KORAN MERAPI – Dinas Perindustrian Koperasi UKM (Disperinkop UKM) Kota Yogyakarta melalui Bidang Perindustrian menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Kelestarian Pengrajin Batik Kota Yogyakarta dan Optimalisasi Sumber Daya Industri” pada Senin (24/11/2025) di Balai Batik, Jl. Kusumanegara No. 7 Yogyakarta.
Kegiatan ini menghadirkan perwakilan pengrajin serta anggota Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) dari Demangan, Ngampilan, Gunung Ketur, Mantrijeron, Patehan, Sosromenduran, LMPK, para Lurah Wilayah 8 Koperasi, Koperasi Sati Batik Baik, Koperasi Java Kreasi, serta perwakilan Bidang Koperasi dan Bidang Perindustrian Disperinkop UKM Kota Yogyakarta.
FGD dibuka oleh RM Kisbiyantoro, Sekretaris Disperinkop UKM Kota Yogyakarta. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa Yogyakarta tidak hanya dikenal sebagai Kota Pendidikan dan Kebudayaan, tetapi juga merupakan salah satu pusat batik nasional yang menyimpan warisan estetika, budaya, dan kearifan lokal.


“Saya sangat bahagia berada di FGD ini bersama para tokoh batik Yogyakarta. Batik bukan sekadar produk, tetapi warisan leluhur yang harus terus dilestarikan. Kita perlu berpikir bersama bagaimana batik dapat berkembang, tidak hanya dari sisi budaya tetapi juga mampu mendunia,” ungkapnya.
Ia menekankan pentingnya sinergi antarpemangku kepentingan, koperasi, akademisi, industri, dan pemerintah, untuk mewujudkan pola kolaborasi yang berkelanjutan. Kisbiyantoro juga menyoroti pentingnya inovasi desain batik bagi generasi muda serta perhatian terhadap pengelolaan limbah sebagai bagian dari proses produksi batik yang ramah lingkungan.
Sesi Pertama dengan Kelestarian Pengrajin Batik Kota Yogyakarta disampaikan oleh Dr. John Suprihanto, MIM dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM.
Dr. John menjelaskan bahwa batik Segoro Amarto merupakan produk industri kreatif yang sebagian besar diproduksi oleh KKMP dan UMKM, dan memiliki peran besar dalam menciptakan lapangan kerja, termasuk bagi masyarakat penerima Kartu Menuju Sejahtera (KMS). Ia menegaskan bahwa pengembangan pengrajin batik membutuhkan pelatihan teknis, pelatihan kewirausahaan, penguatan pusat edukasi dan pameran seperti Griya Batik Jogja, serta kolaborasi lintas sektor.

Dr. John juga menguraikan konsep Program Gandeng Gendong, sebuah inisiatif Pemkot Yogyakarta sejak 2018 untuk mengatasi kemiskinan melalui kolaborasi Pentahelix menuju Heptahelix, yakni Pemkot, Korporasi, Kampus, Kampung, Komunitas, Keuangan dan Koran (media)
Program ini diharapkan terus memperkuat jejaring pengembangan batik melalui dukungan lintas sektor.
Selanjutnya di sesi kedua, dengan materi Inovasi Desain dan Keberlanjutan Batik Segoro Amarta yang disampaikan oleh Dwi Suwityantini (Ninik) dari Jogja Art of Fashion Foundation.
Pada sesi ini, Ninik memaparkan bahwa Batik Segoro Amarta merupakan identitas desain modern Kota Yogyakarta yang digarap oleh para desainer lokal. Tantangan utama produksi batik ini adalah keberlanjutan usaha dan stabilitas pendapatan pengrajinnya.
Upaya pengembangan diarahkan melalui diversifikasi produk, penguatan branding dan promosi, peningkatan kapasitas perajin melalui pelatihan, dan kampanye pelestarian budaya kepada masyarakat.

Ninik juga menyampaikan Program Membangun Dunia Fashion Jogja, yang mencakup membangun SDM Fashion, membangun Bisnis Fashion, dan membangun Citra Fashion Yogyakarta.
Program ini diharapkan memperkuat ekosistem fashion lokal berbasis batik.
Sesi Ketiga dengan materi Pengolahan Limbah Cair Industri Batik, disampaikan oleh Isnaini dari Balai Besar Kerajinan dan Batik, Kementerian Perindustrian Yogyakarta
Isnaini memaparkan berbagai tantangan yang dihadapi IKM batik, antara lain meningkatnya permintaan, bertambahnya kebutuhan bahan baku, serta meningkatnya potensi pencemaran lingkungan.
Ia memaparkan Hirarki Penanganan Limbah, yaitu sengan cara mencegah, mengurangi, menggunakan kembali, mendaur ulang, memperoleh kembali, dan mengolah secara aman.

Teknik pengolahan limbah cair batik dapat dilakukan melalui pendekatan kimia, biologi, dan fisika, yang perlu disesuaikan dengan kondisi IKM di lapangan agar ramah lingkungan dan efisien.
Salah satu peserta FGD, Indra Suryanto, Ketua Koperasi Java Kreasi Mandiri Kota Yogyakarta, menyampaikan apresiasinya terhadap penyelenggaraan FGD.
“Tiga materi yang disampaikan membuka wawasan kami terkait batik, mulai dari produksi, desain, pengelolaan limbah, hingga pemasaran. Banyak insight baru yang kami dapatkan dan kami harapkan dapat semakin mengembangkan batik, meningkatkan kualitas produk, serta kesejahteraan para perajinnya,” ujarnya.
FGD ini menjadi wadah strategis untuk memperkuat kolaborasi dan merumuskan langkah konkret dalam pelestarian batik Yogyakarta serta optimalisasi sumber daya industri. Dengan dukungan pemerintah, koperasi, akademisi, pelaku industri, dan komunitas, diharapkan batik Yogyakarta semakin berdaya saing, berkelanjutan, dan tetap menjadi kebanggaan budaya bangsa. (Ags)



















