KORAN MERAPI — Program Mas JOS (Masyarakat Jogja Olah Sampah) yang selama ini menjadi motor penggerak pengelolaan sampah dari hulu di Kota Yogyakarta kembali menorehkan prestasi membanggakan. Tidak hanya berhasil mengubah perilaku ribuan keluarga dalam memilah dan mengolah sampah, program ini kini resmi dilirik oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) RI sebagai model nasional pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Momentum tersebut menguat dalam Mas JOS Award 2025 yang digelar di Balai Kota Yogyakarta, Jumat (12/12/25), sebagai bentuk apresiasi Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Lingkungan Hidup kepada keluarga, komunitas, dan institusi yang konsisten menerapkan prinsip Mas JOS.
Direktur Pemulihan Lahan Terkontaminasi dan Tanggap Darurat Limbah B3 KLH RI, Vinda Damayanti Ansjar, menegaskan bahwa Mas JOS berpotensi menjadi starter bagi kota-kota di Indonesia dalam membangun sistem pengelolaan sampah dari rumah.

Menurutnya, Yogyakarta saat ini menjadi salah satu daerah paling maju dalam gerakan pemilahan sampah berbasis masyarakat, dengan 37.000 Kepala Keluarga yang aktif memilah, mengolah sampah organik, dan menyalurkan anorganik ke bank sampah.
“Mas JOS ini bisa menjadi starter buat kota-kota lainnya. Pesertanya sudah sangat meningkat, ada 37 ribu KK yang konsisten memilah dan mengolah sampah,” ujar Vinda.
Ia menambahkan, keberhasilan Yogyakarta bukan sekadar pada angka partisipasi, melainkan pada terbentuknya budaya baru di masyarakat, sehingga program akan terus berlanjut meski terjadi pergantian kepemimpinan.
KLH tengah mengkaji opsi untuk mereplikasi konsep Mas JOS ke berbagai daerah di Indonesia, termasuk di luar Pulau Jawa. Langkah ini diharapkan mampu menekan ketergantungan terhadap TPA yang saat ini banyak mengalami over capacity akibat praktik open dumping.
“Kita berharap model ini dapat direplikasi, sehingga jumlah sampah yang ditimbun di TPA semakin berkurang,” tegasnya.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, dalam keterangan kepada media di sela meninjau stan hasil pengolahan sampah, di agenda Mas JOS Award 2025 di Balai Kota Yogyakarta, Jumat (12/12/25) menekankan bahwa Mas JOS Award menjadi sarana untuk menguatkan kembali semangat warga dalam memilah sampah dari rumah.
Ia mengungkapkan, perkembangan pengelolaan sampah organik menunjukkan peningkatan signifikan. Kini, pengumpulan sampah organik basah mencapai 25 ton per hari, setara dengan 1.000 ember.
“Awalnya 300, 400, sekarang tembus 1.000 ember. Ini bukti bahwa masyarakat masih bisa diajak bekerja sama untuk memilah dari rumah,” ujarnya.
Hasto juga mendorong lebih dari 600 bank sampah di Kota Yogyakarta untuk meningkatkan frekuensi pelayanan, idealnya bisa melayani penimbangan setiap hari agar memudahkan warga menyalurkan sampah anorganik.
“Kita ingin menggelorakan kembali semangat memilah sampah dari hulu. Mereka yang berprestasi hari ini kita tampilkan, agar bisa getok tular ke bank sampah lainnya,” tambahnya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta, Rajwan Taufiq, S.I.P., M.Si., menegaskan bahwa Mas JOS Award merupakan bentuk penghargaan bagi masyarakat dan keluarga yang berhasil mengimplementasikan lima langkah utama Mas JOS: memilah sampah, mengolah organik, serta menyalurkan anorganik ke bank sampah.
Tujuannya adalah mewujudkan Jogja yang bersih, sehat, dan lestari melalui pengelolaan sampah mandiri di tingkat rumah tangga.
Salah satu penerima penghargaan Mas JOS Award 2025 adalah SMP Negeri 12 Yogyakarta. Kepala sekolah, Abdurrahman, menyampaikan bahwa penghargaan tersebut memberi motivasi besar bagi pihak sekolah untuk menjaga keberlanjutan lingkungan.
“Penghargaan ini akan menambah motivasi kami untuk selalu menjaga lingkungan,” ujarnya.
Sebagai Sekolah Adiwiyata, SMPN 12 berkomitmen memperkuat budaya lingkungan yang kondusif dan ramah bagi siswa.
“Penghargaan ini bukan hanya sebatas piala, tetapi harus berkelanjutan agar lingkungan kami tetap terjaga,” tegasnya.

Dalam ajang yang sama, salah satu kelurahan, yakni Kelurahan Gedongkiwo kembali mengukir prestasi gemilang dengan meraih dua penghargaan: Juara 1 Lomba Proklim melalui RW 03 Suryowijayan dan Juara 1 Bank Sampah Inovatif melalui Bank Sampah Pa-Q-One RW 11.
Prestasi ini mempertegas konsistensi Gedongkiwo dalam mengembangkan program lingkungan berbasis warga.
Dengan keterlibatan puluhan ribu keluarga, ratusan bank sampah aktif, dan budaya pemilahan yang semakin mengakar, Mas JOS kini tidak hanya menjadi kebanggaan Yogyakarta, tetapi juga rujukan nasional dalam pengelolaan limbah rumah tangga.
Jika rencana replikasi KLH terealisasi, Mas JOS berpotensi menjadi salah satu gerakan lingkungan paling berdampak di Indonesia dalam satu dekade terakhir, mengubah cara masyarakat memandang dan mengelola sampah, dimulai dari rumah. (Ags)








