Selasa, 22 September 2026
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan
  • Redaksi
  • Kontak
  • Login
  • Register
Koran Merapi
Advertisement
  • Home
  • News
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Ekbis
  • Olahraga
  • Kesehatan
  • Wisata
  • Kuliner
  • Budaya
  • Opini
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Ekbis
  • Olahraga
  • Kesehatan
  • Wisata
  • Kuliner
  • Budaya
  • Opini
No Result
View All Result
Koran Merapi
No Result
View All Result
Home Opini

Hari Kebebasan Pers Dunia:  Menjadi Suluh dan Lokomotif Bangsa

Oleh: Dr. Teguh Santosa, Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI)

admin by admin
3 Mei 2026
in Opini
0
0
SHARES
13
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

KORAN MERAPI – SEJAK tiga dekade terakhir, tanggal 3 Mei diperingati sebagai Hari Kebebasan Pers Dunia atau World Press Freedom Day. Penetapan tanggal ini bermula dari Deklarasi Windhoek 1991 di Namibia, yang menegaskan pentingnya pers bebas, pluralistik, dan independen. Dua tahun kemudian, Majelis Umum PBB mengesahkannya sebagai peringatan resmi melalui Resolusi 48/432 pada 1993.

Deklarasi Windhoek lahir dari keresahan para jurnalis Afrika tentang sensor, intimidasi, dan pembungkaman. Mereka menegaskan bahwa kebebasan pers adalah syarat mutlak bagi demokrasi dan pembangunan. Gagasan itu kemudian menjadi rujukan global hingga hari ini.

Di Indonesia, jejak pers jauh lebih tua. Sejarah pers nasional bermula pada abad ke-19 dengan terbitnya Bataviasche Nouvelles tahun 1744, meski masih dalam kontrol kolonial. Tonggak penting muncul pada 1907 ketika Medan Prijaji milik Tirto Adhi Soerjo hadir sebagai suara perlawanan terhadap penjajahan.

Pers kebangsaan tumbuh bersama pergerakan kemerdekaan. Surat kabar seperti Oetoesan Hindia, Sinar Hindia, dan Soeara Oemoem menjadi ruang pendidikan politik bagi rakyat. Seperti ditulis Pramoedya Ananta Toer dalam “Rumah Kaca” (1988), pers saat itu bukan sekadar media, melainkan senjata ideologis melawan kebodohan dan penindasan.

Pasca kemerdekaan, pers Indonesia mengalami pasang surut. Era Orde Baru membatasi dengan sistem SIUPP, sementara reformasi 1998 membuka keran kebebasan melalui UU 40/1999 tentang Pers. Undang-undang ini mencabut sensor dan menempatkan pers sebagai pilar demokrasi.

Memasuki era digital, wajah pers nasional berubah drastis. Internet, media sosial, dan platform berbagi informasi mematahkan monopoli redaksi konvensional. Siapa saja kini bisa menjadi produsen berita dengan satu gawai di tangan.

Perkembangan ini membawa dampak ganda. Di satu sisi, akses informasi menjadi lebih cepat dan demokratis. Di sisi lain, muncul banjir disinformasi, clickbait, dan jurnalisme instan yang mengorbankan verifikasi. Post-truth menjadi ciri utama era disrupsi.

Tantangan terbesar pers nasional hari ini adalah menjaga relevansi di tengah algoritma. Berita berkualitas sering kalah cepat oleh konten sensasional yang dirancang untuk menarik perhatian sesaat. Ekonomi media pun melemah karena pendapatan iklan bergeser ke platform digital global.

Namun tantangan bukanlah alasan untuk menyerah. Mendiang Joseph Pulitzer, wartawan-politisi Hungaria-Amerika yang namanya diabadikan untuk anugerah pers tertinggi di Amerika Serikat, suatu kali mengatakan, “Pers yang sinis, materialistis, dan demagogis akan menghasilkan masyarakat yang sama rendahnya dengan dirinya sendiri.”

Kutipan ini berasal dari esainya di North American Review tahun 1904 di mana Pulitzer menekankan bahwa bangsa dan masyarakat pers memiliki keterkaitan satu sama lain. Pers yang berdedikasi mempertahankan kebajikan demokrasi, sementara pers yang sinis, korup, atau sensasionalis merusak publik. Masa depan negara, katanya lagi, terletak di tangan para jurnalis. Pers yang kehilangan idealisme akan melahirkan masyarakat yang kehilangan arah. Sebaliknya, pers yang mempertahankan idealisme memperkuat pondasi bangsa dan negara.

Tugas pers tidak berhenti pada menyuarakan aspirasi semata. Pers harus ikut membentuk dan membangun cara pandang bangsa. Di tengah pergaulan dan persaingan dunia yang semakin ketat, media memiliki peran strategis sebagai penjernih wacana dan penunjuk kompas moral.

