Selasa, 27 Oktober 2026
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan
  • Redaksi
  • Kontak
  • Login
  • Register
Koran Merapi
Advertisement
  • Home
  • News
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Ekbis
  • Olahraga
  • Kesehatan
  • Wisata
  • Kuliner
  • Budaya
  • Opini
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Ekbis
  • Olahraga
  • Kesehatan
  • Wisata
  • Kuliner
  • Budaya
  • Opini
No Result
View All Result
Koran Merapi
No Result
View All Result
Home Opini

Ketika Gol Piala Dunia Menggerakkan Ekonomi Bali

Oleh: I Gede Sumitra Jaya, S.IP., MPA. (Dosen Program Studi Ilmu Administrasi Publik, Universitas Udayana)

admin by admin
14 Juli 2026
in Opini
0
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

KORAN MERAPI – Pemerintah daerah di berbagai belahan dunia berlomba menjadi tuan rumah ajang internasional. Mulai dari konferensi, festival budaya, konser musik, hingga kompetisi olahraga, semuanya dipandang sebagai instrumen untuk menarik wisatawan sekaligus menggerakkan perekonomian lokal. Logikanya sederhana: semakin besar sebuah peristiwa, semakin besar pula perputaran uang yang dihasilkan.

Namun, ada ironi yang jarang disadari. Di Bali, aktivitas ekonomi justru tumbuh dari sebuah peristiwa yang sama sekali tidak berlangsung di Indonesia, yaitu Piala Dunia.

Selama beberapa pekan terakhir, banyak sports bar, beach club, restoran, dan kafe di kawasan wisata seperti Canggu, Seminyak, Uluwatu, hingga Sanur dipenuhi wisatawan asing yang datang untuk menyaksikan pertandingan bersama. Mereka tidak sekadar menonton sepak bola. Mereka membeli makanan dan minuman, menggunakan transportasi daring, memperpanjang waktu berada di kawasan wisata, bahkan tidak sedikit yang menyesuaikan agenda liburannya agar dapat mengikuti pertandingan tim nasional negaranya.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa Piala Dunia bukan hanya peristiwa olahraga. Bagi Bali, Piala Dunia merupakan peristiwa ekonomi.

Sayangnya, aktivitas ekonomi yang tumbuh dari momentum tersebut masih berlangsung secara organik melalui inisiatif pelaku usaha. Pemerintah daerah belum melihatnya sebagai bagian dari strategi pembangunan ekonomi maupun peningkatan pendapatan daerah. Padahal, di sinilah sesungguhnya terdapat ruang inovasi kebijakan yang selama ini luput dari perhatian.

Selama ini, pembangunan pariwisata Bali masih didominasi paradigma destination economy, yaitu bagaimana menarik wisatawan untuk datang melalui promosi destinasi, pembangunan infrastruktur, atau penyelenggaraan event di daerah. Pendekatan tersebut tentu tetap relevan. Akan tetapi, perubahan perilaku wisatawan global menunjukkan bahwa daya saing destinasi tidak lagi hanya ditentukan oleh apa yang dimiliki suatu daerah, melainkan juga oleh kemampuannya mengelola berbagai momentum yang terjadi di luar wilayahnya.

Di era digital, perhatian masyarakat dunia bergerak mengikuti berbagai peristiwa global. Piala Dunia merupakan salah satu contohnya. Meskipun pertandingan berlangsung ribuan kilometer dari Indonesia, jutaan orang tetap mencari ruang untuk menikmati atmosfer pertandingan bersama. Bagi Bali yang dihuni wisatawan dari berbagai negara sepanjang tahun, situasi tersebut menciptakan pasar yang sudah tersedia tanpa perlu biaya promosi tambahan.

Dengan kata lain, Bali menikmati limpahan ekonomi (spillover economy) dari sebuah peristiwa global.

Ironisnya, limpahan ekonomi tersebut belum pernah benar-benar dikelola.

Padahal, setiap pertandingan menciptakan rantai konsumsi yang cukup panjang. Wisatawan tidak hanya membayar tiket masuk ke sebuah sports bar atau membeli secangkir kopi. Mereka memesan makanan, membeli minuman, menggunakan jasa transportasi, berbelanja di toko sekitar, hingga memperpanjang waktu tinggal. Seluruh transaksi tersebut kemudian menggerakkan pelaku UMKM, pekerja sektor jasa, industri kuliner, transportasi, serta meningkatkan penerimaan dari pajak hotel dan restoran.

Artinya, nilai ekonomi Piala Dunia di Bali tidak berhenti pada layar televisi yang menayangkan pertandingan, tetapi menyebar ke berbagai sektor ekonomi lokal.

Fenomena ini seharusnya mendorong perubahan cara pandang pemerintah daerah terhadap pembangunan pariwisata. Fokus kebijakan tidak lagi semata-mata mengejar penyelenggaraan event, tetapi juga mengelola event spillover, yaitu kemampuan menangkap manfaat ekonomi dari berbagai peristiwa global meskipun tidak diselenggarakan di daerah tersebut.

