KORAN MERAPI – Kota Yogyakarta tidak hanya dibentuk oleh garis imajiner dan peninggalan sejarah, tetapi juga oleh tiga sungai utama yang melintasinya: Sungai Code, Sungai Winongo, dan Sungai Gajah Wong. Dulu, kawasan bantaran sering dipersepsikan sebagai area belakang yang rentan dan kumuh. Namun, paradigma tersebut kini bergeser secara signifikan.
Tiga sungai ini bertransformasi menjadi koridor kehidupan, ruang publik, hingga destinasi wisata berbasis komunitas. Di balik dinamika perubahan positif ini, ada peran vital Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Kota Yogyakarta yang konsisten hadir mengawal dan memberdayakan warga.
Sebagai elemen masyarakat berbasis informasi, KIM menjalankan fungsi utama sebagai penyuluh informasi publik. Di era serba digital, KIM bertindak sebagai jembatan informasi yang akurat antara pemerintah kota dan masyarakat akar rumput.
Berbagai kebijakan penataan sungai, program mitigasi bencana, hingga edukasi tata ruang disampaikan melalui narasi yang mudah dipahami warga. Transparansi dan kemudahan akses informasi ini membangun rasa percaya serta meningkatkan kesadaran kolektif masyarakat akan pentingnya menjaga kawasan sungai.
Namun, alur komunikasi KIM tidak hanya berjalan satu arah. KIM Kota Yogyakarta juga mengambil peran krusial dalam penyerapan aspirasi masyarakat. Suara warga bantaran sungai, mulai dari kebutuhan fasilitas publik, kekhawatiran banjir, hingga gagasan kreatif pengelolaan ruang, dihimpun dan disalurkan secara terstruktur kepada pemangku kebijakan. Dengan menjadikan warga sebagai subjek, setiap perencanaan pembangunan destinasi wisata sungai terasa inklusif dan responsif terhadap kebutuhan riil di lapangan.
Tidak berhenti pada penyampaian aspirasi, KIM memberikan pendampingan intensif kepada warga dalam pengelolaan tiga sungai. Pendampingan ini mencakup penguatan kapasitas komunitas lokal, seperti pemuda dan kelompok sadar wisata (Pokdarwis).
Melalui pelatihan literasi digital, pengemasan cerita lokal (storytelling), dan manajemen tata kelola, KIM mendorong kemandirian warga agar mampu mengelola potensi sungainya secara berkelanjutan tanpa menghilangkan kearifan lokal yang ada.
Dalam pengembangan sungai sebagai destinasi wisata, keterlibatan aktif KIM terbukti menjadi katalisator utama. KIM membantu mempromosikan pesona lanskap Sungai Code, suasana keasrian Sungai Winongo, dan daya tarik edukasi ekologi di Sungai Gajah Wong melalui kanal digital dan media sosial. Promosi yang gencar dan kreatif ini berhasil menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara untuk menyusuri sudut-sudut unik Jogja dari tepi sungai.
Puncaknya, keberadaan KIM berfokus pada pelestarian lingkungan, budaya, dan potensi ekonomi masyarakat. Wisata sungai yang dikembangkan tidak semata-mata mengejar keuntungan finansial, tetapi menjaga keseimbangan ekosistem lewat aksi bersih sungai dan penanaman pohon. Nilai-nilai budaya dan tradisi lokal tetap dirawat sebagai atraksi utama, sementara roda perekonomian warga terus bergerak melalui geliat UMKM, kuliner lokal, serta ekowisata.
Melalui sinergi antara penyuluhan informasi, penyerapan aspirasi, dan pendampingan berkelanjutan, KIM Kota Yogyakarta membuktikan bahwa sungai bukan sekadar alir air, melainkan urat nadi peradaban, budaya, dan kesejahteraan masyarakat Yogyakarta.
Penulis: Tim KIM Kota Yogyakarta (Dinas Kominfosan Kota Yogyakarta)