Kita butuh pers yang mampu menumbuhkan optimisme dalam berusaha dan berkarya. Bangsa ini menghadapi banyak masalah, tapi setiap masalah selalu hadir bersama harapan. Pers yang sehat adalah yang mampu menyeimbangkan kritik dengan solusi, menyorot kegelapan tanpa melupakan cahaya.

Dalam konteks itu, pers harus menjadi suluh penerang. Ia menerangi ruang-ruang gelap kekuasaan, korupsi, dan ketidakadilan. Sekaligus menjadi lokomotif pembangunan dengan menggerakkan kesadaran publik pada isu-isu besar: pendidikan, ekonomi, lingkungan, dan kedaulatan bangsa.

Untuk menjalankan peran itu, etika tidak boleh ditawar. Kebebasan tanpa tanggung jawab akan melahirkan anarki informasi. Kehormatan pers harus dijaga dengan memegang teguh Kode Etik Jurnalistik dan berbagai pedoman pemberitaan yang berlaku.

Masyarakat pers nasional sering lantang menuntut hak kebebasan yang dijamin UU 40/1999. Itu wajar. Tetapi hak harus berbanding lurus dengan kewajiban. Kebebasan pers bukan lisensi untuk bertindak serampangan, melainkan amanah untuk menyampaikan kebenaran dengan cara yang terhormat.

Ekosistem media yang semakin melemah memang tidak dapat dipungkiri. Semakin panjang daftar media arus utama yang teraksa menyerah. Itu artinya, semakin banyak wartawan kehilangan pekerjaan. Bisnis media runtuh. Tetapi itulah tantangan zaman. Sejarah menunjukkan, setiap revolusi teknologi menuntut adaptasi.

Insan pers harus semakin canggih, cerdas, dan terampil memanfaatkan kemajuan teknologi digital. Data journalism, multimedia storytelling, dan kecerdasan buatan adalah alat baru yang dapat digunakan untuk memperkuat kredibilitas, bukan melemahkannya. Yang tidak boleh hilang adalah nurani.

Kemajuan bangsa adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah, masyarakat, dan pers berada dalam satu kapal yang sama. Karena itu, kolaborasi antara pers dan pemerintah menjadi keharusan. Kolaborasi bukan ancaman. Hubungan itu harus dilandasi saling menghormati: pemerintah membuka ruang informasi, pers menjalankan fungsi kontrol tanpa prasangka.

Walter Lippmann dalam “Public Opinion” (1922) mengingatkan bahwa pers membentuk “gambar di kepala” masyarakat tentang dunia. Jika gambar itu buram, masyarakat akan mengambil keputusan yang keliru. Jika gambar itu jernih, bangsa bisa melangkah lebih pasti.

Di Hari Kebebasan Pers Dunia ini, mari kita tegaskan kembali komitmen: menjaga kebebasan, merawat etika, dan memperkuat profesionalisme. Pers yang merdeka bukan pers yang bebas semaunya, tetapi pers yang sadar akan tanggung jawabnya kepada publik dan sejarah.

Semoga pers Indonesia terus menjadi suluh yang tidak padam dan lokomotif yang tidak berhenti. Ketika pers kuat dalam nilai dan cerdas memanfaatkan teknologi, bangsa ini akan memiliki bekal untuk berlayar di tengah gelombang ganas zaman dengan kepala tegak dan pandangan jauh ke depan.

Tags: Hari Kebebasan Pers SeduniaJMSIKoranmerapi.idPers IndonesiaTeguh Santosa

Related Posts

Mengalirkan Harapan: Peran Strategis KIM Kota Yogyakarta dalam Transformasi Tiga Sungai
Opini

Mengalirkan Harapan: Peran Strategis KIM Kota Yogyakarta dalam Transformasi Tiga Sungai

16 September 2026
Asrun, KY, dan Sapu Kotor
Opini

Asrun, KY, dan Sapu Kotor

11 September 2026
Kalau Alam Sudah Menegur
Opini

Kalau Alam Sudah Menegur

7 September 2026
Di Balik Kesuksesan Anak Laki-Laki, Ada Doa Ibu
Opini

Di Balik Kesuksesan Anak Laki-Laki, Ada Doa Ibu

6 September 2026
Bergada Notoyudo: Kesiapsiagaan Warga Menjaga Tradisi Kampung Notoyudan Kelurahan Pringgokusuman
Opini

Bergada Notoyudo: Kesiapsiagaan Warga Menjaga Tradisi Kampung Notoyudan Kelurahan Pringgokusuman

5 September 2026
Kapan Terakhir ke Pasar?
Opini

Kapan Terakhir ke Pasar?

31 Agustus 2026

Stay Connected

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Penutupan Plengkung Nirboyo (Plengkung Gading) untuk Konservasi dan Keselamatan

Penutupan Plengkung Nirboyo (Plengkung Gading) untuk Konservasi dan Keselamatan

15 Maret 2025
Bukber Alumni SMPN 1 Jogja Tahun 1983: Ayo Reuni & Bernostalgia!

Bukber Alumni SMPN 1 Jogja Tahun 1983: Ayo Reuni & Bernostalgia!

