Sabtu, 12 September 2026
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan
  • Redaksi
  • Kontak
  • Login
  • Register
Koran Merapi
Advertisement
  • Home
  • News
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Ekbis
  • Olahraga
  • Kesehatan
  • Wisata
  • Kuliner
  • Budaya
  • Opini
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Ekbis
  • Olahraga
  • Kesehatan
  • Wisata
  • Kuliner
  • Budaya
  • Opini
No Result
View All Result
Koran Merapi
No Result
View All Result
Home Opini

Sipilisasi Polri dan Jalan Panjang Reformasi yang Terlupakan

Oleh: Tundra Meliala (Ketua Umum Asosiasi Media Konvergensi Indonesia (AMKI) Pusat) 

admin by admin
10 Juni 2026
in Opini
0
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

KORAN MERAPI  – USUL Menteri HAM Natalius Pigai agar jabatan tertentu di Polri diisi kalangan sipil bagi banyak orang mungkin terdengar seperti jauh panggang dari realitas. Ketika kepercayaan publik terhadap kepolisian masih tergerus oleh berbagai kasus penyalahgunaan wewenang, gaya hidup mewah aparat, hingga keluhan klasik bahwa laporan warga baru diurusi setelah viral di media sosial, wacana sipilisasi dianggap bukan jawaban atas persoalan utama.

Reaksi itu dapat dipahami. Publik melihat rumah besar bernama Polri masih menyimpan banyak ‘PR’ yang belum selesai. Dalam situasi demikian, usulan memasukkan profesional sipil ke dalam struktur kepolisian terasa seperti mengganti perabot sebelum memperbaiki fondasi bangunan yang retak.

Padahal, jika ditinjau secara akademis dan praktik internasional, gagasan Pigai bukanlah sesuatu yang aneh. Di berbagai negara demokrasi modern, keterlibatan tenaga sipil dalam organisasi kepolisian telah menjadi praktik lazim selama puluhan tahun. Amerika Serikat, Inggris, Australia, Kanada, hingga Jepang memanfaatkan tenaga sipil untuk mengisi bidang hukum, teknologi informasi, analisis intelijen, keuangan, forensik, hingga hubungan masyarakat. Mereka tidak menjalankan fungsi penangkapan atau membawa senjata, tetapi mendukung kerja kepolisian agar lebih profesional dan efisien.

Dalam konteks itu, Pigai tidak sedang menawarkan politisasi kepolisian. Ia mengangkat konsep yang dikenal sebagai civilianization, yakni pemisahan yang lebih tegas antara fungsi keamanan publik dan fungsi administratif atau teknis yang dapat dijalankan oleh tenaga profesional non-polisi.

Namun, persoalan Indonesia bukan terletak pada ada atau tidaknya ruang bagi tenaga sipil. Persoalan yang jauh lebih mendasar adalah budaya organisasi yang selama bertahun-tahun menjadi sumber kritik publik. Sipilisasi mungkin dapat meningkatkan efisiensi dan transparansi, tetapi tidak otomatis menyelesaikan masalah integritas.

Di sinilah letak perdebatan yang sesungguhnya.

Publik sebenarnya tidak sedang menuntut lebih banyak ahli IT, analis data, atau konsultan hukum di lingkungan Polri. Yang dituntut masyarakat adalah hadirnya aparat yang profesional, responsif, sederhana, dan dapat dipercaya. Ketika seseorang kehilangan sepeda motor atau menjadi korban penipuan, ia tidak bertanya apakah kantor polisi memiliki analis data terbaik. Ia ingin laporannya diproses tanpa harus memiliki koneksi atau membuat unggahan viral terlebih dahulu.

Karena itu, akar persoalan perlu dicari lebih dalam.

Salah satu kritik yang paling sering muncul adalah soal proses rekrutmen. Meski institusi kepolisian terus melakukan pembenahan sistem seleksi, persepsi publik mengenai praktik jual-beli kursi masih belum sepenuhnya hilang. Dalam logika sederhana masyarakat, jika seseorang harus mengeluarkan biaya besar untuk masuk institusi, maka akan muncul dorongan untuk mengembalikan modal ketika sudah bertugas. Persepsi inilah yang kemudian melahirkan kecurigaan terhadap praktik pungutan, percaloan perkara, hingga penyalahgunaan jabatan.

