Sabtu, 5 September 2026
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan
  • Redaksi
  • Kontak
  • Login
  • Register
Koran Merapi
Advertisement
  • Home
  • News
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Ekbis
  • Olahraga
  • Kesehatan
  • Wisata
  • Kuliner
  • Budaya
  • Opini
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Ekbis
  • Olahraga
  • Kesehatan
  • Wisata
  • Kuliner
  • Budaya
  • Opini
No Result
View All Result
Koran Merapi
No Result
View All Result
Home Opini

Bergada Notoyudo: Kesiapsiagaan Warga Menjaga Tradisi Kampung Notoyudan Kelurahan Pringgokusuman

Oleh: Y Tomy Pramono

admin by admin
5 September 2026
in Opini
0
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

KORAN MERAPI – Kelurahan Pringgokusuman, Kemantren Gedongtengen, Kota Yogyakarta merupakan salah satu wilayah yang memiliki posisi penting dalam lanskap Kota Yogyakarta.

Kelurahan ini menjadi bagian dari kawasan penyangga sumbu filosofis Yogyakarta, sekaligus berada di titik strategis antara Stasiun Tugu dan kawasan Malioboro.

Letak tersebut membuat Kampung Notoyudan Kelurahan Pringgokusuman tumbuh sebagai ruang kampung kota yang dinamis. Di satu sisi, wilayah ini berada dekat dengan pusat pergerakan wisata dan transportasi. Disisi lain, kehidupan masyarakatnya tetap kuat dengan identitas kampung, aktivitas seni, dan tradisi yang dijaga secara turun-temurun.

Kawasan Kampung Notoyudan Kelurahan Pringgokusuman juga memiliki potensi ekonomi yang terus berkembang. Banyak usaha homestay, persewaan kendaraan bermotor, kuliner, dan jasa pendukung wisata tumbuh subur sebagai sumber penghidupan warga. Keberadaan Kampung Kuliner Pringgokusman dan Kampung Wisata Seni Budaya turut memperkuat wajah Pringgokusuman sebagai kawasan yang menghubungkan aktivitas ekonomi, pariwisata, dan kebudayaan masyarakat.

Di tengah geliat ekonomi tersebut, Pringgokusuman khususnya Kampung Notoyudan juga terus merawat kekuatan seni-budaya lokal.

Dukungan Dana Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta hadir untuk menguatkan berbagai kegiatan kebudayaan masyarakat, mulai dari bergada, barongsay, jatilan, Karawitan Anak dan Dewasa dan tersedia Gamelan Laras slendro dan Pelog.

Salah satu identitas budaya yang menonjol dari wilayah ini adalah Bergada Notoyudo. Kelompok seni keprajuritan rakyat bergaya Mataram ini tumbuh dari Kampung Wisata Sumonggo Pringgo yang berkedudukan di kampung Notoyudan, Kemantenan, Gedongtengen, Kota Yogyakarta. Keberadaannya menjadi wujud nyata bagaimana tradisi keprajuritan Jawa tetap hidup di tengah masyarakat kampung kota.

Nama Notoyudo memiliki makna yang dekat dengan karakter masyarakat setempat. “Noto” merujuk pada Arti di wilayah Menata/Baris atau Siapsiaga. Sementara “Yudo” mengandung Maksud Prajurit, Notoyudo mengandung maksud Menata Barisan ataupun kesiapsiagaan warga. Makna ini menggambarkan masyarakat yang siap bergerak bersama, menjaga lingkungan, memperkuat gotong royong, serta merawat tradisi sebagai bagian dari identitas kampung.

