KORAN MERAPI – Suasana riuh penuh semangat memenuhi Societet Military Taman Budaya Yogyakarta (TBY) pada Kamis sore (7/11/2025). Sebanyak 50 anak penyair cilik tampil membacakan karya mereka dalam peluncuran buku antologi puisi Wayang Gembira sekaligus pertunjukan sastra bertajuk “Wayang-wayang Gembira untuk Indonesia.”
Buku Wayang Gembira merupakan hasil karya para penyair anak Yogyakarta yang mengikuti program Art For Children Sastra, sebuah kegiatan pembinaan yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Yogyakarta (TBY) selama hampir satu tahun. Melalui program ini, anak-anak diajak mengenal, mencintai, dan mencipta karya sastra, sekaligus dilatih untuk berani menampilkan karya dan dirinya di atas panggung.
Pertunjukan dibuka dengan narasi dari dua penyair cilik, Omar Ali Lais Arsalan Prasetyo dan Aisya Syafazea Almahyra, yang dengan lantang menyatakan tekad untuk menjadi patriot kecil yang mencintai sastra dan seni, menghormati tradisi leluhur, namun tetap terbuka pada perkembangan dunia modern.
Dalam pengantar bukunya, Kepala Taman Budaya Yogyakarta, Dra. Sri Purwiati, M.Sn, menuliskan bahwa dunia anak adalah dunia imajinasi yang tumbuh dari rasa ingin tahu, keceriaan, dan kreativitas tanpa batas.
“Harapannya, semoga dengan terbitnya buku antologi Wayang Gembira ini, menjadi sumber kegembiraan bagi generasi muda untuk terus berkarya, serta menjadi bagian dari upaya bersama dalam merawat kebudayaan yang hidup, kreatif, dan berakar pada nilai-nilai kearifan lokal,” ujarnya.

Keharuan juga tampak dari para orang tua yang hadir. Salah satu orang tua peserta mengaku terharu menyaksikan anaknya membacakan puisi di atas panggung.
“Saya merasa sangat bangga dan terharu. Tidak menyangka anak saya bisa tampil percaya diri dan punya karya yang kini terabadikan dalam buku puisi,” ungkapnya sambil menitikkan air mata haru.
Sementara itu, Evi Idawati, seniman dan sastrawan yang menjadi pembimbing kelas sastra, menuturkan bahwa Wayang Gembira adalah bentuk ekspresi, doa, dan harapan bagi Yogyakarta.
“Anak-anak ini adalah generasi penerus yang akan menjaga nyala sastra. Mereka dilahirkan untuk menjadi sastrawan masa depan,” ujarnya dengan penuh semangat.
Acara sore itu berlangsung meriah dan hangat. Tepuk tangan bergema setiap kali anak-anak menyelesaikan pembacaan puisinya. Tawa, haru, dan rasa bangga berpadu menjadi satu, menghadirkan suasana yang benar-benar gembira, sebagaimana judul antologi yang mereka lahirkan bersama. (Rls)



















