KORAN MERAPI – Berdasarkan data dari Kemendikbudristek RI, jumlah museum saat ini mencapai 442 buah tersebar di seluruh Indonesia, baik yang dikelola oleh Pemerintah maupun swasta, menyajikan berbagai koleksi yang sangat bervariasi.
Museum adalah lembaga yang berfungsi melindungi, mengembangkan, memanfaatkan koleksi dan mengomunikasikan kepada masyarakat untuk tujuan pendidikan, penelitian, dan kesenangan.
Krisis multidimensional yang terjadi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, antara lain kegagalan mensosialisasikan nilai-nilai Pancasila sebagai karakter bangsa, museum dapat berperan serta membantu Pemerintah membangun dan membekali peserta didik sebagai generasi emas Indonesia Tahun 1945 dengan jiwa Pancasila dan pendidikan karakter yang baik.
Salah satu kelemahan masyarakat kita adalah belum berkembangnya budaya mengunjungi dan belajar di museum. Budaya mengakses informasi melalui internet, televisi, radio dan berkunjung ke mall lebih mendominasi daripada berkunjung ke museum.
Di samping itu, kurangnya pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai sejarah peradaban bangsa dan seni budaya adiluhung yang tersimpan dalam museum, menjadikan mereka lebih mengutamakan kebutuhan membeli pulsa handpone daripada membeli tiket masuk museum.
Sedangkan tantangan museum di era milenial khususnya setelah berakhirnya Pandemi Covid-19, perlunya pembenahan secara menyeluruh dan terstruktur terhadap peningkatan kualitas museum serta usaha dana.
Peran Museum
Museum dapat menjadi tempat untuk penguatan pendidikan karakter, karena di dalamnya menyimpan sejarah, nilai-nilai seni budaya luhur, semangat pahlawan pejuang bangsa yang tangguh, cinta tanah air, berjiwa gotong royong, dan toleransi serta menjunjung tinggi nilai-nilai moral yang dipresentasikan melalui benda-benda koleksi. Museum sebagai sebuah lembaga yang memiliki sarana dan prasarana yang lengkap menjadi “ruang kelas” yang menyenangkan sebagai tempat belajar sekaligus praktek bersama.
Museum menjadi tempat tumbuh dan berkembangnya kemampuan berfikir serta kreativitas peserta didik, mengenal dan mempelajari lebih dalam mengenai peradaban sebuah bangsa, menjadi objek wisata yang mengedepankan unsur pendidikan dan penelitian, menjadi pusat informasi dan dokumentasi warisan budaya bangsa.
Pendidikan Karakter
Pendidikan dan pengajaran adalah usaha kebudayaan. Kebudayaan dalam pendidikan merupakan petunjuk arah hendak dituju dalam membangun pendidikan nasional.
Ki Hadjar Dewantara mendefinisikan pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran, dan tubuh anak. Ketiga-tiganya tidak dapat dipisah-pisahkan demi tercapainya kesempurnaan hidup, yaitu kehidupan dan penghidupan anak-anak yang kita didik selaras dengan dunianya. Pendidikan karakter memerlukan persambungan antara peran museum dengan peran sekolah.
Museum harus membantu sekolah mendukung program pembelajaran dalam penguatan pendidikan karakter dengan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam pendididkan karakter terutama meliputi nilai-nilai: religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikaitf, cintai damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertangggungjawab.
Program Wajib Kunjung Museum (WKM), beberapa kegiatan dan pameran bersama “Prajnyo Pada” yang digelar Dinas Kebudayaan DIY berkolaborasi dengan Barahmus DIY pada tanggal 23 Juli s.d. 5 Agustus 2024 di Museum Sonobudoyo, dapat kembali menjadi gerakan nasional mencintai museum, wahana membangun karakter bangsa dan menjadi percontohan daerah lain dalam mengimplementasikan PP No. 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter.
Selanjutnya untuk mengoptimalkan penguatan pendidikan karakter bagi peserta didik di sekolah, perlu ada regulasi Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari Pemerintah, dapat untuk memfasilitasi berkunjung dan belajar ke museum di daerah masing-masing maupun ke luar daerah.
Sedangkan bantuan DAK (Dana Alokasi Khusus) yang diberikan Pemerintah kepada Museum Pemerintah agar dapat diperluas menjadi pemberian Bantuan Operasional Museum (BOM) untuk semua museum di seluruh Indonesia.
Penulis : Ki R. Bambang Widodo, S.Pd., M.Pd., (Ketua I Asosiasi Museum Indonesia)





















