KORAN MERAPI – Bagi sebagian besar orang, berjalan kaki sejauh lebih dari 30 kilometer adalah sebuah siksaan fisik yang menguras energi. Namun, bagi Alfa Pratomo (48), setiap jengkal langkah kaki yang menapak di atas aspal jalanan dari jantung Kota Yogyakarta menuju perbukitan Menoreh, Kulon Progo, pada Minggu (19/7) lalu, adalah sebuah mukjizat yang sedang berjalan. Jauh dari sekadar olahraga, jalan kaki puluhan kilometer tersebut adalah selebrasi kehidupan, penebusan janji spiritual, dan ekspresi syukur paling murni dari seorang pria yang pernah divonis lumpuh.
Enam tahun lalu, hidup Alfa seolah berhenti. Serangan stroke hemoragik (perdarahan otak) memenjarakannya di ruang ICU selama 21 hari, disusul perawatan intensif lainnya. Stroke tidak hanya merenggut kemampuan motoriknya, tetapi juga sempat mengancam impian-impiannya. Bergerak satu sentimeter saja adalah kemewahan yang mustahil kala itu. Namun, sejarah mencatat titik balik yang luar biasa pada Minggu dini hari kemarin. Berdiri tegak di bawah bayang Tugu Yogyakarta, Alfa memulai langkah pertamanya menuju Sendang Sono, bukan dengan keputusasaan, melainkan dengan optimisme yang menyala.
Perjalanan spiritual Alfa tidak dilalui sendirian. Langkah kakinya berirama bersama denyut semangat Komunitas Mlampah Ziarah yang kebetulan sedang merayakan hari jadinya yang pertama. Kehadiran rekan-rekan komunitas, seperti Dwi, Didit, dan Lupi, menjadi bahan bakar spiritual yang luar biasa. Saat kekuatan fisik mulai diuji oleh tanjakan terjal Menoreh, kekuatan batin dan rapalan doa Rosario di sepanjang jalan menjadi penopang utama.
Bagi Komunitas Mlampah Ziarah, mendampingi Alfa sejauh 30 kilometer lebih bukan sekadar urusan menemani teman jalan. Ini adalah kesaksian langsung tentang bagaimana iman dan tekad mampu meruntuhkan tembok vonis medis. Ketua Komunitas, Roni Romel, dengan tepat menyebut bahwa perjalanan ini adalah kemenangan kekuatan batin di atas keterbatasan fisik. Keberhasilan Alfa menuntaskan ziarah ini adalah kado ulang tahun pertama yang paling indah sekaligus bukti nyata dari misi komunitas tersebut.
Tepat pukul 12.30 WIB, ketika matahari tegak di atas kepala, rombongan kecil ini tiba di pelataran Sendang Sono. Rasa lelah yang mendera seketika luruh, digantikan oleh keheningan magis yang mengharukan. Di depan patung Bunda Maria, Alfa bersujud. Air mata yang menetes di pipinya adalah simbol runtuhnya masa-masa kelam saat ia hanya bisa terbaring tak berdaya. Tindakannya membasuh muka dan kaki dengan air sendang yang sejuk melambangkan pembersihan dan pemulihan total yang telah ia terima dari Sang Pencipta.
Namun, esensi dari opini ini bukanlah sekadar cerita sukses kesembuhan seorang Alfa Pratomo. Nilai tertinggi dari ziarah ini terletak pada apa yang ia lakukan setelahnya. Alfa tidak menyimpan mukjizat ini untuk dirinya sendiri. Saat ini, ia aktif dalam misi sosial pribadi, menjadi mentor bagi para pasien stroke lumpuh dan memberikan pendampingan psikologis kepada keluarga mereka.
“Saya melakukan ini semua untuk membangun optimisme kesembuhan bagi pasien stroke lumpuh yang masih tergolek di tempat tidur. Ayo, kalian bisa sembuh!” kata Alfa dengan nada penuh penegasan.
Kisah Alfa Pratomo adalah sebuah madah syukur yang megah. Ia mengajarkan kepada kita semua bahwa kelumpuhan fisik tidak akan pernah mampu melumpuhkan harapan selama manusia memelihara iman dan optimisme. Langkah kaki Alfa di sepanjang aspal Yogyakarta-Kulon Progo adalah pesan kuat bagi siapapun yang hari ini sedang diuji oleh sakit dan penderitaan: bahwa mukjizat itu nyata bagi mereka yang menolak untuk menyerah.
Selamat ulang tahun yang pertama, Komunitas Mlampah Ziarah. Terima kasih telah menjadi bagian dari saksi hidup bahwa sepasang kaki yang pernah lumpuh, kini mampu berjalan jauh demi memuliakan kemanusiaan dan keagungan Tuhan. (*)






