KORAN MERAPI – Di tengah riuhnya dinamika nasional dan ketegangan global yang kian memanas, sekelompok seniman dan tokoh bangsa berkumpul di Yogyakarta untuk menyuarakan sebuah pesan mendalam. Bertempat di Galeri Saptohoedojo, Jalan Solo Km 8, pada Minggu (12/4), mereka menginisiasi gerakan bertajuk “Salaman Istimewa”.
Gerakan ini bukan sekadar pertemuan biasa. Diinisiasi oleh Koperasi Produsen Seniman Budayawan Adiluhung Yogyakarta (Koseta), aksi ini lahir dari kegelisahan kolektif melihat kondisi Indonesia dan dunia yang sedang “tidak baik-baik saja”.
Ketua Koseta, Sigit Sugito, menjelaskan bahwa pemilihan diksi “Salaman” sengaja digunakan untuk menggantikan istilah formal seperti “Syawalan”. Tujuannya agar hubungan yang terjalin terasa lebih privat, jujur, dan menyentuh secara personal.
“Salaman itu lebih kepada sifatnya privat, pribadi, dan bersentuhan. Artinya lebih mengenal dan tidak hanya lip service,” ujar Sigit menekankan pentingnya komitmen antarmanusia yang nyata.
Budayawan Taufik Rahzen memandang acara bertajuk Merajut Indonesia Rumah Kebhinekaan ini sebagai sebuah ritual sipil. Baginya, momentum ini sangat relevan dengan situasi dunia saat ini, termasuk jeda peperangan di Timur Tengah. Ia meyakini peran seniman mampu melampaui batas geografis dalam menyebarkan pesan perdamaian.
Taufik menekankan bahwa gerakan ini bekerja melalui “getaran” atau frekuensi kebersamaan yang diharapkan menular ke masyarakat luas tanpa harus melalui seremonial yang kaku.
Acara yang berlangsung hangat ini dihadiri oleh berbagai tokoh penting dari lintas disiplin, di antaranya: Prof. Panut Mulyono (Mantan Rektor UGM), Drs. HM Idham Samawi (Direktur Utama PT BP Kedaulatan Rakyat), Yani Saptohoedojo, Hj. Sri Surya Widati, Prof. Yudiaryani, Arya Aryanto, dan sejumlah tokoh lainnya.
Kehadiran para akademisi hingga mantan duta besar ini menunjukkan bahwa keresahan akan retaknya kebhinekaan adalah masalah serius yang memerlukan perhatian pemangku kebijakan.
Harapan untuk Masa Depan
Yogyakarta, dalam gerakan ini, diposisikan sebagai pemantik suara keberagaman yang harus dirawat dengan semangat gotong royong. Melalui sinergi dengan berbagai media, gerakan ini diharapkan menjadi pengeras suara bagi masyarakat luas untuk melakukan aksi nyata merajut kembali kebhinekaan yang mulai retak.
“Kita ini kan membuat frekuensi, frekuensi solidaritas, frekuensi kebersamaan. Salaman itu, damai,” pungkas Taufik menutup pesan inti dari pertemuan tersebut. (***)



















