraksi budaya untuk menyambut wisatawan, mengawal kirab, memeriahkan upacara adat, Jenang Suran, Merti Kali, pawai kemerdekaan, maupun kegiatan budaya lain di wilayah Kelurahan Pringgokusan Kemantren Gedongtengen Kota Yogyakarta. Latihan dan pementasan yang dilakukan secara berkala juga menjadi ruang pertemuan warga lintas usia, sehingga tradisi dapat diwariskan secara langsung melalui keterlibatan masyarakat.
Dukungan Dana Keistimewaan memberi penguatan bagi keberlanjutan kegiatan kebudayaan tersebut. Melalui urusan kebudayaan, Danais dapat mendukung kebutuhan bergada, antara lain untuk pengadaan dan perawatan kostum, atribut, alat musik ungel-ungel, perlengkapan kirab, pelatihan, serta partisipasi dalam festival budaya. Dengan dukungan tersebut, pelestarian tradisi tidak hanya bertumpu pada swadaya warga, tetapi juga memperoleh penguatan kelembagaan yang lebih terarah.
Bergada Notoyudo juga telah menunjukkan kualitasnya dalam ekosistem festival budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta. Keseragaman formasi, kedisiplinan baris-berbaris, kekompakan pasukan, serta kekhasan kostum membuat kelompok ini dikenal sebagai salah satu bergada rakyat yang memiliki daya tarik. Salah satu capaian yang sering Tampil di acara Merti Kali dan Genduri Jenang Suran Tiap Tahun.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa tradisi yang tumbuh dari kampung dapat menjadi kebanggaan bersama. Dari Kampung Notoyudan Kelurahan Pringgokusuman Kemantren Gedongtengen Kota Yogyakarta, Bergada Notoyudo membawa pesan bahwa kebudayaan tidak hanya hidup dalam ruang seremoni besar, tetapi juga dalam latihan warga, musyawarah kampung, kirab di jalanan, serta keterlibatan masyarakat yang menjaganya dengan konsisten.
Ke depan, keberadaan Bergada Notoyudo dapat semakin dipadukan dengan potensi ekonomi dan pariwisata Pringgokusuman. Posisi wilayah yang dekat dengan Stasiun Tugu dan Malioboro, tumbuhnya homestay dan hotel-hotel serta berkembangnya kampung kuliner dan kampung wisata seni menjadi modal penting untuk membangun paket wisata berbasis budaya kampung.
Dengan kekuatan tersebut, Kelurahan Pringgokusuman memiliki peluang untuk memperkuat diri sebagai kelurahan penyangga sumbu filosofis yang tidak hanya strategis secara lokasi, tetapi juga kuat secara identitas. Bergada Notoyudo menjadi salah satu penandanya: warga yang siyogo menjaga tradisi, siyogo memperkuat gotong royong, dan siyogo menjadikan budaya sebagai bagian dari ketahanan sosial serta ekonomi kampung. (*)




















