KORAN MERAPI – Setelah sukses menorehkan prestasi gemilang di tingkat lokal, Kelurahan Gunungketur yang terletak di wilayah Kemantren Pakualaman, Kota Yogyakarta, kembali mengukir sejarah baru. Setelah sebelumnya menyabet Juara 1 Lomba Kelurahan se-Kota Yogyakarta 2026, Kelurahan Gunungketur kini resmi menyandang predikat sebagai Juara 1 Lomba Tingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) 2026.
Atas capaian luar biasa tersebut, kelurahan ini tidak berpuas diri dan langsung tancap gas mempersiapkan diri untuk melangkah ke panggung yang lebih tinggi yakni kompetisi Lomba Kelurahan Tingkat Regional 2 Jawa-Bali.
Keberhasilan beruntun ini menjadi bukti nyata dari komitmen kerja tanpa batas, pembagian fungsi teknis yang matang, serta pengelolaan potensi wilayah secara cerdas melalui penguatan rantai pasok UMKM, sinergi lembaga, dan semangat kerja totalitas seluruh elemen masyarakat.
Lurah Gunungketur, Sunarni, SM, MM, mengungkapkan rasa syukur sekaligus menegaskan kesiapan jajarannya dalam menghadapi kompetisi sengit di Tingkat Regional 2 Jawa-Bali. Menurutnya, amanah ini merupakan tanggung jawab besar yang harus dijawab dengan inovasi yang kian solid.
“Kami memiliki cita-cita sejak awal, jika ditugasi oleh pimpinan, maka tugas itu harus diselesaikan dengan maksimal. Dari tingkat kota, lalu provinsi, dan kini menuju regional Jawa-Bali, tim kelurahan bersama warga terus merapatkan barisan. Kami ingin memastikan prosesnya berjalan menyenangkan namun hasilnya tetap maksimal,” ujar Sunarni dengan penuh semangat saat diwawancarai di ruang kerjanya di Kantor Kelurahan Gunungketur, Jalan Jayaningprangan Nomor 10, Yogyakarta.
Strategi awal dengan membedah seluruh instrumen lomba dan membagi habis tanggung jawab kepada pegawai sesuai kapasitas teknisnya terbukti menjadi kunci sukses. Kelurahan Gunungketur dinilai unggul mutlak dalam tiga kategori utama, yaitu tertib administrasi, pemaparan program, hingga proses klarifikasi lapangan yang melibatkan partisipasi aktif seluruh lapisan masyarakat.

Menghadapi tantangan di Tingkat Regional 2 Jawa-Bali yang menitikberatkan pada keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat, Kelurahan Gunungketur membawa dua inovasi unggulan baru yang telah terbukti mandiri dan berdampak sistemik, yaitu Bank Sampah (BS) Alamanda, Kelurahan Gunungketur berhasil mengoptimalkan pengelolaan lingkungan hidup melalui BS Alamanda. Bank sampah ini dinilai sangat sukses karena mampu bertransformasi menjadi lembaga yang mandiri secara finansial dan operasional dalam pengelolaan sampah wilayah. Formula pengolahan sampah di sini tidak hanya mereduksi dampak lingkungan, tetapi juga diintegrasikan dengan ekosistem sirkular, seperti budidaya perikanan (ternak lele) yang kemanfaatannya kembali langsung ke warga.
Kemudian dapur berkah penyuplai SPPG, dimana di sektor kesehatan dan ketahanan sosial, Kelurahan Gunungketur mengandalkan “Dapur Berkah”. Unit usaha sosial ini bergerak produktif sebagai penyuplai utama makanan sehat untuk program Satuan Pelayanan Pemakanan Bergizi (SPPG), sebuah langkah taktis dalam mendukung program nasional serta pemenuhan gizi penanganan stunting secara berkelanjutan.
Meski tidak memiliki lahan pertanian mandiri berskala besar, Kelurahan Gunungketur mampu membalikkan keterbatasan geografis perkotaan menjadi keunggulan ekonomi melalui integrasi rantai pasok lokal yang kokoh.
Sektor kuliner, PKK, Koperasi Batik Gunungketur, hingga UMKM lokal saling mengunci dalam ekosistem yang sehat. Sebagai contoh, dalam program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) stunting, Tim Penggerak PKK diwajibkan menggandeng UMKM lokal untuk memproduksi makanan sehat tersebut.
“Pola hubungan rantai pasok ini berjalan nyata. Perputaran ekonominya berada di lingkungan masyarakat kita sendiri, sehingga dari warga, oleh warga, dan untuk warga,” urai Sunarni.
Ditambah lagi, Koperasi Batik Gunungketur juga telah memiliki rekam jejak solid dalam memproduksi seragam ASN secara produktif.
Di balik rentetan trofi penghargaan ini, Sunarni mengakui ada pengorbanan waktu yang luar biasa dari seluruh jajarannya. Aparatur kelurahan secara konsisten menambah waktu kerja ekstra satu hingga dua jam setiap hari, bahkan tetap masuk di hari libur demi memastikan seluruh indikator penilaian terpenuhi dengan kualitas terbaik.
Sunarni, yang dalam kehidupan pribadinya merupakan istri dari Eko Budi Prasetyo, pegawai KUA Kotagede dan ibu dari tiga anak tersebut, berharap momentum menuju Regional Jawa-Bali ini tidak membuat jajarannya tinggi hati, melainkan menjadi pemantik untuk bersikap lebih bijak serta menjadi sarana ekspos potensi wilayah.
Target jangka panjang dari kompetisi ini adalah dampak nyata bagi masyarakat luas: menekan angka kemiskinan, menaikkan taraf kesejahteraan ekonomi, dan mengaktifkan warga produktif di berbagai lini, baik di Sentra Batik, kelompok tani perkotaan, maupun ekosistem pemenuhan bahan pangan lokal.
Di akhir sesi wawancara mendalam, Sunarni kembali menegaskan tiga kata utama yang menjadi fondasi dan arah masa depan wilayah yang dipimpinnya menuju panggung Regional 2 Jawa-Bali: “Bersahaja, Berprestasi, dan Berdaya.”(Ags)



















