KORAN MERAPI — Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) bersama Universitas Widya Mataram (UWM) dan CV Windra Mekar menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Peningkatan Kesehatan Masyarakat Dusun Surobayan dengan Olahan Daun Kelor dan Rimpang-Rimpangan”. Kegiatan ini berlangsung di Dusun Surobayan, Kalurahan Argomulyo, Kapanewon Sedayu, Kabupaten Bantul, DIY, dan diikuti oleh 23 anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Kantil, dimana Indah Winarni sebagai ketuanya.
Acara yang diselenggarakan pada Sabtu pagi (6/9/2025) ini meliputi penyuluhan mengenai stunting dan sanitasi, serta praktik pembuatan bubuk instan dari temulawak. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam pengolahan pangan lokal yang bergizi serta higienis.
Dalam sesi utama, Prof. Dr. Ir. Dwiyati Pujimulyani, M.P., Guru Besar UMBY sekaligus Direktur CV Windra Mekar, memberikan penjelasan mengenai proses pembuatan bubuk instan temulawak. Ia menekankan manfaat temulawak sebagai bahan alami yang mampu meningkatkan nafsu makan anak dan menjaga fungsi hati berkat kandungan kurkumin dan xanthorizol yang bersifat antiinflamasi.

Praktik langsung pengolahan bubuk instan dipandu oleh mahasiswa S2 Magister Ilmu Pangan UMBY, Siti Zalazatun, S.TP., dan Ira Ayu Dwi Rahmawati, S.TP. Peserta menunjukkan antusiasme tinggi, terlihat dari diskusi aktif mengenai proses pengolahan, manfaat, serta teknik pengemasan bubuk instan.
“Temulawak jika dikombinasikan dengan kunir putih dapat membantu menormalkan SGPT dan SGOT pada penderita hepatitis. Selain itu, rimpang seperti kunir putih juga bermanfaat untuk menormalkan kadar gula darah, tekanan darah, kolesterol, trigliserida, dan asam urat,” jelas Prof. Dwiyati.
Prof. Dr. Ir. Ambar Rukmini, M.P., dalam sesi penyuluhan gizi, menyampaikan pentingnya daun kelor sebagai sumber protein nabati dan mikronutrien yang lengkap. “Daun kelor kaya akan vitamin, mineral, flavonoid, dan asam amino esensial yang sangat mendukung tumbuh kembang anak,” ungkap Prof. Ambar.
Ia juga memberikan contoh menu makanan tambahan (MPASI) dari daun kelor, seperti nasi tim daun kelor, bubur ayam kelor, dan bubur kacang hijau kelor. Penggunaan daun kelor dalam menu harian anak dinilai efektif sebagai salah satu upaya pencegahan stunting.
Melengkapi kegiatan, Ibu Ichlasia Ainul Fitri, S.TP., M.P. menyampaikan materi mengenai pentingnya sanitasi dan hygiene dalam pengolahan makanan. Ia menegaskan bahwa proses memasak yang tidak higienis dapat menyebabkan kontaminasi silang dan berpotensi menimbulkan keracunan makanan.
“Penjamah makanan harus dalam kondisi sehat, memakai celemek, sarung tangan, dan penutup kepala. Bahan baku dan makanan siap saji perlu dipisahkan untuk mencegah kontaminasi silang,” jelas Ichlasia.
Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas dan keterampilan anggota KWT Kantil dalam pengolahan pangan lokal yang sehat dan bernilai ekonomis, serta meningkatkan pemahaman akan pentingnya gizi dan sanitasi dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi Prof. Dr. Ir. Dwiyati Pujimulyani, M.P. di nomor 081328776036. (Rls)



















