KORAN MERAPI — Palang Merah Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (PMI DIY) menyelenggarakan peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 PMI dengan menggelar kegiatan ziarah dan tabur bunga di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kusumanegara Yogyakarta, Rabu pagi (17/9). Kegiatan ini diikuti oleh 227 relawan, staf, pengurus PMI se-DIY, serta mitra PMI dari berbagai kalangan.
Peringatan tahun ini mengangkat tema “Tebar Kebaikan”, sebagai refleksi semangat kemanusiaan untuk terus menyebarkan aksi kebaikan, sekecil apa pun, sebagai kontribusi nyata bagi sesama. Kegiatan ziarah tidak hanya dilaksanakan di TMP Kusumanegara, namun juga dilanjutkan ke Makam Raja-Raja Mataram di Pajimatan Imogiri serta Astana Girigondo, Kulon Progo, sebagai bentuk penghormatan atas jasa para tokoh kemanusiaan dan pejuang bangsa.
“Kita sangat menghormati 14 orang anggota PMI yang gugur pada masa revolusi antara tahun 1946 hingga 1949. Ziarah ini merupakan yang pertama kali dilakukan oleh PMI DIY sebagai penghormatan atas jasa-jasa mereka,” tutur GBPH. H. Prabukusumo, S.Psi, Ketua PMI DIY.

Gusti Prabu, sapaan akrab Ketua PMI DIY, mengungkapkan bahwa temuan sejarah tentang 14 tokoh PMI DIY tersebut diperoleh dalam proses penyusunan buku Dasa Windu PMI Jogjakarta, yang akan diluncurkan sebagai bagian dari rangkaian HUT PMI.
Ia juga menegaskan bahwa perjalanan PMI DIY tidak lepas dari sejarah bangsa Indonesia, terutama setelah proklamasi kemerdekaan. Sejumlah dokter di Yogyakarta membentuk PMI Tjabang Jogjakarta pada 29 September 1945, tak lama setelah PMI pusat didirikan di Jakarta.
Tak hanya itu, Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Paku Alam VIII pada 27 Oktober 1945 mengeluarkan Maklumat Nomor 6 Tahun 1945 yang menegaskan pentingnya layanan kesehatan bagi tentara dan rakyat. Peran PMI, dokter, dan tenaga kesehatan pun menjadi sangat vital dalam mendukung perjuangan kala itu.
“Dana operasional PMI pada masa revolusi banyak berasal dari para dermawan yang bersimpati terhadap perjuangan, salah satunya Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Beliau tidak hanya membantu PMI, tapi juga pasukan gerilya,” lanjut Gusti Prabu.
Seiring berjalannya waktu, ketika Yogyakarta menjadi ibu kota Republik Indonesia, markas besar PMI pun ikut berpindah ke Yogyakarta. Momentum inilah yang memperkuat posisi Yogyakarta dalam sejarah PMI nasional. Penetapan tanggal 17 September sebagai Hari Ulang Tahun PMI juga diputuskan melalui Kongres PMI ke-II di Yogyakarta.
Dalam rangkaian ziarah, PMI DIY juga mengunjungi makam GPH Murdaningrat, Ketua PMI DIY periode 1955–1978, serta KGPAA Paku Alam VIII, yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum PMI periode 1954–1966.
“Selaras dengan tema ‘Urip iku urup, Hidup itu menyala’, maka hidup kita harus memberi manfaat bagi orang lain. Nilai-nilai kemanusiaan ini menjadi ruh utama dari seluruh aksi PMI,” ujar Gusti Prabu.

Sebagai bagian dari peringatan HUT ke-80 PMI, PMI DIY juga akan menggelar berbagai kegiatan lain, di antaranya: Diseminasi nilai-nilai kemanusiaan melalui media sosial dan talkshow, Jumpa Bakti Gembira dan Temu Karya (Jumtek) PMI DIY Tahun 2025, pada 27–29 September 2025 di Bumi Perkemahan Jaka Garong, Turi, Sleman, dan peluncuran Buku Dasa Windu PMI Jogjakarta yang akan dilaksanakan pada penutupan Jumtek tanggal 29 September 2025.
PMI DIY juga mengajak media dan masyarakat untuk terus menjadi bagian dari gerakan kemanusiaan.
“PMI membutuhkan jejaring luas, termasuk rekan-rekan media, untuk bersama menyebarkan semangat kemanusiaan. Mari bersama menebar senyum untuk sesama dan terus berkarya bagi kemanusiaan,” pungkas Gusti Prabu. (Rls)



















