
KORAN MERAPI – Sorak sorai anak-anak memenuhi serambi Masjid Al-Hidayah, Piyungan. Tangan-tangan kecil terangkat bersautan, masing-masing berebut menjadi yang pertama menjawab pertanyaan pengajar TPA.
Suasana sore itu hidup, hangat, dan penuh semangat, persis seperti yang terjadi setiap hari selama Ramadan di desa Piyungan.
Di serambi itulah, setiap Senin hingga Sabtu selama bulan puasa, sekitar 60 paket takjil disiapkan untuk para santri TPA dan jamaah yang hadir.
Namun yang membuat tradisi ini istimewa bukan sekadar jumlahnya, melainkan cara pengadaannya, setiap hari, giliran yang memasak berpindah tangan.
Sistem penakjil bergilir inilah yang menjadi roh kegiatan buka bersama di Masjid Al-Hidayah Piyungan.
Di awal Ramadan, panitia masjid membuka pendaftaran bagi warga yang ingin kebagian giliran menjadi penakjil.
Setiap kelompok, yang biasanya terdiri dari tiga orang, mendapat jatah satu hari dalam rentang 30 hari Ramadan untuk memasak dan menanggung seluruh takjil secara mandiri, mulai dari biaya hingga tenaga.
Yang menarik, pendaftaran ini tidak pernah sepi. Warga justru berlomba-lomba agar kebagian giliran.
Dana yang digunakan sepenuhnya berasal dari kantong pribadi anggota kelompok serta iuran sesama ibu-ibu RT.
Masjid hanya menyediakan teh hangat yang bersumber dari kas masjid sebagai pelengkap sajian.
Risti, pengurus TPA Masjid Al-Hidayah, menjelaskan bahwa karena penakjil berganti setiap harinya, menu takjil pun ikut berubah.
Tidak ada menu yang pasti, setiap kelompok bebas memasak apa yang mereka ingin sajikan.
Proses memasak biasanya dimulai dari pagi hari dan rampung sekitar pukul 14.00, meski durasi sebenarnya bergantung pada jenis masakan yang disiapkan.
Sekitar 15 menit sebelum azan Maghrib berkumandang, panitia mulai membagikan takjil kepada para santri dan jamaah.
Penerima utama adalah anak-anak santri TPA, namun setiap jamaah yang hadir pun turut mendapatkan bagian.
Sementara itu, setiap hari Minggu, suasana bergeser. Buka bersama tidak lagi diramaikan oleh tawa anak-anak, melainkan berlangsung khidmat di dalam masjid usai pengajian mingguan yang dihadiri jamaah remaja, dewasa, hingga lansia.
Sekitar 10 menit sebelum azan, pengajian ditutup, dan panitia langsung membagikan takjil di tempat yang sama.
Tradisi ini bukan barang baru. Menurut Risti, kegiatan buka bersama di Masjid Al-Hidayah sudah berlangsung lebih dari 28 tahun. Selama itu pula, semangat warga untuk turut andil sebagai penakjil tidak pernah surut.
Di balik setiap bungkusan takjil yang berpindah tangan sebelum azan, ada kerja gotong royong yang sudah mengakar.
Bukan sekadar berbagi makanan, melainkan cara warga Piyungan menjaga agar Ramadan terasa utuh, dari pagi di dapur, hingga sore di serambi masjid. (Hari Setyo Nur Pamungkas)



