Pendekatan seperti ini relatif murah, tetapi berpotensi menghasilkan dampak ekonomi yang besar. Pemerintah daerah tidak perlu mengeluarkan anggaran miliaran rupiah untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia. Sebaliknya, pemerintah cukup membangun ekosistem yang mampu mengoptimalkan aktivitas ekonomi yang telah terbentuk secara alami.

Sebagai contoh, pemerintah dapat menyusun kalender Global Event Tourism yang memanfaatkan berbagai agenda internasional, mulai dari Piala Dunia, Olimpiade, Formula 1, hingga turnamen tenis Grand Slam. Momentum tersebut kemudian diintegrasikan dengan festival kuliner, pertunjukan seni budaya, promosi UMKM, paket wisata, maupun penyelenggaraan public viewing di berbagai destinasi wisata.

Pendekatan ini juga dapat memperkuat pengembangan night-time economy yang selama ini belum menjadi perhatian serius dalam kebijakan pariwisata Bali. Sebagian besar pertandingan olahraga internasional berlangsung pada malam hingga dini hari waktu Indonesia. Jika dikelola dengan baik melalui dukungan transportasi, keamanan, kebersihan, dan aktivitas ekonomi kreatif, maka kawasan wisata dapat tetap produktif tanpa harus bergantung pada pola kunjungan wisata konvensional.

Lebih jauh lagi, strategi ini memberikan peluang bagi pemerintah daerah untuk memperluas basis penerimaan daerah tanpa harus menciptakan objek pajak baru. Peningkatan transaksi pada sektor hotel, restoran, hiburan, maupun jasa akan secara otomatis meningkatkan penerimaan daerah melalui mekanisme pajak yang telah tersedia. Dengan demikian, inovasi kebijakan tidak selalu identik dengan regulasi baru, melainkan kemampuan membaca perubahan perilaku masyarakat dan mengubahnya menjadi nilai tambah ekonomi.

Pada akhirnya, tantangan terbesar Bali bukanlah bagaimana menghadirkan lebih banyak wisatawan. Pulau ini telah lama menjadi salah satu destinasi wisata dunia. Tantangan yang sesungguhnya adalah bagaimana mengoptimalkan setiap momentum global menjadi sumber pertumbuhan ekonomi lokal yang berkelanjutan.

Di era ekonomi pengalaman, keunggulan suatu daerah tidak lagi ditentukan semata-mata oleh keindahan alam atau banyaknya agenda yang diselenggarakan. Keunggulan ditentukan oleh kemampuan pemerintah mengubah perhatian dunia menjadi aktivitas ekonomi yang nyata bagi masyarakatnya. Dan terkadang, semua itu bermula dari sesuatu yang sangat sederhana: satu gol yang tercipta ribuan kilometer dari Pulau Dewata, tetapi mampu menggerakkan roda ekonomi Bali. (***)

Tags: BaliGlobal Event TourismKoranmerapi.idPiala DuniaUmkmWisatawan

Related Posts

Saatnya Memperingati Hari Santri Nasional
Opini

Saatnya Memperingati Hari Santri Nasional

22 Oktober 2026
Rapor Pemerintahan Prabowo–Gibran: MBG Meluas, Tata Kelola Dipertanyakan, Pendidikan Terdesak dalam Paradoks Pembangunan SDM
Opini

Rapor Pemerintahan Prabowo–Gibran: MBG Meluas, Tata Kelola Dipertanyakan, Pendidikan Terdesak dalam Paradoks Pembangunan SDM

22 Oktober 2026
Dua Tahun Prabowo-Gibran: Antara Ambisi Pembangunan, Kesejahteraan Rakyat, dan Ujian Demokrasi 
Opini

Dua Tahun Prabowo-Gibran: Antara Ambisi Pembangunan, Kesejahteraan Rakyat, dan Ujian Demokrasi 

21 Oktober 2026
Rocky Gerung Masuk Istana, Kritik Masihkah Berjarak?
Opini

Rocky Gerung Masuk Istana, Kritik Masihkah Berjarak?

7 Oktober 2026
Dengan Olahraga Kita Bersatu
Opini

Dengan Olahraga Kita Bersatu

6 Oktober 2026
Kumpulan Cerpen Artificial Intelligence (AI) Eksperimen dan Adaptasi Kemajuan
Opini

Kumpulan Cerpen Artificial Intelligence (AI) Eksperimen dan Adaptasi Kemajuan

3 Oktober 2026

Stay Connected

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Penutupan Plengkung Nirboyo (Plengkung Gading) untuk Konservasi dan Keselamatan

Penutupan Plengkung Nirboyo (Plengkung Gading) untuk Konservasi dan Keselamatan

15 Maret 2025
Bukber Alumni SMPN 1 Jogja Tahun 1983: Ayo Reuni & Bernostalgia!

Bukber Alumni SMPN 1 Jogja Tahun 1983: Ayo Reuni & Bernostalgia!

