KORAN MERAPI – Perjalanan seorang anak laki-laki menuju kesuksesan tidak pernah benar-benar dimulai ketika ia memperoleh gelar, pekerjaan, atau jabatan. Semuanya bermula dari rumah, dari seorang ibu yang mengajarkan keberanian, kesabaran, dan doa. Di balik langkah seorang anak yang terlihat kuat, sering ada sosok ibu yang diam-diam menangis, bekerja, dan menyebut namanya dalam doa setelah salat.
وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka telah mendidikku ketika kecil.” (QS. Al-Isra: 24)
Sejak dahulu, Islam menempatkan ibu dalam posisi mulia. Rasulullah ﷺ bahkan menyebut ibu tiga kali sebelum ayah ketika ditanya siapa yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik. Sejarah para imam mazhab juga memperlihatkan pentingnya keluarga dalam perjalanan ilmu. Abu Hanifah, Malik, al-Syafi’i, dan Ahmad bin Hanbal tumbuh melalui proses pendidikan, kesungguhan, adab, serta lingkungan yang membentuk keteguhan mereka.
Keempat imam tersebut memang memiliki corak keilmuan berbeda, tetapi tradisi mereka sama-sama menempatkan penghormatan kepada orang tua sebagai bagian penting kehidupan seorang Muslim. Bagi seorang anak laki-laki, mengejar pendidikan dan masa depan bukan alasan untuk melupakan ibu. Semakin tinggi ilmu, gelar, dan jabatan, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaga akhlak dan berbakti.
وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
“Dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua.” (QS. Al-Isra: 23)
Doa ibu bukan pengganti ikhtiar. Seorang anak tetap harus belajar, bekerja keras, menjaga kejujuran, dan bangkit ketika gagal. Allah berfirman:
وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39)
Karena itu, kesuksesan sejati bukan sekadar memiliki gelar atau jabatan tinggi. Kesuksesan adalah ketika ilmu membuat seseorang semakin rendah hati, rezeki membuatnya dermawan, dan keberhasilan membuatnya semakin dekat kepada Allah serta semakin sayang kepada ibunya.
Jangan menunggu sukses untuk membahagiakan ibu. Teleponlah selagi bisa, pulanglah selagi ada rumah, dan ucapkan terima kasih selagi bibir masih mampu berbicara. Sebab suatu hari, anak mungkin memiliki segalanya, tetapi tidak lagi memiliki kesempatan untuk memeluk perempuan yang dahulu selalu mendoakannya.
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ
“Ya Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku.” (QS. Ibrahim: 41). (*)




















