KORAN MERAPI — Program bedah rumah Pemerintah Kota Yogyakarta terus digenjot untuk mewujudkan hunian layak bagi masyarakat. Dari target 200 rumah pada 2026, sebanyak 162 rumah telah terealisasi. Dengan demikian, masih terdapat 38 rumah yang harus dituntaskan untuk mencapai target tersebut.
Semangat gotong royong menjadi kekuatan dalam pelaksanaan program. Pemerintah tidak bekerja sendiri, tetapi menggandeng masyarakat, dunia usaha, perbankan, organisasi profesi dan berbagai stakeholder untuk mempercepat perbaikan rumah warga yang kondisinya membutuhkan penanganan.
Pelaksanaan bedah rumah, Minggu (13/9/2026), dilakukan di 4 titik yaitu Juminahan, Tegalpanggung, Wirobraja (2 titik) dan dipusatkan di Juminahan. Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menyempatkan meninjau rumah warga yang akan diperbaiki, di antaranya milik M Ridwan Qodari dan Ngatinah. Kedua rumah tersebut dinilai membutuhkan perbaikan karena kondisi bangunannya cukup memprihatinkan.
Kegiatan tersebut dihadiri Ketua PWI DIY Hudono, Sekda Kota Yogyakarta Budi Asrori, Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Persandian (Kominfosan) Kota Yogyakarta Ignatius Trihastono, Pemimpin Bank BPD DIY Cabang Senopati ,Gunawan Hasri Baskoro serta jajaran pemerintah kelurahan, Pinituwa, RT/RW serta sejumlah stakeholder pendukung.
Hasto mengatakan, gotong royong menjadi bagian penting dalam pelaksanaan bedah rumah. Keterlibatan masyarakat mampu menekan biaya pembangunan sekaligus memperkuat kepedulian terhadap warga yang membutuhkan.
“Gotong royong adalah ruh dari kota tercinta kita ini. Melalui semangat persaudaraan dan gotong royong, kita dapat menekan biaya operasional pembangunan sehingga beban warga menjadi lebih ringan,” kata Hasto.
Menurutnya, keberhasilan bedah rumah bukan berasal dari APBD, namun hasil kolaborasi berbagai pihak. Sehingga membuat proses pembangunan dapat dilakukan secara lebih cepat dan efisien.
Dalam pelaksanaannya, setiap rumah mendapat pengawalan Pinituwa atau penanggung jawab yang memastikan pekerjaan berjalan hingga selesai. Mereka berkoordinasi dengan pemerintah kelurahan, RT, RW dan warga sekitar untuk menggerakkan swadaya serta gotong royong.
Hasto memberikan apresiasi kepada para Pinituwa yang selama ini mengawal pembangunan rumah di berbagai wilayah Kota Yogyakarta. Ia berharap setiap rumah yang telah diperbaiki dapat memberikan rasa aman, nyaman dan kehidupan yang lebih baik bagi keluarga penerima manfaat.
Program bedah rumah juga mendapat dukungan dari berbagai pihak. Bank BPD DIY menjadi salah satu stakeholder yang ikut memberikan dukungan, bersama unsur masyarakat dan lembaga lainnya.
PWI DIY juga turut memberikan dukungan dalam kegiatan tersebut. Ketua PWI DIY Hudono hadir dalam pelaksanaan bedah rumah di Juminahan bersama jajaran pemerintah dan stakeholder lainnya. Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari dukungan organisasi profesi terhadap kegiatan sosial dan semangat gotong royong di Kota Yogyakarta.

Hasto berharap pola kolaborasi seperti ini terus dikembangkan sehingga program perbaikan rumah dapat menjangkau lebih banyak warga. Terlebih, masih ada 38 rumah yang perlu direalisasikan untuk memenuhi target 200 rumah pada 2026.
Selain perbaikan rumah, kegiatan tersebut juga dikaitkan dengan kepedulian terhadap lingkungan. Sebagian penerima manfaat merupakan warga yang beraktivitas sebagai transporter dan JUMILAH (Juru Pilah Sampah).
Hasto mengajak masyarakat memperkuat Gerakan Masyarakat Jogja Olah Sampah (Mas Jos), antara lain dengan memilah sampah sesuai jenis, membawa sampah anorganik ke bank sampah, mengolah sampah organik, menghabiskan makanan dan menggunakan wadah berulang.
“Rumah yang sudah diperbaiki harus dirawat. Semangat gotong royong juga harus terus dijaga, termasuk dengan konsisten memilah sampah demi Kota Yogyakarta yang lebih bersih, sehat dan nyaman,” ujarnya.
Dengan realisasi 162 rumah, Pemkot Yogyakarta kini tinggal menyelesaikan 38 rumah untuk memenuhi target 200 rumah. Gotong royong dan kolaborasi lintas sektor diharapkan menjadi kunci untuk menuntaskan sasaran tersebut. (Rls)




















