KORAN MERAPI – DPC PDI Perjuangan Kota Yogyakarta menegaskan komitmen kuatnya untuk terus melahirkan pemimpin berjiwa Pancasilaz pejuang melalui penyelenggaraan kaderisasi berjenjang yang dipusatkan di Wisma Eden, Kaliurang. Di tengah dinamika dan euforia politik yang terjadi, PDI Perjuangan tetap kokoh menjalankan fungsi kaderisasi guna mencetak kader yang melayani, memberdayakan, dan memperjuangkan hak-hak rakyat.
“Untuk mempererat kebersamaan, rangkaian acara di Kaliurang ini juga diisi dengan kegiatan outbound yang dirancang khusus guna membangun emotional bonding serta memperkokoh semangat gotong royong di antara para kader,” kata Eko Suwanto, Ketua DPC PDI Perjuangan Yogyakarta, Jumat, 23/10/2026
Kegiatan kaderisasi ini diikuti oleh 64 orang peserta dengan sistem berjenjang yang meliputi tingkat pratama, madya, hingga utama.
“Sebagian besar peserta adalah generasi muda. Namun demikian, sebagai bagian dari penguatan struktur dan regenerasi, partai juga menyiapkan kursus kader khusus bagi generasi muda serta program pendidikan politik bagi perempuan”, ujar Eko Suwanto
Materi yang diberikan kepada para peserta mencakup penanaman ideologi, di mana kader didorong untuk menghikmati dan mempraktikkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

“Selain itu, para kader muda turut dibekali wawasan sejarah mengenai perjuangan melawan rezim Soeharto serta pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk kepentingan pembelaan hak-hak rakyat,” kata Eko Suwanto.
Acara ini dibuka secara resmi oleh Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Ideologi dan Kaderisasi, Djarot Saiful Hidayat. Kegiatan ini juga menghadirkan para akademisi dan praktisi handal, serta sesi diskusi bersama Ganjar Pranowo yang berbagi pengalaman langsung mengenai strategi melayani dan melindungi masyarakat. Turut hadir pula Walikota dan Wakil Walikota Yogyakarta beserta jajaran struktur partai.
Ketua DPC PDI Perjuangan Yogyakarta, Eko Suwanto, menekankan pentingnya tiga aspek utama dalam pembinaan kader, yakni penguatan ideologi serta kedisiplinan yang mencakup disiplin pemikiran, perilaku, cara bicara, berkomunikasi, hingga bertindak.
“Para ketua ranting dan kader di tingkat wilayah kini memiliki kewajiban untuk aktif mendengarkan serta merekam aspirasi masyarakat secara mendetail—mulai dari pendataan ibu hamil, balita, hingga lansia. Hal ini diselaraskan dengan pemanfaatan alokasi anggaran sebesar Rp120 juta per kelurahan agar program penanganan masalah kerakyatan, seperti stunting, dapat berjalan optimal demi memenangkan hati rakyat,” kata Eko Suwanto
Semangat juang yang tinggi turut disuarakan oleh para peserta muda. Muhammad Ihsan, perwakilan kader dari ranting Warungboto, menyatakan kesiapannya bersama rekan-rekan pemuda untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan kaderisasi dengan penuh semangat hingga akhir.
“Kami siap ikuti pelaksaan kaderisasi agar ke depan mampu jadi kader pejuang yang militan,” kata Ihsan. (Rls)




















