KORAN MERAPI – Oetojo Oesman, S.H., Menteri Kehakiman RI 1993-1998 diam-diam meluncurkan sebuah buku di usianya yang menginjak 91 tahun. Bertajuk “Di bawah Rindang Beringin,” buku yang ditulis Edi Sutrisno, penulis asal Kepulauan Riau ini, mengungkap kisah hidup dan perjalanan panjangnya mewarnai perpolitikan nasional.
“Raibnya Eddy Tansil dari Lapas Cipinang itu episode terberat yang saya alami selama berkecimpung di ranah politik,” akunya ketika ditemui di kediamannya Selasa sore, 20 Oktober 2026.
Pinisepuh Partai Golkar ini mengungkap, kaburnya Eddy Tansil sungguh membuatnya syok. Yang menyesakkan, ia baru dilapori anak buahnya, dua hari setelah yang bersangkutan raib dari Lapas.
“Saya murka saat itu dan langsung memecat semua aparat Lapas. Cipinang yang terlibat. Tapi itu tidak cukup, publik tidak terima dan mendesak saya mundur,” ungkapnya lagi.
Desakan itu tak membuatnya gusar. Oetojo lantas menghadap ke Presiden Soeharto. Secara kesatria mengaku salah dan langsung utarakan niat untuk mundur.
“Mendengar itu Pak Harto tunjukkan sikap tenang dan justru meminta saya meneruskan tugas dan berkonsentrasi mencari jejak dan berusaha kuat menangkap dan membawa Eddy Tansil kembali ke Lapas,” akunya.
Lepas dari pertemuan dengan Pak Harto itu, Oetojo dikerubuti wartawan dan menghujaninya pertanyaan-pertanyaan seputar update hasil pertemuan dengan presiden. Sebagian mengulik dengan pertanyaan kritis apakah ia menerima “upeti” dari aktor utama kasus penggelapan kredit Bapindo yang merugikan negara Rp1.3 triliun itu.
“Niatan saya untuk mundur, ternyata justru melahirkan asumsi di luaran kalau saya sudah menerima sesuatu dari Eddy Tansil. Begitulah, saya benar-benar dibuat kalang-kabut saat itu. Tapi tetap fokus dan bekerja marathon, ekstra keras untuk menangkapnya hingga saya mengakhiri tugas di tahun 1998. Tidak membuahkan hasil dan faktanya sampai kini keberadaan Eddy Tansil memang tetap tak terendus,” tukasnya.
Kisah kisruh kasus Eddy Tansil yang membetot perhatian masyarakat kala itu, sebut Oetojo, termaktub di salah satu sub bab di bukunya yang terdiri atas enam bagian dan memiliki 270 halaman itu. Halaman lainnya, menarasikan runtutan perjalanan karirnya yang sejak usia muda “diseret” Bung Karno ke ranah politik, jadi anggota DPR-GR, lalu di era Orde Baru didaulat jadi dirjen, menginisiasi pendirian SOKSI dan Sekber Golkar, dipercaya mengepalai BP-7 hingga puncaknya diminta Presiden Soeharto membantunya sebagai Menkeh RI.
Ia tak luput menceritakan riwayat masa kecilnya yang getir karena harus hidup nomadik, mengungsi dari satu kota ke kota lain di Jawa Timur setelah diboyong orangtuanya meninggalkan kota kelahirannya Batavia semasa penjajahan Belanda, pendudukan Jepang hingga era revolusi Kemerdekaan RI.
“Kecil saya nakal dan sering membuat ulah. Sampai-samapai tante-tante saya itu benci dan mewanti-wanti kalau semua orang wajib hati-hati kalau saya lagi berada di tengah-tengah mereka. Takut isengnya ke luar dan bikin perkara. Hahaha,” selorohnya.
Kendati hidup pahit, Oetojo tak pernah merasa sedih. Bersama adik-adik, sepupu serta teman-teman seusianya, justru “menikmati” hidup dalam pengungsian. Ia kerap terlibat perkelahian dengan anak-anak Belanda bahkan terlibat dalam aktifitas menyerempet bahaya: blusukan mencari pelor bekas, mencopoti emblem kendaraan tentara hingga mencuri ransum milik pasukan Belanda.
Sampai pada satu ketika di Malang, ia pernah adu jotos dengan pria sebayanya di lapangan terbuka.
“Kita kelahi ditonton banyak orang. Enggak ada yang kalah enggak ada yang menang. Sama-sama benjut. Lawan adu jotos itu lantas jadi sahabat saya. Namanya Moerdiono, orang kepercayaan Pak Harto Soeharto yang kemudian bersamanya saya berada dalam satu atap di Kabinet Pembangunan VI,” sebut Oetojo.
Pada bab lain, sahabat-sahabtanya berkisah. Mendiang Try Sutrisno mengenang Oetojo sebagai sosok yang sepemikiran dengannya. Wapres RI 1993-1998 itu menegasi kalau jabatan Kepala BP-7 yang diemban Oetoyo, bukan jabatan biasa.
“Ia dibebani tugas berat menyesapkan nilai-nilai Pancasila ke sanubari rakyat. Indonesia di era itu. Bersama dengan tokoh-tokoh lain, ia tak henti menaja serentetan program berkesinambungan membumikan Pancasila lewat penataran P4 ke pelosok Nusantara. Lantas sekarang, di mana BP-7 itu. Ke mana pula raibnya Penataran P-4 itu?”
Wiranto, sahabatnya yang pernah mengikuti Konvensi Pemilihan Calon Presiden Partai Golkar lebih menggarisbawahi kuatnya Oetojo memegang prinsip dan komitmen dalam berpolitik. Spirit dan dedikasinya untuk Partai Golkar sejak bernama Sekber Golar hingga kini, tak pernah surut. Menurutnya, seniornya itu dianggap benar-benar menyesapi adagium old soldier never die, they just fade away.
“Meski bukan berlatar militer, beliau sangat memahami makna filosofis di balik pepatah itu. Karena itu saya amat menghormatinya,” tegas Wiranto.
Mukhamad Misbakhun, Ketua Depinas SOKSI yang turut memberikan testimoni, menyebut seniornya sebagai sosok pemimpin yang ketika memberikan pandangan dan pemikiran, sangat khas dan tak lupa diselipi data dan fakta. Runtut, semua dikupas detil dari sisi latarbelakang, aturan hingga kondisi teraktualnya. Sementara Zamakh Sari, intelektual Betawi menyebut Oetojo sebagai orang yang punya daya ingat tajam.
“Orang kalau pidato pada pakai pointer-pointer. Beliau kagak, ngomong saja begitu. Saking enaknya nyerocos, kadang suka lupa waktu. Apalagi kalau sudah ngomongin Golkar, GKJI atau SOKSI, khatam luar dalam. Kadang-kadang teman-teman sampai “pegel” juga menyimaknya. Durasinya panjang dan lama. Hahaha,” selorohnya.
Kapan bukunya di-launching dengan mengundang para sahabat? Oetojo menjawab diplomatis. “Satu waktu pasti saya lakukan itu. Tapi untuk sementara waktu, pelan-pelan saya bikin bedah buku dipandu penulis saya ke kampus-kampus, organisasi, komunitas termasuk di podcast. Bagi-bagi pengalaman ke generasi muda,” sebutnya. (Rls)



















