KORAN MERAPI — Sebanyak 50 mahasiswa dari tujuh negara di Asia Tenggara, Thailand, Kamboja, Myanmar, Malaysia, Singapura, Brunei, dan Filipina, melakukan kunjungan lapangan ke kawasan Kali Code, Yogyakarta. Kegiatan yang berlangsung Jumat (1/8/25) ini merupakan bagian dari program studi lintas negara yang menyoroti isu lingkungan, mitigasi bencana, dan pemberdayaan masyarakat urban.
Rombongan diterima langsung oleh Drs. Totok Pratopo dari komunitas Pemerti Code, yang menyambut mereka di kawasan Jetis Pasiraman. Dalam kunjungan ini, para mahasiswa melihat langsung aktivitas warga bantaran Kali Code, sekaligus mempelajari tantangan serta strategi mitigasi bencana yang diterapkan di kawasan tersebut.
Kali Code sendiri memiliki panjang sekitar 6,5 kilometer, merupakan kelanjutan dari Kali Boyong yang berhulu di puncak Gunung Merapi. Aliran sungai ini melintasi Kabupaten Sleman, membelah Kota Yogyakarta yang merupakan bagian dari sumbu filosofi kota, hingga bermuara di pantai selatan.
Kawasan ini tergolong rawan terhadap berbagai bencana seperti banjir, tanah longsor, kebakaran, puting beliung, hingga gempa bumi. Dalam sesi edukasi, para mahasiswa diperkenalkan dengan berbagai inovasi mitigasi bencana yang diterapkan oleh Sekolah Sungai dan Sekolah Bencana Code, yang dikelola Harris Syarif Usman, SH, M.Kn.
Salah satu titik perhatian mahasiswa adalah alat Early Warning System (EWS) yang dipasang di Jetis Pasiraman. “Kami sangat terkesan dengan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi banjir,” ujar Hans, salah satu peserta dari Filipina. Ia mengapresiasi sinergi antara teknologi, edukasi, dan partisipasi warga.
Menurut Harris, upaya mitigasi di Kali Code dilakukan secara komprehensif, baik melalui pendekatan struktural maupun non-struktural. Tindakan struktural meliputi pembangunan sumur resapan, revitalisasi bantaran sungai, serta pembersihan saluran air. Sedangkan mitigasi non-struktural diwujudkan melalui edukasi masyarakat, pembuatan peta kawasan rawan bencana, pembentukan Kampung Tangguh Bencana (KTB), dan pengembangan sistem peringatan dini berbasis komunitas.

“Melalui Sekolah Sungai, kami berharap masyarakat, khususnya generasi muda, lebih sadar dan peduli terhadap kelestarian Kali Code dan lingkungannya. Sementara Sekolah Bencana bertujuan membekali warga dengan pengetahuan mitigasi agar risiko bencana dapat ditekan semaksimal mungkin,” terang Harris.
Selain meninjau EWS, rombongan mahasiswa juga mengunjungi sejumlah inisiatif pemberdayaan lingkungan lain, seperti Bank Sampah Bumi Lestari di Cokrokusuman, Urban Farming di kawasan Gondolayu, serta instalasi Air Bersih dan IPPAL Potable di Jetisharjo.
Kunjungan ini memberikan gambaran nyata kepada para mahasiswa tentang bagaimana masyarakat perkotaan yang tinggal di kawasan rawan bencana mampu beradaptasi, berinovasi, dan membangun ketahanan secara mandiri.
Antusiasme peserta menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas negara sangat penting dalam mewujudkan masa depan perkotaan yang lebih tangguh dan berkelanjutan. (Rls)



















