KORAN MERAPI— Sinergi Ekosistem Pesantren (SEP) menggelar kegiatan Sosialisasi Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta Kampanye Pesantren Ramah Anak di Pondok Pesantren Wahid Hasyim, Yogyakarta, Rabu (13/8). Acara ini diikuti oleh lebih dari 100 peserta yang terdiri atas pimpinan pondok dan perwakilan santri dari 50 pesantren se-Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Ketua SEP, Ahmad Tazakka Bonanza, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kebersihan, kesehatan, dan perlindungan anak di lingkungan pesantren.
“Pola hidup bersih dan sehat di pesantren bukan hanya soal teori, tetapi bagaimana mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Pesantren adalah tempat yang tepat untuk mendidik generasi muda dengan nilai kebersihan, kesehatan, dan akhlak yang baik,” ujar Ahmad.

Ia juga menegaskan pentingnya mengedukasi masyarakat bahwa pesantren bisa menjadi lingkungan belajar yang aman dan ramah anak.
“Melalui kampanye pesantren ramah anak, kami ingin menepis stigma negatif bahwa pesantren identik dengan perundungan atau kekerasan seksual. Kasus yang muncul biasanya dilakukan oleh oknum, bukan cerminan pesantren secara keseluruhan,” tambahnya.
Sebagai bentuk sinergi lintas lembaga, SEP menggandeng Rifka Anisa Women Crisis Center dalam memberikan pelatihan mengenai pencegahan kekerasan serta perlindungan anak di lingkungan pesantren.
Materi edukasi juga dilengkapi dengan simulasi praktik kebersihan seperti perawatan toilet, kebersihan masjid, serta pengelolaan sanitasi pesantren, dengan dukungan dari NGO Water.org. SEP juga berkomitmen untuk melanjutkan program ini secara berkelanjutan dengan monitoring rutin setiap bulan.
Ketua Himpunan Ekonomi Bisnis Pesantren (HEBP) DIY, KH. Muhammad Khoeron, yang turut hadir dalam kegiatan ini, menekankan pentingnya transformasi citra pesantren ke arah yang lebih bersih dan sehat.
“Dulu ada anggapan kalau santri tidak kudisan berarti belum afdol. Itu harus kita ubah. Lingkungan pesantren harus bersih, rapi, dan nyaman,” ujarnya.
Ia juga mengajak untuk memahami definisi bullying secara tepat agar tidak terjadi kesalahpahaman.
“Tidak semua pertengkaran antar santri dapat disebut bullying. Kita perlu meluruskan pengertian ini,” tegasnya.
Sementara itu, Siska Nanda Raihan dari Rifka Anisa menjelaskan berbagai jenis kekerasan seksual, dampaknya, serta pentingnya edukasi bagi santri sebagai langkah pencegahan.

“Kurangnya edukasi menjadi salah satu penyebab kasus kekerasan seksual. Edukasi yang tepat akan membuat santri lebih waspada dan mampu melindungi diri,” jelas Siska.
Ia menambahkan bahwa pencegahan kekerasan seksual memerlukan kolaborasi dan dukungan dari berbagai pihak.
“Tidak cukup hanya dengan sosialisasi satu kali. Harus ada tindak lanjut dan jejaring yang kuat agar pesantren benar-benar menjadi tempat belajar yang bersih, sehat, aman, dan ramah bagi santri,” tambahnya.
Kegiatan ini turut didukung juga oleh Pusat Koperasi Syariah (Puskopsyah) DIY, sebagai bagian dari komitmen bersama menciptakan ekosistem pesantren yang sehat dan berdaya. (Ags)

















