Sabtu, 24 Oktober 2026
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan
  • Redaksi
  • Kontak
  • Login
  • Register
Koran Merapi
Advertisement
  • Home
  • News
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Ekbis
  • Olahraga
  • Kesehatan
  • Wisata
  • Kuliner
  • Budaya
  • Opini
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Ekbis
  • Olahraga
  • Kesehatan
  • Wisata
  • Kuliner
  • Budaya
  • Opini
No Result
View All Result
Koran Merapi
No Result
View All Result
Home Opini

Kalau Alam Sudah Menegur

Catatan Hendry Ch Bangun FWK

admin by admin
7 September 2026
in Opini
0
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

KORAN MERAPI  – Manusia boleh berencana tetapi semua akan terjadi sesuai kehendakNya. Kita semua pasti faham adagium ini. Tetapi kadang lupa. Mungkin karena sudah terbiasa mendengarnya. Mungkin alpa. Mungkin juga karena dengan segala persiapan apa yang kita rancang itu kita yakini semua akan terjadi sebagaimana mestinya.

Dari berbagai pengalaman hidup manusia, perencanaan yang matang, sesuatu yang disiapkan dengan menghitung segala aspek, hampir semuanya berjalan sesuai harapan. Tetapi tentu kita ingat kadang sesuatu yang sempurna pun selalu ada celahnya. Entah karena faktor apa.

Saya membayangkan buyarnya agenda puluhan ribu penumpang pesawat, ketika Bandara Soekarno Hatta menutup penerbangan sejak Sabtu dinihari sampai Senin malam (yang bisa jadi akan diperpanjang). Agenda buyar. Menghadiri pesta perkawinan, arisan keluarga, ulang tahun, seminar, rapat kordinasi, rapat bisnis, kembali ke keluarga setelah sepekan dinas luar kota, dst. Yang mengesalkan, tidak adanya kepastian kapan bisa terbang lagi.

Ada yang langsung refund tiket untuk mengejar ketertinggalan dan pakai moda transportasi lain khususnya kalau di sekitar Jawa dan Sumatera. Ada yang menunggu dengan harapan akan dibuka penerbangan. Ada yang membatalkan semuanya. Entah berapa yang mengumpat, memaki, dan marah-marah. Ya wajar saja.

Dampaknya memang tidak hanya kena penumpang domestik. Seluruh penerbangan antarbangsa tidak bisa mendarat di Cengkareng. Penumpang umrah ada yang diturunkan di Aceh. Ada pula yang kembali ke salah satu negara di Kawasan Teluk meski telah terbang sampai di wilayah udara India. Turis dari Malaysia, Singapura, sakit kepala karena jadwal pulang hari Minggu, libur weekend, kali ini tertunda tidak jelas. Waktu hilang, uang terkuras.

Tetapi di luar ribuan yang menderita itu, pastilah ada pula ribuan orang yang berbahagia, karena mendadak omset toko dan café di bandar bertambah berkali lipat. Atau supir taksi dan mobil online yang mendadak kebanjiran order penumpang yang pulang atau pergi ke stasiun bus dan kereta mengejar moda angkutan lain. Ada porter yang tiba-tiba minta dibantu angkat koper berat yang dikeluarkan dari pesawat. Ada anak yang senang bukan main karena ayahnya tidak jadi pergi dan bisa merayakan ulangtahunnya pada hari Minggu.

Kata penyair WS Rendra, bencana dan keberuntungan sama saja. Hakekatnya demikian kalau kita bersedia membuka diri atas berbagai kemungkinan. Kita hanyalah debu di mata Yang Maha Kuasa.

So what?

Tentu sebagai orang beragama kondisi seperti ini menuntut kita untuk melepaskan akal sehat sejenak. Khususnya yang terkait dengan urusan kita sendiri, yang terdampak dari peristiwa di luar kita, faktor eksternal yang tidak mampu kita kendalikan. Menarik nafas dalam-dalam. Merenungkan. Memikirkan. Apa hikmahnya?

Seorang muslim diajar untuk memahami posisinya di depan Sang Pencipta. “Jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu,”Aku pasti melakukan itu besok pagi,” kecuali (dengan mengatakan) Insya Allah.” (Al Kahfi 23-24). Meskipun ada yang mengolok-olok, dengan kata Insya Allah itu orang bisa berdalih “ngeles” kalau ternyata tidak hadir di suatu acara. Ya nggak masalah karena semua orang memiliki cara hidup sendiri-sendiri, dengan segala konsekuensinya.

