KORAN MERAPI – Gerakan ekonomi syariah Indonesia menandai babak baru dalam penguatan kelembagaan melalui penyelenggaraan Lokakarya Nasional BMT 2026 yang berlangsung khidmat di Hotel Burza, Yogyakarta, Jumat (17/4/26). Mengusung tema “Penguatan Kelembagaan dan Transformasi BMT untuk Kemandirian Ekonomi Umat”, acara ini menjadi titik temu strategis bagi para pemangku kepentingan untuk merumuskan masa depan Baitul Maal wat Tamwil (BMT) di era digital.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi besar antara PINBUK, ICMI, Inkopsyah BMT, ABSINDO, Perhimpunan BMT, serta Kementerian Koperasi dan UKM RI. Sinergi ini semakin kuat dengan dukungan mitra strategis seperti Sunking, LPDB Koperasi, Food Station, BPDLH, Pusat Investasi Pemerintah (PIP), dan CLIK.
Acara dibuka dengan rangkaian seremonial yang menggugah semangat kebangsaan dan nilai-nilai koperasi. Ketua Inkopsyah BMT, H. Abdul Majid Umar, bersama H. Aslichan Burhan (Steering Committee), menegaskan bahwa BMT harus bertransformasi secara kelembagaan agar tetap relevan dan tangguh.

Dalam keynote speech yang disampaikan secara daring oleh Ferry Juliantono dan dipaparkan langsung oleh Sekretaris Kementerian Koperasi RI, Ahmad Zabadi, ditekankan bahwa penguatan koperasi syariah adalah pilar utama kemandirian ekonomi nasional.
“Transformasi digital bukan lagi pilihan, melainkan keharusan bagi BMT untuk mempercepat kemandirian ekonomi umat yang inklusif,” tegas Ahmad Zabadi.
Tokoh penggerak BMT, Mursyida Rambe, turut menambahkan bahwa integrasi fungsi Baitul Maal (sosial) dan Baitut Tamwil (bisnis) adalah kunci daya tahan BMT dalam menghadapi tantangan zaman. Sementara itu, Sholahudin Al Ayubi memaparkan pentingnya peran DSN-MUI dalam menjaga integritas ekosistem koperasi syariah nasional.
Inovasi Hijau dan Kolaborasi Strategis
Salah satu terobosan konkret dalam lokakarya ini adalah penandatanganan kerja sama antara Inkopsyah BMT dengan Sunking. Kolaborasi ini fokus pada pengembangan sistem panel surya (solar panel) serta piloting sinergi BMT sebagai wujud inovasi lembaga keuangan syariah yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Tak hanya itu, sesi Gathering Business menghadirkan dialog intensif dengan berbagai lembaga otoritas: PIP & LPDB; terkait akses pembiayaan dan penyaluran dana bergulir, BPDLH; peluang pendanaan berbasis lingkungan, CLIK; penguatan sistem informasi keuangan, dan Food Station; dinergi ketahanan pangan berbasis komunitas.
Koordinator Panitia Lokal, Bambang Edi Asmara, mengungkapkan bahwa kesuksesan acara ini didorong oleh militansi para relawan dan komunitas BMT di DIY.

“Kami memastikan acara ini menjadi ruang konsolidasi nyata, bukan sekadar seremonial. Semangat kolaborasi yang terbangun di sini harus berdampak hingga ke level daerah,” ujarnya.
Rangkaian acara ini juga mencakup agenda krusial lainnya, yaitu: Rapat Anggota Tahunan (RAT) Inkopsyah BMT., Kongres Nasional ABSINDO dan Program Pendidikan dan Pelatihan bagi pengelola BMT seluruh Indonesia.
Melalui Lokakarya Nasional 2026, gerakan BMT optimis mampu menjadi motor penggerak ekonomi umat yang berlandaskan nilai maslahah, mandiri secara finansial, dan unggul secara teknologi. (Rls)



















