Jumat, 5 Desember 2025
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan
  • Redaksi
  • Kontak
  • Login
  • Register
Koran Merapi
Advertisement
  • Home
  • News
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Ekbis
  • Olahraga
  • Kesehatan
  • Wisata
  • Kuliner
  • Budaya
  • Opini
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Ekbis
  • Olahraga
  • Kesehatan
  • Wisata
  • Kuliner
  • Budaya
  • Opini
No Result
View All Result
Koran Merapi
No Result
View All Result
Home Opini

Di Balik Ledakan Perang Israel-Iran

Oleh : Dr. KH Amidhan Shaberah (Ketua MUI 1995-2015/Komnas HAM 2002-2007)

admin by admin
26 Juni 2025
in Opini
0
0
SHARES
11
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

KORAN MERAPI – Tanpa babibu, tetiba puluhan pesawat tempur Israel membom Teheran dan fasiltas nuklir Iran, Jumat (13/6/ 2025) dini hari lalu. Iran pun, dalam hitungan jam langsung membalasnya, dengan meluncurkan ratusan rudal ke Tel Aviv.

Sejak itu perang pun berkobar. Iran dan Israel saling menyerang dengan meluncurkan rudal dan drone bersenjata ke wilayah sasaran. Kini sudah ribuan rudal dan drone telah diluncurkan Israel dan Iran untuk saling menghancurkan.

Ratusan gedung hancur di Teheran. Hal yang sama terjadi di Tel Aviv. Masing-masing kubu mengklaim kemenangan. Dalam kondisi terdesak, Israel minta bantuan Amerika Serikat (AS). Washington pun membombardir Iran, menghancurkan fasilitas nuklir di Fordow, Natanz, dan Isfahan , Minggu (22/6).

Tapi Aneh. Setelah membom Iran, Presiden Donald Trump mengumumkan adanya gencatan senjata antara Israel dan Iran (24/6). Lebih aneh lagi, hanya beberapa jam setelah Trump mengumumkan gencatan senjata, Israel kembali menyerang Iran.

Lalu, siapa yang salah bila perang makin berkobar?Jelas Israel dan Amerika. Yang memulai perang adalah Israel. Kenapa Israel berani memulai perang di tengah kesibukannya menghadapi Hamas di Palestina dan Houthi di Yaman? Karena — pinjam pakar hukum internasional UI, Prof. Hikmahanto Juwana — ada AS di belakangnya. Bahkan ketika Israel menyerang Teheran 13 Juni dini hari, pesawat tempur yang dipakai adalah milik AS yang berada di pangkalan militer Amerika di Qatar. Israel tidak akan berani menyerang Iran tanpa AS, kata Hikmahanto.

Persoalan mendasar dari meletusnya perang Israel-Iran ini sangat klasik. Yaitu: Kenapa Iran dilarang membangun fasilitas nuklir? — sedangkan Israel dibiarkan membangun fasilitas nuklir sehingga mampu membuat bom atom?
Jawabnya juga klasik: Iran adalah anggota Treaty on the Non-Proliferation of Nuclear Weapons (NPT) — Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir. Sebagai anggota NPT, Iran berkomitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir. Program nuklirnya untuk kepentingan sipil dan diawasi oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Sedangkan Israel tidak menandatangani NPT, sehingga secara hukum internasional tidak terikat pada kewajiban mencegah pengembangan senjata nuklir.

Pertanyaan dan Jawaban tersebut di atas sangat klasik. Hasilnya tidak menyentuh persoalan mendasar dari penyebab konflik tersebut. Kenapa? Karena persoalan konflik Israel dan Iran sesungguhnya menyangkut isu geopolitik, geokultural, dan hubungan internasional yang sangat kompleks. Di dalamnya termasuk pula isu etnis, agama, dan kultural, yang ditarik sejak 586 abad sebelum Masehi. Yaitu, saat bangsa Israel terusir dari tanah airnya di Kanaan (Palestina) pada 2000 tahun yang lalu.

Di sisi lain, negara-negara Barat yang mendukung Israel, mengaitkan pula isu perang tersebut dengan sejarah masa lalunya. Yaitu ketika bangsa Persia (Iran) konflik dengan Romawi (Barat). Dalam sejarah, konflik antara Romawi dan Persia berlangsung selama beberapa abad dan terjadi dalam berbagai periode sejarah, terutama antara Kekaisaran Romawi (Romawi Timur/Bizantium) melawan dua dinasti Persia — Parthia dan Sassanid — antara 66 SM — 224 M.
Belakangan, sejak masuknya Islam ke Persia, konflik kultural antara Barat (Romawi) versus Iran (Persia) makin rumit dan kompleks. Celakanya, di tengah-tengah konflik itu, muncul pula bangsa Israel (yang terusir dari tanah kelahirannya di Kanaan, Palestina) yang ditempatkan kembali oleh Barat (Inggris) ke tanah yang “dijanjikan” itu melalui Deklarasi Balfour pada tahun 1917. Padahal tanah yang “dijanjikan tersebut” sudah ditempati bangsa Arab berabad-abad lamanya. Atas nama tanah yang dijanjikan itulah berdirilah negara Israel yang didukung Inggris dan Amerika, pemenang perang dunia pertama dan kedua. Selanjutnya Barat pun mendukung eksistensi Israel. Kompleksitas kultural itulah yang kini “menyelimuti” nuansa perang Israel dan Iran tersebut.