Sebagai kelompok bergada rakyat, Bergada NOTOYUDO lahir dan bergerak dari prakarsa masyarakat Kampung Notoyudan pada 19 Oktober 2016, sebagai Ketua Suroto dan Pembina dari 2 Personil Anggota Prajurit Kraton Ngayogyokarto dari Bregodo Nyutra mulai dari berbaris hingga memainkan alat Musik (ungel-ungel) dengan Swadaya Murni Masyarakat. Kelompok ini berbeda dengan bergada keraton atau prajurit resmi istana. Bergada rakyat tumbuh dari ruang sosial warga, digerakkan oleh semangat kebersamaan, dan menjadi sarana untuk menghidupkan kembali nilai keprajuritan Mataram dalam bentuk seni pertunjukan, kirab budaya, dan kegiatan kampung. Dan sudah Masuk even Tahunan di Kegiatan Jenang Suran, dan Merti Kali di wilayah Kelurahan Pringgokusuman Kemantren Gedongtengen.

Dalam setiap penampilan, Bergada Notoyudo menghadirkan unsur tata baris, kostum, musik, aba-aba, dan formasi yang khas. Barisan biasanya diawali oleh manggala atau panji sebagai pemimpin pasukan, disusul pembawa bendera, korps ungel-ungel atau pemusik, serta prajurit jajar yang membawa perlengkapan seperti tombak maupun replika senjata kayu.

Korps musik pengiring menjadi bagian penting dalam penampilan bergada. Instrumen seperti tambur, suling miring, bendhe, kecer, simbal, dan slompret digunakan untuk mengatur irama langkah pasukan. Dari irama tersebut, para anggota dapat bergerak dalam lampah macak yang pelan, anggun, dan berwibawa, maupun lampah rikat yang lebih cepat seperti gerak mars keprajuritan.

Keunikan lain Bergada Notoyudo terlihat dari penggunaan aba-aba berbahasa Jawa. Komando seperti “Siyaga yitna… gya”, “Tindak… gya”, “Kendel… gya”, dan “Mulyani… gya” menjadi bagian dari tata

keprajuritan rakyat yang membedakannya dari baris-berbaris modern. Bahasa Jawa dalam hal ini tidak hanya menjadi alat perintah, tetapi juga penanda nilai, rasa, dan identitas budaya.

Bagi Kampung Wisata Sumonggo Pringgo Kelurahan Pringgokusuman, keberadaan Bergada Notoyudo memiliki peran yang penting. Kelompok ini menjadi atraksi budaya untuk menyambut wisatawan, mengawal kirab, memeriahkan upacara adat, Jenang Suran, Merti Kali, pawai kemerdekaan, maupun kegiatan budaya lain di wilayah Kelurahan Pringgokusan Kemantren Gedongtengen Kota Yogyakarta. Latihan dan pementasan yang dilakukan secara berkala juga menjadi ruang pertemuan warga lintas usia, sehingga tradisi dapat diwariskan secara langsung melalui keterlibatan masyarakat.

Dukungan Dana Keistimewaan memberi penguatan bagi keberlanjutan kegiatan kebudayaan tersebut. Melalui urusan kebudayaan, Danais dapat mendukung kebutuhan bergada, antara lain untuk pengadaan dan perawatan kostum, atribut, alat musik ungel-ungel, perlengkapan kirab, pelatihan, serta partisipasi dalam festival budaya. Dengan dukungan tersebut, pelestarian tradisi tidak hanya bertumpu pada swadaya warga, tetapi juga memperoleh penguatan kelembagaan yang lebih terarah.

Bergada Notoyudo juga telah menunjukkan kualitasnya dalam ekosistem festival budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta. Keseragaman formasi, kedisiplinan baris-berbaris, kekompakan pasukan, serta kekhasan kostum membuat kelompok ini dikenal sebagai salah satu bergada rakyat yang memiliki daya tarik. Salah satu capaian yang sering Tampil di acara Merti Kali dan Genduri Jenang Suran Tiap Tahun.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa tradisi yang tumbuh dari kampung dapat menjadi kebanggaan bersama. Dari Kampung Notoyudan Kelurahan Pringgokusuman Kemantren Gedongtengen Kota Yogyakarta, Bergada Notoyudo membawa pesan bahwa kebudayaan tidak hanya hidup dalam ruang seremoni besar, tetapi juga dalam latihan warga, musyawarah kampung, kirab di jalanan, serta keterlibatan masyarakat yang menjaganya dengan konsisten.