Kalau kita mengingat kembali peristiwa ke belakang, sebenarnya hal-hal yang di luar rencana pernah terjadi, dengan kondisi berbeda-beda.

Saya pernah mengalami kejadian rada aneh. Saya hendak naik pesawat ke Indonesia Timur dengan jam terbang sekitar pukul 05.00. Karena sudah check-in online dan tidak ada bagasi, maka saya akan pesan taksi online sekitar pukul 03.15, sebab dari rumah ke bandara hanya sekitar 30 menit.
Entah mengapa saya terbangun, langsung mandi, bersiap, dan pesan taksi tanpa melihat jam. Belum 2 menit, ada yang masuk. Tak lama saya pun naik ke mobil dan terjadi percakapan.
“Pesawat jam berapa, Pak?”
“Jam 5 sih tapi saya nggak mau terburu-buru,” saya jawab. Saya belum melihat jam di HP, karena saya malas pakai jam tangan sejak bertahun-tahun.

“Kok Bapak cepat ambil penumpang,” saya tanya. Biasanya perlu waktu 10 sampai 15 menit untuk mendapat kendaraan. Baik dari Kawasan Bintaro, Ciputat, atau bahkan Pamulang, dengan jarak mencapai 5 km.

“Iya, Pak. Tadi sebenarnya saya dapat order. Sudah dekat, tahu-tahu dibatalkan. Saya berdoa mudah-mudahan ada yang order lagi. Ternyata orderan Bapak masuk,” katanya. “Padahal pesawat Bapak masih jam 5 dan ini baru jam 2 lebih sedikit.”

Saya terkejut. Saya lihat ke HP. Benar saja. Waktu menunjukkan pukul 02.20. saya suruh berkendara santai pun, jam 03 kurang sudah tiba di bandara. Benar-benar kepagian. Sampai di Bandara pun waktu itu masih gelap, karena penerbangan di Terminal 3 baru mulai ramai pukul 05.00 dan bahkan kedai kopi dan kios serba guna belum buka.

Ternyata doa bapak itu begitu dahsyat sehingga langsung dijawab, begitu pikiran saya untuk menenangkan diri. Tokh akhirnya saya bisa mencari tempat duduk yang baik, buka laptop, melihat lagi skedul acara, mengecek ulang presentasi, dan begitu café buka langsung pesan kopi pahit dan roti hangat. Bisa jadi, saya disuruh bersiap lebih baik. Bisa jadi saya disuruh jeda sejenak dari rutinitas yang alang kepalang.

Waktu itu dunia begitu sibuk rasanya. Bekerja di kantor sampai malam. Baru tidur 2-3 jam langsung berangkat ke luar kota agar tidak bertabrakan waktu bekerja dan berorganisasi. Kurang istirahat. Pernah hidung mimisan saat keluar taksi, sehingga terpaksa lari ke toilet agar darah tidak berceceran di lantai dan menciprat ke baju.

Ya kadang kita harus berhenti sejenak. Itulah yang barangkali pesan hening yang dialami mereka yang kemarin itu. Kewajiban ada, terhadap tempat bekerja, tempat organisasi kita menjadi anggota, terhadap atasan menuntut prestasi, keluarga yang meminta perhatian, dan masyarakat yang ingin kita layani.

Dalam keadaan normal hal demikian wajib kita jalankan. Tetapi rutinitas terkadang membuat kita terlena dalam waktu yang diburu-buru. Waktu yang kita paksakan pada tubuh dan pikiran untuk memuaskan keinginan, khususnya akan prestasi dan pengakuan orang lain. Bagi orang yang sudah makan asam garam kehidupan, itulah hidup khususnya di Jakarta. Berlari dan berlari agar tidak tertinggal dalam kompetisi untuk hidup dan berhasil.

Karena itu saya senang melihat banyaknya anak-anak muda yang memulai libur dengan keluarga di usia 40-an bahkan 30-an. Mereka pergi ke taman hiburan, daerah wisata yang terkenal, bahkan ke luar negeri bagi yang mampu. Banyak pula kalangan muda yang pergi Umrah bersama keluarga dengan anak yang masih balita atau Sekolah Dasar.

