KORAN MERAPI – Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melalui Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) secara resmi membuka gelaran Festival Kethoprak Tingkat Kabupaten Tahun 2026 pada Senin malam, (6/7/2026). Acara yang berlangsung meriah di Auditorium Taman Budaya Gunungkidul (TBG) ini dihadiri langsung oleh Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta tokoh-tokoh kebudayaan setempat.
Dalam laporan penyelenggaraannya, Kepala Dinas Kebudayaan Gunungkidul, Agung Danarto menyampaikan bahwa festival ini merupakan langkah nyata pemerintah daerah untuk memastikan seni kethoprak tetap eksis dan digemari oleh seluruh lapisan masyarakat, khususnya generasi muda. Penyelenggaraan festival ini didasarkan pada payung hukum yang kuat, antara lain Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan DIY, Perda DIY tentang pemeliharaan kebudayaan, serta Perda Kabupaten Gunungkidul Nomor 6 Tahun 2021.
“Festival ini berlangsung mulai dari Senin, 6 Juli hingga puncaknya pada Selasa, 14 Juli 2026. Namun, terdapat informasi bahwa akan ada jeda kegiatan pada tanggal 10 Juni karena adanya agenda luar biasa lainnya, termasuk rencana pemecahan rekor MURI di Gunungkidul.” ujar Kepala Dinas.

Agung Danarto mengungkapkan, tahun ini, Festival Ketoprak mengusung tema besar sejarah yang sangat spesifik, yakni “Mataram Pasca Perjanjian Giyanti”. Cerita yang ditampilkan mencakup rentang sejarah sejak pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono I hingga Sri Sultan Hamengkubuwono II, termasuk kisah ikonik seperti Babat Alas Pring.
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih dalam sambutannya menekankan bahwa festival ini bukan sekadar tontonan, melainkan media tuntunan dan pengingat jati diri bangsa. “Sejarah punika wigati sanget kangge pengeling-eling bilih jati diri kita minangka bangsa ingkang ngadahi dasar kabudayan ingkang luhur,” ungkap Bupati dalam pidatonya yang menggunakan bahasa Jawa yang krama.
Festival ini diikuti oleh kontingen dari 18 kapanewon se-Kabupaten Gunungkidul. Pada malam pembukaan, terdapat tiga kapanewon yang tampil sebagai pembuka kompetisi. Para peserta akan dinilai oleh dewan juri yang terdiri dari para pakar dan praktisi seni berpengalaman, yaitu:
1. Anom Sutrisno, S.Sn., M.Sn. (Dosen Seni Karawitan FSP ISI Yogyakarta).
2. Oki Suryaniwati, S.Sn. (Praktisi dan pemerhati seni ketoprak).
3. Dr. Indra Tranggono (Budayawan dan sastrawan).
4. Alvian Anggorukti, S.Pd., M.Pd. (Dosen UNY dan praktisi naskah).
Selain memperebutkan gelar Juara Umum (Pinunjul 1 hingga 5), panitia juga memberikan penghargaan untuk kategori perorangan terbaik, mulai dari Sutradara, Penulis Naskah, Penata Gending, Pemeran Utama (Putra/Putri), Pemeran Pembantu, hingga Penata Busana dan Rias.
Bupati Gunungkidul juga mengajak masyarakat yang ingin menyaksikan kebolehan para aktor lokal ini dapat datang langsung ke Auditorium Taman Budaya Gunungkidul Gratis atau menyaksikannya secara daring melalui kanal YouTube Kebudayaan Gunungkidul.
“Melalui festival ini, diharapkan potensi dan bakat seniman lokal, terutama kaum muda (wiranem), dapat terus terasah sehingga seni kethoprak tidak akan hilang ditelan zaman.” ujar Bupati. (Rls)
Sebagai Informasi terbaru, terkait jadwal dan perkembangan festival juga dapat dipantau melalui media sosial resmi Dinas Kebudayaan Gunungkidul di Facebook, Instagram, dan TikTok.




















