KORAN MERAPI – Rombongan 2 bus Kamis siang (7/8/25) berada di kawasan Gedong Kuning, Yogyakarta, mendadak semarak riuh tawa dan aroma manis kacang hijau yang keluar dari dapur produksi Bakpia Jogkem Gedongkuning. Bukan tanpa sebab, sebanyak 75 kepala daerah dari Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) melakukan kunjungan ke outlet sekaligus pusat produksi Bakpia Jogkem di Jl. Gedongkuning No. 173 B, Tegal Tandan, Banguntapan, Bantul, sebagai bagian dari agenda Rakernas XI JKPI yang digelar di Yogyakarta sejak 6 Agustus 2025 kemarin.
Rombongan JKPI yang turut didampingi para pendamping kepala daerah, termasuk istri Wakil Wali Kota Yogyakarta, Sasha Wawan Harmawan, disambut hangat oleh Direktur Bakpia Jogkem Grup, Ariyanto. Dalam kunjungan tersebut, para kepala daerah tidak hanya mencicipi bakpia, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung meracik dan menggulung adonan bakpia di dapur utama Bakpia Jogkem Gedongkuning.

Salah satunya adalah Wakil Bupati Muna, Sulawesi Tenggara, La Ode Asrafil, yang tampak antusias menyingsingkan lengan batiknya untuk mencoba membuat bakpia.
“Hari ini kami berada di Bakpia Jogkem untuk melihat langsung proses pembuatan bakpia. Luar biasa. Ini produksi yang sangat menjanjikan bagi masyarakat kita saat ini,” ujarnya.
Kegiatan ini dipandu langsung oleh tim dapur Jogkem yang sigap membimbing para tamu. Suasana akrab dan penuh canda menghiasi proses pembuatan, mulai dari pengisian adonan hingga pembentukan bakpia.
“Kalau dilihat memang tampak mudah, tapi begitu praktik, ternyata butuh ketelatenan luar biasa,” ujar Direktur Eksekutif JKPI, Nanang Asfarinal.
“Ini pelajaran penting, bahwa produk UMKM yang tampak sederhana, sebenarnya berdiri di atas dedikasi, standar kualitas, dan kecintaan terhadap tradisi,” imbuhnya.

Bakpia Jogkem sendiri dikenal sebagai salah satu ikon kuliner khas Yogyakarta yang tengah naik daun. Dengan rasa yang tidak terlalu manis dan tekstur lembut, produk ini berhasil menarik minat generasi muda tanpa mengabaikan akar tradisionalnya.
“Kami menggunakan bahan-bahan berkualitas terbaik tanpa bahan pengawet. Karena itu, produk kami hanya bertahan tiga hari. Namun, itu menjadi nilai lebih karena menjamin kesegaran dan kualitas,” jelas Ariyanto.
Tak sekadar wisata kuliner, kunjungan ini juga menjadi jembatan awal dalam membangun koneksi ekonomi antar daerah.
“InsyaAllah, kami akan membawa produk ini ke Muna dan mengenalkannya sebagai ikon Jogja yang prospektif untuk mengembangkan ekonomi masyarakat kami,” tambah La Ode Asrafil.
Kunjungan ke Bakpia Jogkem menjadi salah satu agenda penutup Rakernas XI JKPI yang berlangsung selama tiga hari, dari 75 kota pusaka anggota JKPI, tercatat 58 kepala daerah hadir secara langsung, ditambah empat kota peninjau.
Tahun depan, estafet penyelenggaraan Rakernas JKPI akan berpindah ke Ternate, Maluku Utara, kota rempah yang sarat sejarah.

“Jogja selalu istimewa, bukan hanya karena budayanya, tetapi karena kemampuannya menjaga dan mengembangkan warisan lokal menjadi kekuatan ekonomi. Inilah yang patut dicontoh oleh kota-kota pusaka lainnya,” tutup Nanang.
Dari agenda open kitchen di Bakpia Jogkem Gedong Kuning ini, semangat pelestarian budaya dan penguatan ekonomi lokal berpadu menjadi harapan besar: menjadikan UMKM sebagai garda depan penjaga pusaka bangsa, dari Sabang sampai Merauke. (Ags)



















