KORAN MERAPI – Kementerian Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) bekerjasama dengan Komunitas Jelajah menyelenggarakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Peran Museum dalam Pendidikan, Penelitian dan Pembangunan Karakter” di Gedung Mandala Bhakti Wanitatama, Yogyakarta pada Rabu (10/7/24).
Lokasi acara di Gedung tersebut dipilih sebagai bentuk apresiasi terhadap nilai sejarah yang luar biasa sebagai tempat penyelenggaraan Kongres Perempuan I tahun 1928 yang diperingati sebagai Hari Ibu, tiap tanggal 22 Desember.
Kegiatan FGD tersebut diselenggarakan dengan tujuan untuk memperkuat koordinasi, sinkronisasi dan pemantauan (KSP) lintas pemangku kepentingan dalam pengelolaan museum sebagai lembaga yang melakukan pembinaan dan pengembangan nilai budaya bangsa, memperkuat kepribadian, karakter, dan jati diri bangsa, serta meningkatkan rasa harga diri dan kebanggaan nasional.
Hal ini karena museum dengan berbagai koleksinya mengandung semua nilai karakter utama yang mencakup nilai religius, nasionalis, gotong royong, integritas dan mandiri.
Acara FGD dibuka oleh Deputi Bidang Koordinasi Revolusi Mental, Pemajuan
Kebudayaan dan Prestasi Olahraga, Kemenko PMK, Prof. Dr. Warsito, S.Si. DEA, Ph.D.
Di dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa peran dan fungsi
museum harus terus diperkuat tidak hanya terbatas sebagai lembaga yang
memamerkan hasil pengumpulan benda-benda bersejarah namun juga sebagai sarana pendidikan, penelitian dan pembangunan karakter yang selaras dengan pemajuan kebudayaan.
Hal ini selaras dengan amanat Undang-Undang (UU) Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 87 tahun 2017 Tentang Penguatan Pendidikan Karakter serta Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2015 tentang Museum.
Acara tersebut dihadiri oleh Dr. Fadli Zon, M.Sc., sebagai Keynote Speaker dan
narasumber Prof. Ir. Dwi Suryo Indroyono Soesilo, MSc., PhD (Menko Maritim 2014-
2015), Prof. Ir. Wiendu Nuryanti, M.Arch., Ph.D (Wakil Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan 2011-2014) dan Dr. S. Utari Widyastuti, S.Sos., M.I.Kom (Kemenparekraf).
Acara tersebut dihadiri oleh peserta dari PT Taman Wisata Candi (TWC), Badan Otorita Borobudur, pemerintah daerah, pengelola museum, pendidik, pemerhati museum dan masyarakat umum.
Deputi Warsito juga menekankan peran penting pemerintah daerah dan stakeholders lainnya dalam penguatan peran fungsi museum. Pengenalan sejak dini bagi para siswa terhadap museum sebagai sumber pendidikan, media untuk cinta dan bangga terhadap tanah air. Kepada pengelola museum agar inovatif dan adaptif terhadap perkembangan ipteks.
Prof. Indroyono menyampaikan bahwa “Museum dengan berbagai koleksinya
mengandung semua nilai karakter utama yang mencakup nilai religius, nasionalis,
gotong royong, integritas dan mandiri,”.
Prof. Wiendu menambahkan: “Di dalam pembelajaran sejarah, museum merupakan tempat yang paling tepat untuk mencari sumber informasi kesejarahan. Oleh karena itu, terdapat banyak benda yang dijadikan sebagai media pembelajaran di dalam museum. Hal ini berguna sebagai sarana peningkatan pemahaman terhadap peristiwa sejarah bagi masyarakat khususnya pelajar,” ujar beliau.
Dukungan dari seluruh pihak seperti Asosiasi Museum Indonesia (AMI), Asosiasi Museum Daerah (AMIDA) dan komponen masyarakat lainnya sangat dibutuhkan dalam upaya pemajuan museum di Indonesia. (***)