Masalah kedua adalah kultur organisasi yang sering kali dianggap lebih menghargai loyalitas kepada kelompok dibandingkan profesionalisme. Dalam lingkungan seperti ini, keberanian mengoreksi rekan sejawat dapat dianggap sebagai ancaman terhadap solidaritas. Akibatnya, mekanisme pengawasan internal kehilangan daya gigitnya.

Dari dua persoalan tersebut lahirlah rangkaian masalah yang lebih luas: profesionalisme menurun, gaya hidup berlebihan dianggap wajar, promosi jabatan dipersepsikan tidak selalu berbasis prestasi, dan kepercayaan publik terus terkikis.

Karena itu, reformasi yang sesungguhnya mungkin tidak dimulai dari sipilisasi, melainkan dari perubahan budaya internal. Rekrutmen yang bersih memang penting, tetapi rekrutmen yang baik akan sulit bertahan jika masuk ke lingkungan yang masih mempertahankan kebiasaan lama. Sebaliknya, budaya organisasi yang sehat akan menciptakan kebutuhan alami untuk merekrut orang-orang terbaik.

Dalam perspektif manajemen organisasi, perubahan budaya selalu dimulai dari kepemimpinan. Pesan paling kuat bukanlah pidato, melainkan tindakan. Ketika pelanggaran serius dihukum secara terbuka dan konsisten, ketika promosi benar-benar diberikan kepada mereka yang berprestasi, dan ketika gaya hidup aparat diawasi dengan ketat, maka standar baru akan terbentuk dengan sendirinya.

Di titik itu, gagasan sipilisasi justru bisa menjadi pelengkap reformasi, bukan penggantinya. Profesional sipil dapat membantu memperkuat bidang-bidang yang membutuhkan keahlian khusus, sementara polisi dapat lebih fokus pada tugas pokok menjaga keamanan dan melayani masyarakat.

Dengan kata lain, perdebatan tentang sipilisasi seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan apakah sipil boleh masuk Polri atau tidak. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah institusi kepolisian telah memiliki fondasi budaya yang cukup kuat untuk menyerap perubahan tersebut.

Sebab, seperti rumah yang sedang direnovasi, menambah tenaga ahli memang penting. Tetapi tanpa memperbaiki fondasi, bangunan itu tetap akan menghadapi risiko yang sama. Reformasi Polri pada akhirnya bukan soal siapa yang mengisi jabatan tertentu, melainkan bagaimana membangun organisasi yang profesional, akuntabel, dan dipercaya publik.

Di situlah pekerjaan terbesar yang masih menanti.

Tags: AMKIKoranmerapi.idMenteri HAMReformasi PolriTundra Meliala

Related Posts

Asrun, KY, dan Sapu Kotor
Opini

Asrun, KY, dan Sapu Kotor

11 September 2026
Kalau Alam Sudah Menegur
Opini

Kalau Alam Sudah Menegur

7 September 2026
Di Balik Kesuksesan Anak Laki-Laki, Ada Doa Ibu
Opini

Di Balik Kesuksesan Anak Laki-Laki, Ada Doa Ibu

6 September 2026
Bergada Notoyudo: Kesiapsiagaan Warga Menjaga Tradisi Kampung Notoyudan Kelurahan Pringgokusuman
Opini

Bergada Notoyudo: Kesiapsiagaan Warga Menjaga Tradisi Kampung Notoyudan Kelurahan Pringgokusuman

5 September 2026
Kapan Terakhir ke Pasar?
Opini

Kapan Terakhir ke Pasar?

