KORAN MERAPI – Sumpah Pemuda tahun 1928 adalah tonggak sejarah yang menegaskan persatuan bangsa Indonesia dalam satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Kini, hampir satu abad kemudian, semangat itu perlu diterjemahkan dalam bentuk perjuangan baru, yaitu perjuangan ekonomi. Di tengah tantangan globalisasi, digitalisasi, dan ketimpangan ekonomi, bangsa ini membutuhkan kebangkitan ekonomi pribumi. Di sinilah peran strategis Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) menjadi sangat penting: membangun kemandirian ekonomi nasional yang berakar pada kekuatan sendiri.
Pelaksanaan Rapat Kerja Nasional (RAKERNAS) ke-II HIPPI tahun 2025 di Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki makna yang mendalam. Yogyakarta, yang dikenal sebagai kota perjuangan, pendidikan, dan budaya, kembali menjadi saksi kebangkitan semangat nasionalisme ekonomi. Di bawah kepemimpinan DPD HIPPI DIY sebagai tuan rumah, RAKERNAS ini bukan hanya agenda organisasi, tetapi momentum strategis untuk merumuskan arah baru pemberdayaan pengusaha pribumi di seluruh Indonesia.
Dalam semangat Sumpah Pemuda 2025, HIPPI harus menjadi wadah pemersatu kekuatan ekonomi bangsa. Persatuan bukan hanya dalam idealisme, tetapi juga dalam kolaborasi nyata antar pelaku usaha. Pengusaha muda, pelaku UMKM, hingga pengusaha besar perlu duduk bersama dalam satu visi: menjadikan ekonomi Indonesia berdikari di tanah sendiri. HIPPI menjadi jembatan antara kearifan lokal dan kemajuan global, antara semangat perjuangan dan inovasi digital.
RAKERNAS ke-II HIPPI di Yogyakarta diharapkan menjadi titik balik bagi penguatan jejaring antar DPP, DPD dan DPC, memperkuat solidaritas, serta melahirkan gagasan-gagasan konkret untuk memperkuat daya saing pengusaha pribumi. Isu-isu strategis seperti penguasaan teknologi, akses permodalan, peningkatan kualitas SDM, serta sinergi dengan pemerintah dan lembaga pendidikan harus menjadi agenda utama.
Kemandirian ekonomi tidak akan tercapai tanpa keberanian untuk berubah dan berinovasi. HIPPI harus menanamkan semangat “pemuda” dalam setiap langkahnya, semangat yang berani, kreatif, dan pantang menyerah. Dalam konteks Sumpah Pemuda, generasi muda pengusaha pribumi perlu memaknai perjuangan bukan lagi dengan senjata, tetapi dengan kemampuan menciptakan lapangan kerja, menguasai pasar, dan membangun ekonomi berbasis nilai kebangsaan.
Yogyakarta sebagai tuan rumah RAKERNAS adalah simbol perpaduan antara tradisi dan kemajuan. Di tanah yang sarat sejarah perjuangan ini, HIPPI menegaskan tekad baru: memperkuat posisi pengusaha pribumi sebagai tulang punggung ekonomi bangsa. Di tengah dominasi modal asing dan tantangan pasar bebas, HIPPI harus menjadi benteng yang melindungi kepentingan nasional tanpa menutup diri dari kerja sama internasional yang sehat dan berkeadilan.
Melalui RAKERNAS ke-II, HIPPI meneguhkan kembali nilai-nilai luhur: kejujuran, gotong royong, dan tanggung jawab sosial. Ekonomi tidak boleh hanya dikuasai segelintir orang; ia harus menjadi sarana pemerataan kesejahteraan. Semangat inilah yang sejalan dengan roh Sumpah Pemuda—bahwa kekuatan sejati bangsa terletak pada persatuan dan tekad bersama untuk maju.
Dari Yogyakarta, semangat baru ekonomi pribumi dikobarkan. Satu bangsa ekonomi yang mandiri, satu tekad pengusaha pribumi yang tangguh, dan satu tujuan untuk Indonesia yang sejahtera. HIPPI hadir bukan sekadar organisasi bisnis, melainkan gerakan moral dan ekonomi yang menghidupkan kembali api Sumpah Pemuda dalam wujud nyata. Dengan sinergi, keberanian, dan kerja keras, HIPPI siap memimpin langkah bangsa menuju kedaulatan ekonomi yang sesungguhnya. (*)



