Ke depan, keberadaan Bergada Notoyudo dapat semakin dipadukan dengan potensi ekonomi dan pariwisata Pringgokusuman. Posisi wilayah yang dekat dengan Stasiun Tugu dan Malioboro, tumbuhnya homestay dan hotel-hotel serta berkembangnya kampung kuliner dan kampung wisata seni menjadi modal penting untuk membangun paket wisata berbasis budaya kampung.

Dengan kekuatan tersebut, Kelurahan Pringgokusuman memiliki peluang untuk memperkuat diri sebagai kelurahan penyangga sumbu filosofis yang tidak hanya strategis secara lokasi, tetapi juga kuat secara identitas. Bergada Notoyudo menjadi salah satu penandanya: warga yang siyogo menjaga tradisi, siyogo memperkuat gotong royong, dan siyogo menjadikan budaya sebagai bagian dari ketahanan sosial serta ekonomi kampung. (*)

Tags: Bergada NotoyudoKoranmerapi.idKota YogyakartaPringgokusumanSumbu Filosofi

Related Posts

Kapan Terakhir ke Pasar?
Opini

Kapan Terakhir ke Pasar?

31 Agustus 2026
Paradoks Kebun Sawit: Terbesar di Dunia, Tapi Berlutut pada Harga Global
Opini

Paradoks Kebun Sawit: Terbesar di Dunia, Tapi Berlutut pada Harga Global

29 Agustus 2026
Menanam Kebaikan Selagi Sempat
Opini

Menanam Kebaikan Selagi Sempat

23 Agustus 2026
Merdeka dari Kecemasan, Menatap Indonesia dengan Harapan
Opini

Merdeka dari Kecemasan, Menatap Indonesia dengan Harapan

16 Agustus 2026
UMKM Berbudaya, Pelaku Usaha Sejahtera: Fondasi Bangsa Berdaya
Opini

UMKM Berbudaya, Pelaku Usaha Sejahtera: Fondasi Bangsa Berdaya

30 Juli 2026
Jalan Panjang Kemandirian Pers Kita
Opini

Jalan Panjang Kemandirian Pers Kita

23 Juli 2026

Stay Connected

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Penutupan Plengkung Nirboyo (Plengkung Gading) untuk Konservasi dan Keselamatan

Penutupan Plengkung Nirboyo (Plengkung Gading) untuk Konservasi dan Keselamatan

15 Maret 2025
Bukber Alumni SMPN 1 Jogja Tahun 1983: Ayo Reuni & Bernostalgia!

Bukber Alumni SMPN 1 Jogja Tahun 1983: Ayo Reuni & Bernostalgia!

15 Maret 2025
Mematahkan Stigma, Penyintas Stroke Lumpuh dan Dokternya Berlari Bersama di Bethesda Heritage Run 2026: “Stroke Bukan Akhir Segalanya”

Mematahkan Stigma, Penyintas Stroke Lumpuh dan Dokternya Berlari Bersama di Bethesda Heritage Run 2026: “Stroke Bukan Akhir Segalanya”

17 Mei 2026
Retno Soetarto : Dunia Hiburan dapat Memberikan Manfaat Dalam Hidupnya.

Retno Soetarto : Dunia Hiburan dapat Memberikan Manfaat Dalam Hidupnya.

