KORAN MERAPI — Sebanyak 80 mahasiswa dari negara-negara anggota ASEAN, Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Indonesia menggelar aksi peduli lingkungan dan penanaman pohon sayuran di sepanjang bantaran Kali Code, Jumat (17/7/2026).
Kegiatan yang berpusat di area Pasar Minggon, Jetisharjo, Cokrodiningratan ini bertujuan untuk memperkuat ketahanan serta kemandirian pangan warga setempat melalui pembagian bibit tanaman pangan seperti cabai, terong, dan jenis sayuran lainnya.
Bibit pohon yang telah ditanam selanjutnya diserahkan secara langsung kepada masyarakat sekitar. Langkah ini diharapkan dapat dimanfaatkan warga dalam mewujudkan kemandirian pangan mandiri di lingkungan urban pinggir sungai.

Aksi kepedulian mahasiswa se-Asia Tenggara ini menjadi wujud kecintaan terhadap kawasan Kali Code yang nama dan penataannya telah dikenal hingga mancanegara.
Selain aksi tanam pohon, para peserta juga berkesempatan melepas burung bersama pegiat Kali Code Utara, Totok Pratopo. Pelepasan burung ini menjadi simbol pengingat akan pentingnya menjaga dan merawat keseimbangan ekosistem sungai.
Kehadiran puluhan mahasiswa ASEAN ini merupakan bagian dari agenda Sekolah Sungai, di mana para peserta diajak melakukan jelajah kampung dan susur sungai untuk melihat secara langsung kehidupan masyarakat urban Kali Code.
Beberapa titik edukasi yang dikunjungi antara lain: Pembibitan lele dan Kebun Sayur Teras Hijau, Bank Sampah Bumi Lestari, Taman Robin.
Melalui kunjungan ini, para mahasiswa belajar mengenai nilai guyub (kebersamaan) dan saling menjaga di tengah keberagaman masyarakat pinggir sungai, sehingga tercipta keharmonisan lingkungan yang heterogen.

Pengelola Sekolah Sungai, Harris Syarif Usman, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukanlah hal baru. Sejak didirikan pada tahun 2015, Sekolah Sungai telah menerima ribuan peserta asing dari benua Eropa, Amerika, Asia, hingga Afrika, serta kalangan pelajar (SD–SMA), jurnalis, hingga Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
“Mereka banyak belajar tentang penataan kawasan Kali Code, kesehatan lingkungan, sanitasi, mitigasi bencana, pemanenan air hujan, moderasi beragama, UMKM, Bank Sampah, hingga pengembangan Kampung Wisata,” ujar Harris.
Harris menambahkan bahwa Sekolah Sungai Kali Code kini telah menjadi best practice dan pionir tingkat nasional. Model edukasi lingkungan ini bahkan telah diadaptasi di berbagai wilayah sungai besar di Indonesia, seperti Sungai Citarum, Jeneberang, Ambon, hingga Bengawan Solo. (Rls)






