Selasa, 25 Agustus 2026
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan
  • Redaksi
  • Kontak
  • Login
  • Register
Koran Merapi
Advertisement
  • Home
  • News
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Ekbis
  • Olahraga
  • Kesehatan
  • Wisata
  • Kuliner
  • Budaya
  • Opini
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Ekbis
  • Olahraga
  • Kesehatan
  • Wisata
  • Kuliner
  • Budaya
  • Opini
No Result
View All Result
Koran Merapi
No Result
View All Result
Home Opini

7 Mayat Jenderal dI Lubang Buaya

Oleh: KH Dr. Amidhan Shaberah (Ketua MUI 1995-2015/Komnas HAM 2002-2007)

admin by admin
1 Oktober 2025
in Opini
0
0
SHARES
19
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

KORAN MERAPI – 30 September 1965, Jakarta mencekam. Desingan peluru menghantam sejumlah petinggi militer Angkatan Darat.

Mereka – 7 orang perwira tinggi militer (Jenderal Ahmad Yani, Mayjen A. Suprapto, Mayjen MT Haryono, Mayjen S. Parman, Brigjen D.I. Panjaitan, Brigjen Sutoyo, Letkol Pierre Andreas Tendean),  tewas bersimbah darah. Diterjang peluru panas.

Mayatnya dikubur di “Lubang Buaya”, kecamatan Pondok Gede, dekat Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur. Eksekusi mati para perwira AD dengan Kejam tanpa perikemanusiaan itu dilakukan anggota PKI atas perintah langsung pimpinan Central Committee (CC) PKI: DN Aidit dan Kol. Untung.

Jenderal Ahmad Yani diteror dan ditembak langsung di rumahnya. Tanpa melalui interogasi dan proses hukum.

Dia meninggal saat itu juga, di pagi buta tanggal 1 Oktober 1965. Berondongan peluru menyasar bukan hanya ke kaca-kaca jendela, tapi juga ke tubuh sang jenderal.

Menurut Prof. Dr. Arif Budianto, ahli forensik yang ditugaskan mengotopsi mayat Pak Yani, percikan kaca masih banyak menancap di tubuh sang jenderal.

Para Jenderal yang lain diculik dalam waktu yang hampir bersamaan. Tanggal 1 Oktober 1965, Mayjen Suprapto diculik. Ia dibawa ke suatu tempat tersembunyi, yang kemudian diketahui di daerah Lubang Buaya, Pondok Gede, Jaktim.

Sejak dari tempat penculikan, kedua tangan Suprapto diikat ke depan. Menurut pengakuan Marsijem, anggota Gerwani yang bertugas di Lubang Buaya, dalam kondisi tangan terikat, Suprapto disiksa. Setelah itu, dia dibunuh dengan cara ditembak. Mereka yang menyiksa dan membunuh adalah para aanggota Pemuda Rakyat dan anggota Gerwani.

Nasib Mayjen MT Haryono lebih tragis. Menurut keterangan dokter yang memeriksa mayatnya, MT Haryono kemungkinan ditembak berkali-kali. Pergelangan tangannya juga hancur.

Sementara Brigjen TNI Sutoyo yang juga diculik di rumahya, di bawa ke Lubang Buaya dalam kondisi kepala mayat pecah karena tembakan senjata.

Salah seorang anggota Gerwani yang ikut menjadi pelaku penyiksaan di Lubang Buaya tanggal 1 Oktober 1965, mengaku disuruh atasannya menari-nari setengah telanjang mengelilingi para jenderal sambil bernyanyi dan melukai para perwira tinggi yang sudah tidak berdaya itu. Dia mengaku, mengetahui di dalam sumur sudah ada dua mayat di samping Soeprapto, Parman, dan Piere Tendean.

Dia juga mengaku melihat dengan mata kepala sendiri penganiayaan dan pemotongan alat vital Piere Tendean oleh Djamilah. Djamilah juga mencongkel mata Parman. Sementara Eni, anggota Gerwani lain, mengaku disuruh atasannya untuk mengiris-iris tubuh Mayjen S Parman dalam keadaan masih hidup.

Darsijem, anggota Gerwani yang lain mengaku, tiba di Lubang Buaya pada pagi hari tanggal 30 September 1965. Keeseokan harinya, dia ikut melakukan penganiayaan dan penembakan terhadap Mayjen Suprapto. Pada saat itu, dia melihat dua orang yang lain sudah mati. Dia juga mengaku melihat korban berjaket coklat (Piere Tendean) ditembak oleh Cakra AURI dan Pemuda Rakyat. Sesudah mati, Piere diseret orang berbaju hijau ke dalam sumur.