Mereka menikmati kebahagian ketika badan masih kuat, makan masih enak, pikiran masih baik, sehingga berlibur betul-betul healing, menyegarkan pikiran da recharge sehingga akan fresh dan tambah semangat ketika kembali bekerja. Padahal generasi baby boomers, rata-rata berlibur ketika menjelang pensiun, di atas 50 tahun. Makan steak saja sudah harus jaga-jaga biar giginya nggak goyah. Mau trekking, sudah ngos-ngosan. Duduk-duduk di luar ruang sudah harus pakai sweater biar nggak masuk angin.

Jeda sejenak, delay pesawat karena dampak semburan abu vulkanik Anak Krakatau, menyuruh kita bersikap lebih arif dalam melihat kehidupan. Bukan hanya kepada puluhan ribu penumpang. Tetapi juga jutaan masyarakat Indonesia terdampak, mulai dari Bengkulu, Sumsel, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, yang kebagian abu, mengotori rumah dan memaksa penduduk menggunakan masker.

Ada pesan yang disampaikan dan seharusnya kita tangkap sebaik-baiknya agar tidak terpuruk dalam kesedihan. Sebab sejatinya manusia tidak pernah berhenti belajar sampai akhir khayatnya.

Ciputat, 7 September 2026.

Tags: AlamBandara Soekarno HattaHendry Ch BangunKoranmerapi.idManusia

Related Posts

Saatnya Memperingati Hari Santri Nasional
Opini

Saatnya Memperingati Hari Santri Nasional

22 Oktober 2026
Rapor Pemerintahan Prabowo–Gibran: MBG Meluas, Tata Kelola Dipertanyakan, Pendidikan Terdesak dalam Paradoks Pembangunan SDM
Opini

Rapor Pemerintahan Prabowo–Gibran: MBG Meluas, Tata Kelola Dipertanyakan, Pendidikan Terdesak dalam Paradoks Pembangunan SDM

22 Oktober 2026
Dua Tahun Prabowo-Gibran: Antara Ambisi Pembangunan, Kesejahteraan Rakyat, dan Ujian Demokrasi 
Opini

Dua Tahun Prabowo-Gibran: Antara Ambisi Pembangunan, Kesejahteraan Rakyat, dan Ujian Demokrasi 

21 Oktober 2026
Rocky Gerung Masuk Istana, Kritik Masihkah Berjarak?
Opini

Rocky Gerung Masuk Istana, Kritik Masihkah Berjarak?

7 Oktober 2026
Dengan Olahraga Kita Bersatu
Opini

Dengan Olahraga Kita Bersatu

6 Oktober 2026
Kumpulan Cerpen Artificial Intelligence (AI) Eksperimen dan Adaptasi Kemajuan
Opini

Kumpulan Cerpen Artificial Intelligence (AI) Eksperimen dan Adaptasi Kemajuan

3 Oktober 2026

Stay Connected

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Penutupan Plengkung Nirboyo (Plengkung Gading) untuk Konservasi dan Keselamatan

Penutupan Plengkung Nirboyo (Plengkung Gading) untuk Konservasi dan Keselamatan

15 Maret 2025
Bukber Alumni SMPN 1 Jogja Tahun 1983: Ayo Reuni & Bernostalgia!

Bukber Alumni SMPN 1 Jogja Tahun 1983: Ayo Reuni & Bernostalgia!

15 Maret 2025
Mematahkan Stigma, Penyintas Stroke Lumpuh dan Dokternya Berlari Bersama di Bethesda Heritage Run 2026: “Stroke Bukan Akhir Segalanya”

Mematahkan Stigma, Penyintas Stroke Lumpuh dan Dokternya Berlari Bersama di Bethesda Heritage Run 2026: “Stroke Bukan Akhir Segalanya”

17 Mei 2026
Retno Soetarto : Dunia Hiburan dapat Memberikan Manfaat Dalam Hidupnya.

Retno Soetarto : Dunia Hiburan dapat Memberikan Manfaat Dalam Hidupnya.