18 April 2024
Di Hadapan Delegasi Asia, Mujab Paparkan Aplikasi ISO dan Digitalisasi Partai dalam Merawat Demokrasi

Di Hadapan Delegasi Asia, Mujab Paparkan Aplikasi ISO dan Digitalisasi Partai dalam Merawat Demokrasi

0
Dampak Exit Tol di Maguwoharjo Dipetakan, Dishub DIY Wacanakan Bundaran Besar

Dampak Exit Tol di Maguwoharjo Dipetakan, Dishub DIY Wacanakan Bundaran Besar

0
Pelatih Fisik PSS Sleman Anel Hidic Benahi Fisik Pemain Secara Bertahap Hingga Capai Peak Performance Saat BRI Liga 1 Kembali Bergulir

Pelatih Fisik PSS Sleman Anel Hidic Benahi Fisik Pemain Secara Bertahap Hingga Capai Peak Performance Saat BRI Liga 1 Kembali Bergulir

0
Begini ritual tahunan di Jogja, pelaku wisata untung

Begini ritual tahunan di Jogja, pelaku wisata untung

0
Di Hadapan Delegasi Asia, Mujab Paparkan Aplikasi ISO dan Digitalisasi Partai dalam Merawat Demokrasi

Di Hadapan Delegasi Asia, Mujab Paparkan Aplikasi ISO dan Digitalisasi Partai dalam Merawat Demokrasi

5 September 2026
Bergada Notoyudo: Kesiapsiagaan Warga Menjaga Tradisi Kampung Notoyudan Kelurahan Pringgokusuman

Bergada Notoyudo: Kesiapsiagaan Warga Menjaga Tradisi Kampung Notoyudan Kelurahan Pringgokusuman

5 September 2026
Bappenas Gandeng Pers yang BEJO’S Sebagai Mitra Strategis dalam Pembangunan Nasional

Bappenas Gandeng Pers yang BEJO’S Sebagai Mitra Strategis dalam Pembangunan Nasional

5 September 2026
Code Berdaya: Kolaborasi UGM, Pemkot Jogja, dan Pemkab Sleman Sulap Sungai Code Jadi Kawasan Asri

Code Berdaya: Kolaborasi UGM, Pemkot Jogja, dan Pemkab Sleman Sulap Sungai Code Jadi Kawasan Asri

4 September 2026
Di Hadapan Delegasi Asia, Mujab Paparkan Aplikasi ISO dan Digitalisasi Partai dalam Merawat Demokrasi

Di Hadapan Delegasi Asia, Mujab Paparkan Aplikasi ISO dan Digitalisasi Partai dalam Merawat Demokrasi

5 September 2026
Bergada Notoyudo: Kesiapsiagaan Warga Menjaga Tradisi Kampung Notoyudan Kelurahan Pringgokusuman

Bergada Notoyudo: Kesiapsiagaan Warga Menjaga Tradisi Kampung Notoyudan Kelurahan Pringgokusuman

5 September 2026
Bappenas Gandeng Pers yang BEJO’S Sebagai Mitra Strategis dalam Pembangunan Nasional

Bappenas Gandeng Pers yang BEJO’S Sebagai Mitra Strategis dalam Pembangunan Nasional

5 September 2026
Code Berdaya: Kolaborasi UGM, Pemkot Jogja, dan Pemkab Sleman Sulap Sungai Code Jadi Kawasan Asri

Code Berdaya: Kolaborasi UGM, Pemkot Jogja, dan Pemkab Sleman Sulap Sungai Code Jadi Kawasan Asri

4 September 2026
Sentil MBG hingga Fenomena Swasembada Meme Politik, Andi Widjajanto Beberkan Jalur Kemunduran Demokrasi RI

Sentil MBG hingga Fenomena Swasembada Meme Politik, Andi Widjajanto Beberkan Jalur Kemunduran Demokrasi RI

4 September 2026
Sebut Demokrasi RI Alami Kemunduran, Hasto Beberkan 5 Agenda Strategis PDIP di Forum Asia

Sebut Demokrasi RI Alami Kemunduran, Hasto Beberkan 5 Agenda Strategis PDIP di Forum Asia

4 September 2026