Henni, juga anggota Gerwani yang waktu itu ikut bertugas di Lubang Buaya, mengaku melihat dua tawanan datang, seorang berpakaian kimono dan sarung; satu lagi hanya berpakaian sarung. Dia mengaku ikut mengiris-iris tangan tawanan yang berpakaian sarung, kemudian dikasih air jeruk nipis. Henni juga mengaku menusuk perut Mayjen Suprapto hingga ususnya terburai keluar.

Lalu Henni melihat Djamilah menembak Suprapto. Bersama dua orang kawannya, Henni mengaku mencongkel mata dua tawanan lalu membungkus bola mata tawanan yang memakai kimono dengan daun pisang. Henni juga melihat, ketika dimasukkan ke dalam sumur, tawanan yang mengenakan kimono dipotong tangannya hingga batas pundak, sedangkan yang mengenakan sarung dipotong kakinya hingga batas paha.

Satu lagi pengakuan anggota Gerwani bernama Endah. Dia datang ke Lubang Buaya pada tanggal 30 September 1965. Di antara pengakuannya, dia melihat ketiga tawanan, Pierre, Parman, dan Suprapto. Dia mendengar bunyi pertanyaan kepada Suprapto yang diikuti dengan pemukulan beramai-ramai dengan popor senapan” (Center for Information Analysis, 2004: 104).

Ketujuh orang yang tersebut di atas, mayatnya ditemukan dalam satu lubang yang berlokasi di Lubang Buaya, Jakarta Timur. Luka-luka bekas sayatan dan tembakan, telah dibuktikan dengan visum etrepretium di RS. Gatot Subroto Jakarta pada tanggal 4 Oktober 1965.

Kejam nian PKI saat membunuh para perwira militer. Juga para ulama di Madiun, Kediri, Klaten, dan Solo. Banyak para ulama di daerah yang dibakar hidup hidup oleh PKI.

Sayangnya, saat ini sejarah diputarbalikkan.

Bahkan rejim Jokowi menerbitkan dua Keputusan Presiden (Keppres No 17 Tahun 2022) dan Instruksi Presiden (Inpres Nomor 2 Tahun 2023).

Isi Kepres dan Inpres tersebut memuat wacana pemerintah memberi bantuan dan santunan kepada anak dan keturunan anggota Partai Komunis Indonesia (PKI). Bahkan rejim Jokowi berwacana, atas nama pemerintah, minta maaf kepada keturunan PKI yang keluarganya menjadi korban peristiwa G30 S PKI. Rejim Jokowi mengabaikan, inisiator petiristiwa berdarah itu adalah PKI.

Siapa yang menanam angin, maka ia akan menuai badai, demikian pribahasa.

Kepres dan Inpres ini, sangat menyakiti keturunan korban kekejaman PKI, tandas Amelia Ahmad Yani, putri almarhum Jenderal Yani. Keturunan korban kekejaman PKI yang jumlahnya banyak sekali di Indonesia tak pernah mendapat santunan negara. Tapi aneh, keturunsn PKI yang jelas-jelas kejam dan melakukan makar, justru mau dikasih santunan. Ini gila, kata Amelia.

Lebih gila lagi, kini muncul banyak buku yang menganggap PKI tidak bersalah atas peristiwa 30 September 1965 tersebut. PKI, katanya, adalah korban. Sampai-sampai ada keturunan PKI (Ribka Tjiptaning Proletariyati) dengan jumawa menulis buku, “Aku Bangga Jadi Anak PKI”.

Wah! Ironi besar yang memutarbalikkan sejarah.

Tags: 30 September 1965JenderalKoranmerapi.idLubang BuayaSejarah

Related Posts

Menanam Kebaikan Selagi Sempat
Opini

Menanam Kebaikan Selagi Sempat

23 Agustus 2026
Merdeka dari Kecemasan, Menatap Indonesia dengan Harapan
Opini

Merdeka dari Kecemasan, Menatap Indonesia dengan Harapan

16 Agustus 2026
UMKM Berbudaya, Pelaku Usaha Sejahtera: Fondasi Bangsa Berdaya
Opini

UMKM Berbudaya, Pelaku Usaha Sejahtera: Fondasi Bangsa Berdaya

30 Juli 2026
Jalan Panjang Kemandirian Pers Kita
Opini

Jalan Panjang Kemandirian Pers Kita

23 Juli 2026
Sepasang Kaki yang Menolak Menyerah dan Sujud Syukur di Lereng Menoreh
Opini

Sepasang Kaki yang Menolak Menyerah dan Sujud Syukur di Lereng Menoreh

20 Juli 2026
Ketika Gol Piala Dunia Menggerakkan Ekonomi Bali
Opini

Ketika Gol Piala Dunia Menggerakkan Ekonomi Bali

14 Juli 2026

Stay Connected

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Penutupan Plengkung Nirboyo (Plengkung Gading) untuk Konservasi dan Keselamatan

Penutupan Plengkung Nirboyo (Plengkung Gading) untuk Konservasi dan Keselamatan

15 Maret 2025
Bukber Alumni SMPN 1 Jogja Tahun 1983: Ayo Reuni & Bernostalgia!

Bukber Alumni SMPN 1 Jogja Tahun 1983: Ayo Reuni & Bernostalgia!

