KORAN MERAPI – Situs Gedong Garjitowati menjadi saksi bisu tekad membara Pangeran Mangkubumi dalam mewujudkan Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat. Jauh sebelum hiruk pikuk Malioboro dan Pasar Beringharjo eksis, tempat sunyi ini merupakan lokasi sakral dicetuskannya tatanan konsep Sangkan Paraning Dumadi.
Guna mendalami nilai historis tersebut, Pirukunan Tuwanggana Kemantren Kraton menggelar aksi niti laku ke Situs Gedong Garjitowati yang berlokasi di Kampung Taman, Kelurahan Patehan, pada Jumat (13/3/26). Kegiatan ini bertepatan dengan momentum Hari Jadi Daerah Istimewa Yogyakarta ke-271.
Eksistensi Pirukunan Tuwanggana ini ditunjukkan hanya berselang dua hari setelah pengukuhan pengurus pada Rabu, 11 Maret 2026 yang lalu oleh Mantri Pamong Praja Kraton, Drs. Sumargandi, M.Si. Di bawah pimpinan Ir. Sutaryoko, para tokoh Tuwanggana dari Kelurahan Patehan, Kadipaten, dan Panembahan turun langsung menelusuri akar sejarah Kasultanan.

“Kami hadir di Garjitowati untuk menyelami alur historis Hadeging Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat di titik lokasi proklamasi Pangeran Mangkubumi,” ujar Haryawan Emir Nuswantoro, SS, SE, Sekretaris Pirukunan Tuwanggana Kraton.
Meski memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi, kondisi fisik situs yang berada di komplek Pemandian Tamansari sisi selatan ini memerlukan perhatian serius. Saat ini, situs tersebut hanya menyisakan pondasi bangunan utuh berbentuk bujur sangkar tanpa dinding dan atap di tengah pemukiman penduduk.
Haryawan Emir menambahkan beberapa poin krusial terkait kondisi di lapangan, yakni Papan Penanda Rusak, yang mana papan nama penanda Benda Cagar Budaya (BCB) ditemukan dalam kondisi rusak atau hilang.
Kemudian Minim Informasi, tidak adanya papan informasi yang menjelaskan nilai historis situs kepada masyarakat umum.
Kunjungan ini memberikan kesan mendalam bagi para pengurus. Ir. Gardani, Ketua Kampung Kadipaten Wetan, bersama anggota lainnya seperti Yulisa Mardiastuti, Sandra Suminar, dan Dwi Lestari, mengaku takjub mendapati fakta bahwa lokasi bersejarah sebesar ini berada sangat dekat dengan aktivitas harian mereka.
Ketua Pirukunan Tuwanggana, Ir. Sutaryoko, menegaskan bahwa kegiatan niti laku ini bukan sekadar kunjungan biasa.
“Kegiatan ini adalah upaya sinergi dan dukungan kami kepada Pemda DIY yang mengikrarkan semangat ‘Mulat Sarira, Jumangkah Jantraning Laku’. Kami berharap identitas sejarah ini tetap terjaga di tengah perkembangan zaman,” pungkasnya.
Pirukunan Tuwanggana ini merupakan wadah komunikasi dan pengabdian para tokoh masyarakat di wilayah Kemantren Kraton yang berfokus pada pelestarian nilai budaya dan kesejahteraan wilayah di lingkungan seputaran Kraton Yogyakarta. (Rls).



