15 Maret 2025
Mematahkan Stigma, Penyintas Stroke Lumpuh dan Dokternya Berlari Bersama di Bethesda Heritage Run 2026: “Stroke Bukan Akhir Segalanya”

Mematahkan Stigma, Penyintas Stroke Lumpuh dan Dokternya Berlari Bersama di Bethesda Heritage Run 2026: “Stroke Bukan Akhir Segalanya”

17 Mei 2026
Retno Soetarto : Dunia Hiburan dapat Memberikan Manfaat Dalam Hidupnya.

Retno Soetarto : Dunia Hiburan dapat Memberikan Manfaat Dalam Hidupnya.

18 April 2024
Rakordal Triwulan III DIY Bahas Ketenagakerjaan, Tantangan Pembangunan Daerah

Rakordal Triwulan III DIY Bahas Ketenagakerjaan, Tantangan Pembangunan Daerah

0
Dampak Exit Tol di Maguwoharjo Dipetakan, Dishub DIY Wacanakan Bundaran Besar

Dampak Exit Tol di Maguwoharjo Dipetakan, Dishub DIY Wacanakan Bundaran Besar

0
Pelatih Fisik PSS Sleman Anel Hidic Benahi Fisik Pemain Secara Bertahap Hingga Capai Peak Performance Saat BRI Liga 1 Kembali Bergulir

Pelatih Fisik PSS Sleman Anel Hidic Benahi Fisik Pemain Secara Bertahap Hingga Capai Peak Performance Saat BRI Liga 1 Kembali Bergulir

0
Begini ritual tahunan di Jogja, pelaku wisata untung

Begini ritual tahunan di Jogja, pelaku wisata untung

0
Rakordal Triwulan III DIY Bahas Ketenagakerjaan, Tantangan Pembangunan Daerah

Rakordal Triwulan III DIY Bahas Ketenagakerjaan, Tantangan Pembangunan Daerah

27 Oktober 2026
GANIDAR Salurkan Air Bersih dan Tanam 1.000 Pohon dari BSPTH Jateng di Magelang lewat Caring for Nation #7

GANIDAR Salurkan Air Bersih dan Tanam 1.000 Pohon dari BSPTH Jateng di Magelang lewat Caring for Nation #7

27 Oktober 2026
Bulan Bakti Karang Taruna 2026: Syauqi Soeratno Tantang Karang Taruna Wujudkan Kerja Nyata

Bulan Bakti Karang Taruna 2026: Syauqi Soeratno Tantang Karang Taruna Wujudkan Kerja Nyata

27 Oktober 2026
Dua Tahun Prabowo-Gibran di Mata Pemuda Jogja: Apresiasi Kebebasan Sipil, Evaluasi Komunikasi Pemerintah

Dua Tahun Prabowo-Gibran di Mata Pemuda Jogja: Apresiasi Kebebasan Sipil, Evaluasi Komunikasi Pemerintah

27 Oktober 2026
Rakordal Triwulan III DIY Bahas Ketenagakerjaan, Tantangan Pembangunan Daerah

Rakordal Triwulan III DIY Bahas Ketenagakerjaan, Tantangan Pembangunan Daerah

27 Oktober 2026
GANIDAR Salurkan Air Bersih dan Tanam 1.000 Pohon dari BSPTH Jateng di Magelang lewat Caring for Nation #7

GANIDAR Salurkan Air Bersih dan Tanam 1.000 Pohon dari BSPTH Jateng di Magelang lewat Caring for Nation #7

27 Oktober 2026
Bulan Bakti Karang Taruna 2026: Syauqi Soeratno Tantang Karang Taruna Wujudkan Kerja Nyata

Bulan Bakti Karang Taruna 2026: Syauqi Soeratno Tantang Karang Taruna Wujudkan Kerja Nyata

27 Oktober 2026
Dua Tahun Prabowo-Gibran di Mata Pemuda Jogja: Apresiasi Kebebasan Sipil, Evaluasi Komunikasi Pemerintah

Dua Tahun Prabowo-Gibran di Mata Pemuda Jogja: Apresiasi Kebebasan Sipil, Evaluasi Komunikasi Pemerintah

27 Oktober 2026
Bupati Gunungkidul Beri Penghargaan Wajib Pajak, Bentuk Apresiasi Atas Kepatuhan Pajak sebagai Pembangunan Daerah

Bupati Gunungkidul Beri Penghargaan Wajib Pajak, Bentuk Apresiasi Atas Kepatuhan Pajak sebagai Pembangunan Daerah

26 Oktober 2026
Cegah Bencana Alam, Eko Suwanto Mendorong Pemda DIY Tahun 2027 Deklarasikan Tahun Menanam

Cegah Bencana Alam, Eko Suwanto Mendorong Pemda DIY Tahun 2027 Deklarasikan Tahun Menanam

26 Oktober 2026