Dalam konteks inilah, kita bisa memahami negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat dan sekutunya, yang menganggap bahwa jika Iran (Persia) memiliki senjata nuklir, maka akan sangat berbahaya. Tidak hanya di Timur Tengah. Tapi juga di dunia. Dan yang terpenting, bom nuklir Iran akan melenyapkan Israel, negara yang eksistensinya didukung Barat. Itulah kekhawatiran Barat terhadap fasilitas nuklir di Iran.
Di era modern, Israel adalah sekutu strategis AS di Timur Tengah. Negara-negara Barat tidak melarang Israel membangun fasilitas nuklirnya karena pertimbangan strategis tadi. Padahal menurut berbagai sumber, Israel kini mempunyai 80–90 hulu ledak nuklir. Tel Aviv tidak pernah membantahnya.

Di pihak lain, Iran memiliki hubungan yang amat buruk dengan AS dan negara-negara Barat sejak Revolusi Islam 1979. Ini membuat pengawasan terhadap fasilitas nuklir Iran lebih ketat dan penuh kecurigaan. Padahal Iran sebagai anggota NPT secara resmi menyangkal ingin membuat bom nuklir. Tapi program pengayaan uraniumnya yang intensif menimbulkan kekhawatiran Barat. Karena teknologi pengayaan uranium bisa digunakan untuk membuat bom nuklir.

Masalah nuklir inilah pangkal perseteruan antara Iran, Israel, dan Amerika. Iran menganggap Israel hanya boneka Amerika, harus dilenyapkan dari Timur Tengah. Tel Aviv menganggap Iran sebagai monster yang selalu memusuhi Israel tanpa henti. Lebih jauh, Amerika menganggap Iran adalah batu sandungan yang mengganggu hegemoni Barat di Timur Tengah. Pandangan saling curiga dan benci itulah yang kini menyelimuti ketiga negara tersebut.

Seandainya pikiran damai muncul di benak Benyamin Netanyahu, Ali Khamenei, dan Donald Trump — niscaya kompleksitas geopolitik itu bisa diurai. Bukankah 57 negara-negara Islam yang tergabung dalam OKI (Organisasi Kerjasama Islam) sudah menjamin keamanan dan mengakui Israel jika Tel Aviv mau mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Palestina?

Jika itu terjadi, yakinlah niat Iran untuk melenyapkan Israel sirna. Begitu pula Israel — pikiran yang membuat dirinya selalu terancam akan sirna pula.

Perang — seperti kata Presiden Tiongkok Xi Jinping — tidak akan menyelesaikan masalah. Yang menang akan jadi arang. Yang kalah akan jadi abu!

Tags: Amerika SerikatIranIsraelKoranmerapi.idPalestina

Related Posts

Ironi Pidato Jokowi di Bloomberg Forum Singapura
Opini

Ironi Pidato Jokowi di Bloomberg Forum Singapura

24 November 2025
Konvergensi Media Bukan Lagi Pilihan Tapi Keharusan
Opini

Purbaya: Harapan di Tengah Keretakan Anggaran

23 November 2025
FWK Membisikkan Kebangsaan dari Diskusi-diskusi Kecil
Opini

FWK Membisikkan Kebangsaan dari Diskusi-diskusi Kecil

31 Oktober 2025
Koperasi Desa Merah Putih : Antara Harapan dan Pelajaran Masa Lalu
Opini

Pinjaman Pusat, Beban Daerah: Ironi Baru Desentralisasi Fiskal

29 Oktober 2025
HIPPI dan Semangat Sumpah Pemuda 2025: Membangun Kemandirian Ekonomi dari Tanah Perjuangan
Opini

HIPPI dan Semangat Sumpah Pemuda 2025: Membangun Kemandirian Ekonomi dari Tanah Perjuangan

28 Oktober 2025
Menumbuhkan Minat Baca Generasi Z di Era Serba Digital
Opini

Menumbuhkan Minat Baca Generasi Z di Era Serba Digital

14 Oktober 2025
Koran Merapi

PT Merapi Media Utama
Jl Gambiran No 45 Yogyakarta 55163

0812 2712 7251
harianmerapi@gmail.com

Topik Berita

  • Bedah buku
  • Budaya
  • Cerpen
  • Ekbis
  • Hukum
  • Kearifan
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lain-lain
  • Lelang
  • Lifestyle
  • News
  • Olahraga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Profil
  • Wisata

Berita Terbaru

Tambah Aktivitas Bisnis dan Umumkan Direktur Utama Baru, SBI Perkuat Fokus Peningkatan Kinerja di Tengah Tantangan Industri

Tambah Aktivitas Bisnis dan Umumkan Direktur Utama Baru, SBI Perkuat Fokus Peningkatan Kinerja di Tengah Tantangan Industri

5 Desember 2025
Pelantikan Pengurus DPC GPPMP Kabupaten Gunungkidul dan Talkshow Industri Bisnis Kreatif. Ini Buktinya!

Pelantikan Pengurus DPC GPPMP Kabupaten Gunungkidul dan Talkshow Industri Bisnis Kreatif. Ini Buktinya!

5 Desember 2025
  • Aturan Pengguna
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber

© 2024 Koran Merapi. All Right Reserved.

No Result
View All Result
  • Aturan Pengguna
  • Home
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
  • Pasang Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang Kami

© 2024 Koran Merapi. All Right Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
error code: 522