15 Maret 2025
Mematahkan Stigma, Penyintas Stroke Lumpuh dan Dokternya Berlari Bersama di Bethesda Heritage Run 2026: “Stroke Bukan Akhir Segalanya”

Mematahkan Stigma, Penyintas Stroke Lumpuh dan Dokternya Berlari Bersama di Bethesda Heritage Run 2026: “Stroke Bukan Akhir Segalanya”

17 Mei 2026
Retno Soetarto : Dunia Hiburan dapat Memberikan Manfaat Dalam Hidupnya.

Retno Soetarto : Dunia Hiburan dapat Memberikan Manfaat Dalam Hidupnya.

18 April 2024
PTMSI DIY Kirimkan 8 Atlet Ke Kejurnas PB PTMSI Tahun 2026

PTMSI DIY Kirimkan 8 Atlet Ke Kejurnas PB PTMSI Tahun 2026

0
Dampak Exit Tol di Maguwoharjo Dipetakan, Dishub DIY Wacanakan Bundaran Besar

Dampak Exit Tol di Maguwoharjo Dipetakan, Dishub DIY Wacanakan Bundaran Besar

0
Pelatih Fisik PSS Sleman Anel Hidic Benahi Fisik Pemain Secara Bertahap Hingga Capai Peak Performance Saat BRI Liga 1 Kembali Bergulir

Pelatih Fisik PSS Sleman Anel Hidic Benahi Fisik Pemain Secara Bertahap Hingga Capai Peak Performance Saat BRI Liga 1 Kembali Bergulir

0
Begini ritual tahunan di Jogja, pelaku wisata untung

Begini ritual tahunan di Jogja, pelaku wisata untung

0
PTMSI DIY Kirimkan 8 Atlet Ke Kejurnas PB PTMSI Tahun 2026

PTMSI DIY Kirimkan 8 Atlet Ke Kejurnas PB PTMSI Tahun 2026

21 September 2026
Dukung Kemandirian Energi Nasional, Bupati Gunungkidul Hadiri Rapat Bersama Mentan di Jakarta

Dukung Kemandirian Energi Nasional, Bupati Gunungkidul Hadiri Rapat Bersama Mentan di Jakarta

21 September 2026
Dorong Potensi Pariwisata Lokal, Kelurahan Kadipaten Gelar Pelatihan Konten Kreator dan Penulisan Berita Tahap 2. Ini Buktinya!

Dorong Potensi Pariwisata Lokal, Kelurahan Kadipaten Gelar Pelatihan Konten Kreator dan Penulisan Berita Tahap 2. Ini Buktinya!

20 September 2026
Lepas Pena dan Kamera, Jurnalis Joglosemar Unjuk Gigi di Turnamen Biliar Siwo PWI DIY

Lepas Pena dan Kamera, Jurnalis Joglosemar Unjuk Gigi di Turnamen Biliar Siwo PWI DIY

19 September 2026
PTMSI DIY Kirimkan 8 Atlet Ke Kejurnas PB PTMSI Tahun 2026

PTMSI DIY Kirimkan 8 Atlet Ke Kejurnas PB PTMSI Tahun 2026

21 September 2026
Dukung Kemandirian Energi Nasional, Bupati Gunungkidul Hadiri Rapat Bersama Mentan di Jakarta

Dukung Kemandirian Energi Nasional, Bupati Gunungkidul Hadiri Rapat Bersama Mentan di Jakarta

21 September 2026
Dorong Potensi Pariwisata Lokal, Kelurahan Kadipaten Gelar Pelatihan Konten Kreator dan Penulisan Berita Tahap 2. Ini Buktinya!

Dorong Potensi Pariwisata Lokal, Kelurahan Kadipaten Gelar Pelatihan Konten Kreator dan Penulisan Berita Tahap 2. Ini Buktinya!

20 September 2026
Lepas Pena dan Kamera, Jurnalis Joglosemar Unjuk Gigi di Turnamen Biliar Siwo PWI DIY

Lepas Pena dan Kamera, Jurnalis Joglosemar Unjuk Gigi di Turnamen Biliar Siwo PWI DIY

19 September 2026
Korupsi Mempermalukan Indonesia, DePA-RI Dorong Efek Jera dan Pengembalian Aset Negara

Korupsi Mempermalukan Indonesia, DePA-RI Dorong Efek Jera dan Pengembalian Aset Negara

19 September 2026
Gunungkidul Sambut Ibarbo Park 2, Perizinan Transparan, Ekonomi Warga Bergerak

Gunungkidul Sambut Ibarbo Park 2, Perizinan Transparan, Ekonomi Warga Bergerak

19 September 2026