KORAN MERAPI — Pembentukan karakter yang disiplin menjadi faktor penentu keberhasilan, baik dalam dunia pers maupun industri. Hal tersebut mengemuka dalam dialog antara Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Daerah Istimewa Yogyakarta terpilih, Drs Hudono SH, dan Adit Setiawan, pemilik PT Indonesia Plafon Semesta, produsen plafon PVC dengan merek Indofon dan sejumlah brand nasional lainnya.
Pertemuan yang berlangsung hangat tersebut, Hudono menegaskan pentingnya profesionalisme wartawan sebagai fondasi utama kebebasan pers yang bertanggung jawab. Ia menyampaikan hal itu saat melakukan kunjungan ke Adit Setiawan, didampingi Primaswolo Sudjono dan Agus Susanto, Rabu (24/12/2025).
Hudono, yang baru kembali terpilih sebagai Ketua PWI DIY periode 2025–2030, menyatakan bahwa PWI memiliki peran strategis dalam menjaga kualitas produk jurnalistik agar tetap profesional, berimbang, dan menjunjung tinggi etika serta nilai budaya masyarakat.
“Jika profesionalisme jurnalistik terjaga, maka masyarakatlah yang akan menikmati hasilnya. Kebebasan pers harus dijalankan secara bertanggung jawab,” ujar Hudono.
Ia menambahkan, penguatan organisasi PWI menjadi kebutuhan mendesak di tengah tantangan masifnya media digital dan derasnya arus informasi. Untuk mewujudkan pers yang sehat dan bertanggungjawab, diperlukan dukungan berbagai pihak, termasuk dunia usaha, agar ekosistem pers tetap kuat dan berintegritas.

Sementara itu, Adit Setiawan membagikan kisah perjalanan hidup dan usahanya yang berangkat dari pembentukan karakter sejak dini. Pria berusia 36 tahun ini mengungkapkan bahwa jiwa wirausaha telah tumbuh sejak kecil, ketika ia kerap mengikuti orang tuanya berdagang. Pengalaman tersebut membentuk kemampuannya membaca peluang, menyusun strategi penjualan, dan menilai prospek sebuah usaha.
Perjalanan hidup Adit juga ditempa oleh pengalaman berdinas di militer. Menurutnya, dunia militer mengajarkan disiplin tinggi yang kemudian menjadi bekal utama dalam menjalankan bisnis. Ia pun mengambil keputusan besar dengan mengundurkan diri dari TNI demi fokus membangun usaha.
“Dalam menjalankan usaha, disiplin sangat menentukan berkembang atau tidaknya bisnis. Disiplin menepati janji, disiplin dalam pembayaran kewajiban, serta disiplin dalam pengiriman produk tepat waktu. Dari situlah kepercayaan dibangun,” tutur Adit.
Adit mulai merintis bisnis plafon PVC pada 2018. Momentum penting datang saat rekonstruksi pascagempa Lombok, Nusa Tenggara Barat. Melalui sistem E-Katalog pemerintah, produk Indofon dengan cepat dikenal para kontraktor proyek pemerintah dan digunakan secara luas dalam pembangunan kembali gedung-gedung publik, mulai dari perkantoran, sekolah, rumah sakit, kantor kepolisian, hingga Rumah Sakit Internasional Mandalika dan kawasan Sirkuit Mandalika.
Plafon PVC dipilih karena dinilai lebih aman saat gempa. Materialnya ringan, tidak mengandung asbes maupun timbal, sehingga meminimalkan risiko cedera jika terjadi bencana. Keunggulan ini sejalan dengan kebijakan pemerintah terkait standar bangunan tahan gempa, sehingga permintaan pasar terus meningkat.
Dari proyek rekonstruksi Lombok dengan nilai ratusan miliar rupiah tersebut, Adit memperoleh keuntungan signifikan yang kemudian diinvestasikan kembali. Pada 2019, ia membangun pabrik plafon PVC pertama di Bogor dengan nilai investasi sekitar Rp20 miliar, seluruhnya berasal dari hasil usaha tanpa pinjaman pihak lain.
Seiring meningkatnya permintaan, pada pertengahan 2022 Adit melakukan soft opening pabrik baru di kawasan industri Tuksono, Sentolo, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pabrik tersebut dibangun untuk meningkatkan kapasitas produksi yang kini mencapai rata-rata 54 truk pengiriman per bulan.
“Seluruh dana investasi berasal murni dari pendapatan usaha,” ujar alumni SMA Negeri 1 Godean, Sleman, tersebut.
Saat ini, PT Indonesia Plafon Semesta mengelola sedikitnya 10 merek plafon PVC nasional, di antaranya Indofon, Plafindo, Jaguar, Fonda, Viston, Inco, Garuda, dan Aveon, yang seluruhnya diproduksi di pabrik milik sendiri.(Rls)



















