
KORAN MERAPI – Judul pameran Let Them Eat Cake sempat menimbulkan salah tafsir bagi pengunjung. Alih-alih pameran kuliner, pameran yang digelar di Cemeti–Institute for Art and Society ini justru menghadirkan refleksi tajam tentang ketimpangan kekuasaan, keresahan sosial, dan suara rakyat yang kerap tak didengar.
Pameran seni rupa yang berlangsung pada 8–29 Januari 2026 lalu ini merupakan hasil kolaborasi Cemeti Institute for Art and Society dan KADIST, dengan melibatkan 10 seniman dari berbagai latar dan wilayah.
Kurasi pameran dilakukan oleh Mira Asriningtyas, Dito Yuwono, dan Shona Mei Findlay.
Judul Let Them Eat Cake sendiri diambil dari sebuah anekdot pada masa Revolusi Prancis.
Ungkapan tersebut merujuk pada sikap elite yang terputus dari realitas rakyatnya. Tema ini kemudian ditarik ke konteks yang lebih dekat dengan kondisi sosial hari ini.
“Tema besar pameran ini berangkat dari situasi Indonesia setahun ke belakang, ketika banyak peristiwa sosial dan kebijakan yang menimbulkan keresahan,” ujar Damar, staf galeri Cemeti.
Menurutnya, berbagai aksi demonstrasi yang terjadi tidak berdiri sendiri, melainkan berawal dari keresahan personal yang kemudian berubah menjadi gerakan kolektif.
Melalui medium seni, pameran ini berupaya membuka ruang dialog. “Pada akhirnya, seni bisa berperan sebagai medium untuk membicarakan sesuatu dengan cara seperti itu,” lanjut Damar.
Karya-karya yang dipamerkan merupakan bagian dari koleksi KADIST, sebuah institut seni yang berbasis di Paris dan Amerika Serikat.
Koleksi tersebut dipilih dan disesuaikan dengan tema pameran, menyoroti bagaimana kekuasaan melekat dalam lanskap, tubuh, serta ingatan kolektif masyarakat.
Pengalaman serupa dirasakan Wedya (21), seorang mahasiswa yang datang sebagai pengunjung.
Ia mengaku sempat kebingungan saat pertama kali melihat pameran tersebut. “Awalnya saya pikir ini tentang kue atau kuliner. Tapi setelah membaca penjelasan di booklet, saya jadi takjub dan mulai memahami pesan yang ingin disampaikan,” tuturnya.
Wedya menilai pameran ini relevan dengan kondisi sosial saat ini, meski karya-karyanya merujuk pada peristiwa di berbagai negara.
Salah satu karya yang paling menarik perhatiannya adalah instalasi tentang pejabat yang tak pernah merasa puas dan bawahan yang selalu patuh.
“Setelah membaca penjelasannya, karya itu jadi mudah dipahami,” katanya.
Secara visual, ruang pamer di Cemeti tampil sederhana dengan dominasi dinding putih yang dipenuhi berbagai karya seni.
Suasana cenderung hening, terutama pada saat hari dan jam kerja. Identitas karya tidak langsung ditempel pada dinding, melainkan dijelaskan melalui booklet yang disediakan, mendorong pengunjung untuk lebih aktif membaca dan menafsirkan.
Melalui Let Them Eat Cake, seni tidak hanya hadir sebagai objek visual, tetapi juga sebagai medium refleksi sosial.
Pameran ini mengajak pengunjung untuk menengok kembali jarak antara penguasa dan rakyat, serta mempertanyakan ketidakadilan yang kerap dianggap sebagai sesuatu yang wajar.
“Semoga semakin banyak yang datang menikmati pameran ini,” ujar Wedya, berharap ruang-ruang seni semacam ini terus hadir dan berkembang di kemudian hari. (Zania Alfin Wafiroh)



