15 Maret 2025
Mematahkan Stigma, Penyintas Stroke Lumpuh dan Dokternya Berlari Bersama di Bethesda Heritage Run 2026: “Stroke Bukan Akhir Segalanya”

Mematahkan Stigma, Penyintas Stroke Lumpuh dan Dokternya Berlari Bersama di Bethesda Heritage Run 2026: “Stroke Bukan Akhir Segalanya”

17 Mei 2026
Retno Soetarto : Dunia Hiburan dapat Memberikan Manfaat Dalam Hidupnya.

Retno Soetarto : Dunia Hiburan dapat Memberikan Manfaat Dalam Hidupnya.

18 April 2024
PWI DIY dan Tim Panitia Adhoc Udin  Audiensi dengan Bupati Bantul, Dorong Udin Diusulkan sebagai Pahlawan Nasional

PWI DIY dan Tim Panitia Adhoc Udin  Audiensi dengan Bupati Bantul, Dorong Udin Diusulkan sebagai Pahlawan Nasional

0
Dampak Exit Tol di Maguwoharjo Dipetakan, Dishub DIY Wacanakan Bundaran Besar

Dampak Exit Tol di Maguwoharjo Dipetakan, Dishub DIY Wacanakan Bundaran Besar

0
Pelatih Fisik PSS Sleman Anel Hidic Benahi Fisik Pemain Secara Bertahap Hingga Capai Peak Performance Saat BRI Liga 1 Kembali Bergulir

Pelatih Fisik PSS Sleman Anel Hidic Benahi Fisik Pemain Secara Bertahap Hingga Capai Peak Performance Saat BRI Liga 1 Kembali Bergulir

0
Begini ritual tahunan di Jogja, pelaku wisata untung

Begini ritual tahunan di Jogja, pelaku wisata untung

0
PWI DIY dan Tim Panitia Adhoc Udin  Audiensi dengan Bupati Bantul, Dorong Udin Diusulkan sebagai Pahlawan Nasional

PWI DIY dan Tim Panitia Adhoc Udin  Audiensi dengan Bupati Bantul, Dorong Udin Diusulkan sebagai Pahlawan Nasional

24 Agustus 2026
KSMI Siapkan Liga Santri dan Piala Asia, Sepakbola Mini Kian Berkembang di Indonesia

KSMI Siapkan Liga Santri dan Piala Asia, Sepakbola Mini Kian Berkembang di Indonesia

23 Agustus 2026
Menanam Kebaikan Selagi Sempat

Menanam Kebaikan Selagi Sempat

23 Agustus 2026
Menjajal Jeram Kota: Ketika Kali Code Beralih Wajah dari “Got Raksasa” Menjadi Sirkuit Wisata

Menjajal Jeram Kota: Ketika Kali Code Beralih Wajah dari “Got Raksasa” Menjadi Sirkuit Wisata

23 Agustus 2026
PWI DIY dan Tim Panitia Adhoc Udin  Audiensi dengan Bupati Bantul, Dorong Udin Diusulkan sebagai Pahlawan Nasional

PWI DIY dan Tim Panitia Adhoc Udin  Audiensi dengan Bupati Bantul, Dorong Udin Diusulkan sebagai Pahlawan Nasional

24 Agustus 2026
KSMI Siapkan Liga Santri dan Piala Asia, Sepakbola Mini Kian Berkembang di Indonesia

KSMI Siapkan Liga Santri dan Piala Asia, Sepakbola Mini Kian Berkembang di Indonesia

23 Agustus 2026
Menanam Kebaikan Selagi Sempat

Menanam Kebaikan Selagi Sempat

23 Agustus 2026
Menjajal Jeram Kota: Ketika Kali Code Beralih Wajah dari “Got Raksasa” Menjadi Sirkuit Wisata

Menjajal Jeram Kota: Ketika Kali Code Beralih Wajah dari “Got Raksasa” Menjadi Sirkuit Wisata

23 Agustus 2026
Hadapi Puncak Musim Kering di Cilacap, Solusi Bangun Indonesia Salurkan 400 Ribu Liter Air Bersih untuk Warga Terdampak

Hadapi Puncak Musim Kering di Cilacap, Solusi Bangun Indonesia Salurkan 400 Ribu Liter Air Bersih untuk Warga Terdampak

22 Agustus 2026
Menjaga Bhinneka Tunggal Ika di Tengah Derasnya Arus Informasi Menjadi Tanggung Jawab Bersama

Menjaga Bhinneka Tunggal Ika di Tengah Derasnya Arus Informasi Menjadi Tanggung Jawab Bersama

22 Agustus 2026