KORAN MERAPI – Destinasi Wisata Pasar Blumbang Mataram, Desa Wirokerten, Banguntapan, Bantul kembali menggelar kegiatan budaya dan kreatif bertajuk Pasar Blumbang #22, yang diselenggarakan pada Minggu Wage (10/8/25) dan kedepannya dilaksanakan setiap Minggu Wage sebagai bagian dari agenda rutin selapanan. Kegiatan yang dimulai sejak akhir 2022 ini terus berkembang menjadi wadah pelestarian budaya, penggerak ekonomi kerakyatan, serta edukasi lingkungan.
Agenda kali ini dimeriahkan oleh berbagai penampilan seni dan atraksi kreatif, antara lain Jathilan Kudho Pangrawet, tarian mancing mania, senam aerobik, dan live music, yang turut menghibur ratusan pengunjung dari dalam dan luar wilayah Wirokerten. Tak ketinggalan, sajian makanan jadul serba 5 ribuan menjadi daya tarik tersendiri, khususnya bagi pecinta kuliner tradisional.

Acara dibuka dengan sambutan dari Widayanto, Ulu-ulu Kelurahan Wirokerten, yang menekankan pentingnya pendampingan dalam pengembangan Desa Wisata, khususnya dalam hal pelatihan UMKM, rintisan desa budaya, penguatan kelembagaan seperti Pokdarwis dan Bumdes yang menjadi tulang punggung wisata desa.
Ia juga menambahkan bahwa Pasar Blumbang telah menjadi ekosistem yang aktif sejak 2022 dengan beragam kegiatan, mulai dari festival kuliner, pertunjukan budaya lokal, edukasi sampah, hingga konservasi lingkungan.
Anggota DPRD DIY, H. Ispriyatun Katir Triatmojo, turut hadir dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pokdarwis Wirajaya, Pemerintah Kelurahan Wirokerten, dan BUMDes. Ia berharap kegiatan semacam ini bisa terus berlanjut dan menjadi bagian dari penguatan budaya dan pariwisata DIY.

“Yogyakarta sedang menggiatkan potensi budaya dan pariwisata. Maka, kolaborasi antar pemerintah desa, kapanewon, Pemda Bantul, dan Provinsi serta pelibatan masyarakat sangat penting. UMKM juga harus terus didampingi agar bisa naik kelas dan menjadi ujung tombak wisata,” ungkapnya.
Sementara itu, Reva Bimo Nugroho, Ketua Desa Wisata Wirokerten, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi banyak pihak, termasuk dukungan berkelanjutan dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) selama tiga tahun terakhir.
Pasar Blumbang yang lahir dari embrio kegiatan “Ngontel Ndeso”, kini menjadi agenda rutin yang melibatkan berbagai elemen masyarakat. Mengusung semangat zero waste, kegiatan ini juga mendorong perempuan melalui kolaborasi Desa Prima dan Desa Preneur, sebagai bagian dari empat pilar menuju Desa Mandiri Budaya.

Reva menambahkan bahwa dampak positif sudah terasa. “Banyak UMKM yang berkembang dan mengalami peningkatan penghasilan. Namun ke depan, kita perlu mengoptimalkan potensi desa wisata secara menyeluruh, mulai dari paket wisata, homestay, budaya, hingga produk lokal Wirokerten. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama,” jelasnya.
Pasar Blumbang merupakan agenda wisata budaya selapanan (35 hari sekali) yang berfokus pada pelestarian budaya, pemberdayaan UMKM, edukasi lingkungan, dan promosi pariwisata lokal. Kegiatan ini dikembangkan secara berkelanjutan oleh Pokdarwis Wirajaya Wirokerten bersama Pemerintah Kelurahan Wirokerten dan berbagai mitra. (Ags)



