31 Agustus 2026
Paradoks Kebun Sawit: Terbesar di Dunia, Tapi Berlutut pada Harga Global
Opini

Paradoks Kebun Sawit: Terbesar di Dunia, Tapi Berlutut pada Harga Global

29 Agustus 2026

Stay Connected

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Penutupan Plengkung Nirboyo (Plengkung Gading) untuk Konservasi dan Keselamatan

Penutupan Plengkung Nirboyo (Plengkung Gading) untuk Konservasi dan Keselamatan

15 Maret 2025
Bukber Alumni SMPN 1 Jogja Tahun 1983: Ayo Reuni & Bernostalgia!

Bukber Alumni SMPN 1 Jogja Tahun 1983: Ayo Reuni & Bernostalgia!

15 Maret 2025
Mematahkan Stigma, Penyintas Stroke Lumpuh dan Dokternya Berlari Bersama di Bethesda Heritage Run 2026: “Stroke Bukan Akhir Segalanya”

Mematahkan Stigma, Penyintas Stroke Lumpuh dan Dokternya Berlari Bersama di Bethesda Heritage Run 2026: “Stroke Bukan Akhir Segalanya”

17 Mei 2026
Retno Soetarto : Dunia Hiburan dapat Memberikan Manfaat Dalam Hidupnya.

Retno Soetarto : Dunia Hiburan dapat Memberikan Manfaat Dalam Hidupnya.

18 April 2024
SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta Siapkan Kader Visioner

SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta Siapkan Kader Visioner

0
Dampak Exit Tol di Maguwoharjo Dipetakan, Dishub DIY Wacanakan Bundaran Besar

Dampak Exit Tol di Maguwoharjo Dipetakan, Dishub DIY Wacanakan Bundaran Besar

0
Pelatih Fisik PSS Sleman Anel Hidic Benahi Fisik Pemain Secara Bertahap Hingga Capai Peak Performance Saat BRI Liga 1 Kembali Bergulir

Pelatih Fisik PSS Sleman Anel Hidic Benahi Fisik Pemain Secara Bertahap Hingga Capai Peak Performance Saat BRI Liga 1 Kembali Bergulir

0
Begini ritual tahunan di Jogja, pelaku wisata untung

Begini ritual tahunan di Jogja, pelaku wisata untung

0
SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta Siapkan Kader Visioner

SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta Siapkan Kader Visioner

11 September 2026
Asrun, KY, dan Sapu Kotor

Asrun, KY, dan Sapu Kotor

11 September 2026
Dua Putra Gunungkidul Wakili Indonesia di Asian Games Aichi-Nagoya 2026, Bupati Ajak Masyarakat Panjatkan Doa dan Dukungan

Dua Putra Gunungkidul Wakili Indonesia di Asian Games Aichi-Nagoya 2026, Bupati Ajak Masyarakat Panjatkan Doa dan Dukungan

10 September 2026
Sri Sultan HB X Kunjungi Stand UMBY di Pameran Riset PTS DIY

Sri Sultan HB X Kunjungi Stand UMBY di Pameran Riset PTS DIY

10 September 2026
SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta Siapkan Kader Visioner

SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta Siapkan Kader Visioner

11 September 2026
Asrun, KY, dan Sapu Kotor

Asrun, KY, dan Sapu Kotor

11 September 2026
Dua Putra Gunungkidul Wakili Indonesia di Asian Games Aichi-Nagoya 2026, Bupati Ajak Masyarakat Panjatkan Doa dan Dukungan

Dua Putra Gunungkidul Wakili Indonesia di Asian Games Aichi-Nagoya 2026, Bupati Ajak Masyarakat Panjatkan Doa dan Dukungan

10 September 2026
Sri Sultan HB X Kunjungi Stand UMBY di Pameran Riset PTS DIY

Sri Sultan HB X Kunjungi Stand UMBY di Pameran Riset PTS DIY

10 September 2026
DAOP 6 Yogya Gelar Lomba Karya Jurnalistik, Pendaftaran Dibuka hingga 24 September

DAOP 6 Yogya Gelar Lomba Karya Jurnalistik, Pendaftaran Dibuka hingga 24 September

9 September 2026
Sekolah Muhammadiyah Didorong Bertransformasi dari ‘Mengajar’ ke ‘Menghidupkan’

Sekolah Muhammadiyah Didorong Bertransformasi dari ‘Mengajar’ ke ‘Menghidupkan’

8 September 2026