18 April 2024
Kapolres AKBP Deni Septiawan: Awasi Pergaulan Anak-anak Agar Tidak Terjerumus dan Penyalahgunaan Narkoba

Kapolres AKBP Deni Septiawan: Awasi Pergaulan Anak-anak Agar Tidak Terjerumus dan Penyalahgunaan Narkoba

0
Dampak Exit Tol di Maguwoharjo Dipetakan, Dishub DIY Wacanakan Bundaran Besar

Dampak Exit Tol di Maguwoharjo Dipetakan, Dishub DIY Wacanakan Bundaran Besar

0
Pelatih Fisik PSS Sleman Anel Hidic Benahi Fisik Pemain Secara Bertahap Hingga Capai Peak Performance Saat BRI Liga 1 Kembali Bergulir

Pelatih Fisik PSS Sleman Anel Hidic Benahi Fisik Pemain Secara Bertahap Hingga Capai Peak Performance Saat BRI Liga 1 Kembali Bergulir

0
Begini ritual tahunan di Jogja, pelaku wisata untung

Begini ritual tahunan di Jogja, pelaku wisata untung

0
Kapolres AKBP Deni Septiawan: Awasi Pergaulan Anak-anak Agar Tidak Terjerumus dan Penyalahgunaan Narkoba

Kapolres AKBP Deni Septiawan: Awasi Pergaulan Anak-anak Agar Tidak Terjerumus dan Penyalahgunaan Narkoba

23 Oktober 2026
Bupati Gunungkidul Ajak Warga Jaga Kebersihan Sungai, Korve Jumat Bersih Digelar di Kali Besole

Bupati Gunungkidul Ajak Warga Jaga Kebersihan Sungai, Korve Jumat Bersih Digelar di Kali Besole

23 Oktober 2026
Dorong Inovasi Berkelanjutan, PT Agrinas Palma Nusantara Gandeng CV Smart Batik Indonesia Berdayakan Pembatik di DIY

Dorong Inovasi Berkelanjutan, PT Agrinas Palma Nusantara Gandeng CV Smart Batik Indonesia Berdayakan Pembatik di DIY

23 Oktober 2026
Penggemblengan Kader DPC PDIP Kota Jogja Didominasi Generasi Muda, Eko Suwanto Sebut Ini Kabar Baik

Penggemblengan Kader DPC PDIP Kota Jogja Didominasi Generasi Muda, Eko Suwanto Sebut Ini Kabar Baik

23 Oktober 2026
Kapolres AKBP Deni Septiawan: Awasi Pergaulan Anak-anak Agar Tidak Terjerumus dan Penyalahgunaan Narkoba

Kapolres AKBP Deni Septiawan: Awasi Pergaulan Anak-anak Agar Tidak Terjerumus dan Penyalahgunaan Narkoba

23 Oktober 2026
Bupati Gunungkidul Ajak Warga Jaga Kebersihan Sungai, Korve Jumat Bersih Digelar di Kali Besole

Bupati Gunungkidul Ajak Warga Jaga Kebersihan Sungai, Korve Jumat Bersih Digelar di Kali Besole

23 Oktober 2026
Dorong Inovasi Berkelanjutan, PT Agrinas Palma Nusantara Gandeng CV Smart Batik Indonesia Berdayakan Pembatik di DIY

Dorong Inovasi Berkelanjutan, PT Agrinas Palma Nusantara Gandeng CV Smart Batik Indonesia Berdayakan Pembatik di DIY

23 Oktober 2026
Penggemblengan Kader DPC PDIP Kota Jogja Didominasi Generasi Muda, Eko Suwanto Sebut Ini Kabar Baik

Penggemblengan Kader DPC PDIP Kota Jogja Didominasi Generasi Muda, Eko Suwanto Sebut Ini Kabar Baik

23 Oktober 2026
Demo Berulang Dan Ancaman MSCI, Edy Suandi Hamid Ingatkan Risiko Ekonomi 

Demo Berulang Dan Ancaman MSCI, Edy Suandi Hamid Ingatkan Risiko Ekonomi 

23 Oktober 2026
Sekolah Keterbukaan Informasi Publik 2026: “Membangun Budaya Informasi yang Terbuka dan Bertanggung Jawab di Era Digital”

Sekolah Keterbukaan Informasi Publik 2026: “Membangun Budaya Informasi yang Terbuka dan Bertanggung Jawab di Era Digital”

23 Oktober 2026