KORAN MERAPI – Wujudkan kesiapsiagaan dan kesadaran akan pentingnya mengurangi resiko bencana di Kota Yogyakarta harus ditingkatkan, dalam hal ini Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta selalu bersinergi dengan Pentahelix mengadakan Konggres Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) yang ada di wilayah Kota Yogyakarta.
Nur Hidayat, Kepala Pelaksana BPBD Kota Yogyakarta mengatakan, FPRB Kota Yogyakarta ini merupakan wadah komunikasi dan sinergi yang terbangun untuk pertamakalinya di Kota Yogyakarta.
Ia menyebutkan bahwa Kongres Pembentukan FPRB Kota Yogyakarta ini merupakan penutup serangkaian pelaksanaan Forum Grup Diskusi (FGD) yang telah digelar selama tiga kali, yang melibatkan akademisi, pemerintah, masyarakat, media massa dan kalangan dunia usaha serta rumah sakit, ada 80 peserta hadir untuk dapat dikukuhkan menjadi FPRB Kota Yogyakarta.
“Tahun ini target kita terbentuk FPRB Kota Yogyakarta, apresiasi juga kami sampaikan kepada pentahelix yang hal ini menunjukkan tingginya kesadaran terkait bencana semakin meningkat. Dulu kalau ngomong bencana itu kalau sudah terjadi pada ribut, kalau sekarang mulai ada manajemen resiko terkait pencegahan ini, semuanya sudah ada respon,” jelas Nur Hidayat di Hotel Harper Malioboro, Selasa siang (29/10/2024).
Selanjutnya Nur Hidayat menyampaikan, bahwa pencegahan dan penanggulangan bencana, yang menjadi tantangan terberat terkait masih rendahnya kesadaran masyarakat terkait pengurangan resiko bencana. Sehingga melalui Forum ini diharapkan menjadi jembatan dan media komunikasi, serta sosialisasi dan koordinasi yang melibatkan seluruh stakeholder dari Pentahelix yang ada.
“Dengan terbentuknya FPRB ini, segera saja akan dikukuhkan dan dilantik di Balai Kota Yogyakarta,” tuturnya.
Dikesempatan agenda Konggres FPRB ini, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Pemerintah Kota Yogyakarta Yunianto Dwi Sutono mengungkapkan, kesiapsiagaan tidak hanya dibangun di tingkat BPBD namun juga dibutuhkan peran seluruh pemangku kepentingan saja, masyarakat juga dilibatkan. Untuk itu FPRB Kota Yogyakarta harus segera dibentuk.
“Tentunya kita harus selalu mengedepankan koordinasi, mengingat potensi bahaya bencana yang teridentifikasi dapat terjadi di 14 Kemantren, dengan 45 Kelurahan, dan 169 Kampung. Alhamdulillah di 169 kampung ini sudah membentuk dan memberi bantuan Kampung Tangguh Bencana,” ujar Yunianto.
Ia menambahkan, peran FPRB Kota Yogyakarta nantinya akan mendukung pembangunan berkelanjutan, terutama menjadi mitra strategis BPBD dalam berkolaborasi dalam pengurangan resiko bencana.
Selanjutnya, FPRB Kota Yogyakarta juga menjadi bentuk kolaborasi pemangku kepentingan yang dinilai sangat penting guna menciptakan koordinasi yang efektif dalam penanggulangan bencana. Termasuk dalam rangka membangun kerangka pengurangan dan menanggapi resiko bencana.
“Melalui forum ini juga terdapat formulasi yang dapat diimplementasikan dan menjadi referensi arah pembangunan kota Yogyakarta yang tangguh bencana. Sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, yang salah satunya memberdayakan masyarakat dalam menghadapi bencana yang dapat dilakukan peningkatan kesadaran dan kapasitas,” pungkasnya. (Ags)



















