
KORAN MERAPI – Suara denting gamelan terdengar mengalun dari dalam Bangsal Srimanganti, Keraton Yogyakarta.
Alunan tersebut mengiringi pertunjukan wayang golek di hadapan para pengunjung.
Bunyi tabuhan gamelan berpadu dengan suara dalang yang mulai melantunkan bait-bait cerita, menciptakan atmosfer khas seni pertunjukan tradisional Jawa.
Berlangsung di area Keraton Yogyakarta, pertunjukan ini menarik perhatian pengunjung museum Keraton yang datang dan pergi.
Sebagian penonton duduk untuk menyaksikan pertunjukan hingga selesai, sementara yang lain berdiri sejenak melanjutkan tur museumnya.
Meski demikian, cerita tetap berlanjut dengan iringan gamelan dan nyanyian para sinden yang konsisten sepanjang pertunjukan.
Pertunjukan wayang golek ini merupakan bagian dari program seni Keraton Yogyakarta.
Melalui kegiatan tersebut, Keraton berusaha memperkenalkan seni tradisional kepada masyarakat lokal hingga wisatawan asing yang berkunjung.
Pengunjung yang hadir pun beragam, mulai dari warga sekitar, wisatawan domestik, dan wisatawan asing.
Wayang golek adalah jenis teater boneka yang berkembang di berbagai wilayah Indonesia, terutama Jawa.
Setiap pertunjukan tidak hanya menceritakan sebuah cerita, namun juga menyampaikan nilai-nilai budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Iringan gamelan menjadi unsur pelengkap yang menyelaraskan jalannya pertujukan, sehingga cerita dapat lebih mudah diterima oleh berbagai kalangan.
Balqis, salah seorang penonton, mengaku tertarik menonton karena alunan gamelan yang terdengar mengundang perhatiannya.
Ia menilai pementasan semacam ini memiliki peran penting dalam upaya pelestarian budaya. “Pertunjukan seperti ini memiliki peran penting dalam memperkenalkan budaya kepada semua kalangan” ujarnya.
Pertunjukan wayang golek masih dipertahankan sebagai bagian dari paket wisata Keraton untuk memperkenalkan seni tradisional kepada pengunjung lintas generasi, mulai dari anak-anak, remaja, hingga dewasa.
Kehadiran wayang golek dalam program wisata Keraton tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana edukasi budaya melalui pengalaman menonton secara langsung.
Dengan cara ini, Keraton Yogyakarta berupaya mempertahankan keberlangsungan seni tradisional agar tetap relevan dan dikenal oleh generasi saat ini maupun mendatang.
Di tengah perubahan zaman yang semakin masif, seni pertunjukan tradisional wayang golek tetap mendapatkan tempat di tengah masyarakat.
Kehadiran pengunjung dengan latar belakang yang beragam menunjukkan bahwa kesenian tradisional masih diminati dan diapresiasi.
Namun, kondisi ini bukan berarti dapat membuat masyarakat berpuas diri, melainkan menjadi penginggat akan pentingnya terus melestarikan dan menikmati kesenian yang ada.
Pertunjukan wayang golek di Keraton Yogyakarta pun terus berlangsung hingga selesai dengan iringan gamelan dan nyanyian sinden yang perlahan mereda.
Para penonton perlahan meninggalkan area pertunjukan. Meski pementasan telah usai, kesan yang ditinggalkan diharapkan tetap melekat dalam ingatan setiap pengunjung yang menyaksikannya. (Hari Setyo Nur Pamungkas)




















