Selasa, 23 Juni 2026
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan
  • Redaksi
  • Kontak
  • Login
  • Register
Koran Merapi
Advertisement
  • Home
  • News
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Ekbis
  • Olahraga
  • Kesehatan
  • Wisata
  • Kuliner
  • Budaya
  • Opini
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Ekbis
  • Olahraga
  • Kesehatan
  • Wisata
  • Kuliner
  • Budaya
  • Opini
No Result
View All Result
Koran Merapi
No Result
View All Result
Home Opini

Di Balik Ledakan Perang Israel-Iran

Oleh : Dr. KH Amidhan Shaberah (Ketua MUI 1995-2015/Komnas HAM 2002-2007)

admin by admin
26 Juni 2025
in Opini
0
0
SHARES
31
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

KORAN MERAPI – Tanpa babibu, tetiba puluhan pesawat tempur Israel membom Teheran dan fasiltas nuklir Iran, Jumat (13/6/ 2025) dini hari lalu. Iran pun, dalam hitungan jam langsung membalasnya, dengan meluncurkan ratusan rudal ke Tel Aviv.

Sejak itu perang pun berkobar. Iran dan Israel saling menyerang dengan meluncurkan rudal dan drone bersenjata ke wilayah sasaran. Kini sudah ribuan rudal dan drone telah diluncurkan Israel dan Iran untuk saling menghancurkan.

Ratusan gedung hancur di Teheran. Hal yang sama terjadi di Tel Aviv. Masing-masing kubu mengklaim kemenangan. Dalam kondisi terdesak, Israel minta bantuan Amerika Serikat (AS). Washington pun membombardir Iran, menghancurkan fasilitas nuklir di Fordow, Natanz, dan Isfahan , Minggu (22/6).

Tapi Aneh. Setelah membom Iran, Presiden Donald Trump mengumumkan adanya gencatan senjata antara Israel dan Iran (24/6). Lebih aneh lagi, hanya beberapa jam setelah Trump mengumumkan gencatan senjata, Israel kembali menyerang Iran.

Lalu, siapa yang salah bila perang makin berkobar?Jelas Israel dan Amerika. Yang memulai perang adalah Israel. Kenapa Israel berani memulai perang di tengah kesibukannya menghadapi Hamas di Palestina dan Houthi di Yaman? Karena — pinjam pakar hukum internasional UI, Prof. Hikmahanto Juwana — ada AS di belakangnya. Bahkan ketika Israel menyerang Teheran 13 Juni dini hari, pesawat tempur yang dipakai adalah milik AS yang berada di pangkalan militer Amerika di Qatar. Israel tidak akan berani menyerang Iran tanpa AS, kata Hikmahanto.

Persoalan mendasar dari meletusnya perang Israel-Iran ini sangat klasik. Yaitu: Kenapa Iran dilarang membangun fasilitas nuklir? — sedangkan Israel dibiarkan membangun fasilitas nuklir sehingga mampu membuat bom atom?
Jawabnya juga klasik: Iran adalah anggota Treaty on the Non-Proliferation of Nuclear Weapons (NPT) — Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir. Sebagai anggota NPT, Iran berkomitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir. Program nuklirnya untuk kepentingan sipil dan diawasi oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Sedangkan Israel tidak menandatangani NPT, sehingga secara hukum internasional tidak terikat pada kewajiban mencegah pengembangan senjata nuklir.

Pertanyaan dan Jawaban tersebut di atas sangat klasik. Hasilnya tidak menyentuh persoalan mendasar dari penyebab konflik tersebut. Kenapa? Karena persoalan konflik Israel dan Iran sesungguhnya menyangkut isu geopolitik, geokultural, dan hubungan internasional yang sangat kompleks. Di dalamnya termasuk pula isu etnis, agama, dan kultural, yang ditarik sejak 586 abad sebelum Masehi. Yaitu, saat bangsa Israel terusir dari tanah airnya di Kanaan (Palestina) pada 2000 tahun yang lalu.

Di sisi lain, negara-negara Barat yang mendukung Israel, mengaitkan pula isu perang tersebut dengan sejarah masa lalunya. Yaitu ketika bangsa Persia (Iran) konflik dengan Romawi (Barat). Dalam sejarah, konflik antara Romawi dan Persia berlangsung selama beberapa abad dan terjadi dalam berbagai periode sejarah, terutama antara Kekaisaran Romawi (Romawi Timur/Bizantium) melawan dua dinasti Persia — Parthia dan Sassanid — antara 66 SM — 224 M.
Belakangan, sejak masuknya Islam ke Persia, konflik kultural antara Barat (Romawi) versus Iran (Persia) makin rumit dan kompleks. Celakanya, di tengah-tengah konflik itu, muncul pula bangsa Israel (yang terusir dari tanah kelahirannya di Kanaan, Palestina) yang ditempatkan kembali oleh Barat (Inggris) ke tanah yang “dijanjikan” itu melalui Deklarasi Balfour pada tahun 1917. Padahal tanah yang “dijanjikan tersebut” sudah ditempati bangsa Arab berabad-abad lamanya. Atas nama tanah yang dijanjikan itulah berdirilah negara Israel yang didukung Inggris dan Amerika, pemenang perang dunia pertama dan kedua. Selanjutnya Barat pun mendukung eksistensi Israel. Kompleksitas kultural itulah yang kini “menyelimuti” nuansa perang Israel dan Iran tersebut.

Dalam konteks inilah, kita bisa memahami negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat dan sekutunya, yang menganggap bahwa jika Iran (Persia) memiliki senjata nuklir, maka akan sangat berbahaya. Tidak hanya di Timur Tengah. Tapi juga di dunia. Dan yang terpenting, bom nuklir Iran akan melenyapkan Israel, negara yang eksistensinya didukung Barat. Itulah kekhawatiran Barat terhadap fasilitas nuklir di Iran.
Di era modern, Israel adalah sekutu strategis AS di Timur Tengah. Negara-negara Barat tidak melarang Israel membangun fasilitas nuklirnya karena pertimbangan strategis tadi. Padahal menurut berbagai sumber, Israel kini mempunyai 80–90 hulu ledak nuklir. Tel Aviv tidak pernah membantahnya.

Di pihak lain, Iran memiliki hubungan yang amat buruk dengan AS dan negara-negara Barat sejak Revolusi Islam 1979. Ini membuat pengawasan terhadap fasilitas nuklir Iran lebih ketat dan penuh kecurigaan. Padahal Iran sebagai anggota NPT secara resmi menyangkal ingin membuat bom nuklir. Tapi program pengayaan uraniumnya yang intensif menimbulkan kekhawatiran Barat. Karena teknologi pengayaan uranium bisa digunakan untuk membuat bom nuklir.

Masalah nuklir inilah pangkal perseteruan antara Iran, Israel, dan Amerika. Iran menganggap Israel hanya boneka Amerika, harus dilenyapkan dari Timur Tengah. Tel Aviv menganggap Iran sebagai monster yang selalu memusuhi Israel tanpa henti. Lebih jauh, Amerika menganggap Iran adalah batu sandungan yang mengganggu hegemoni Barat di Timur Tengah. Pandangan saling curiga dan benci itulah yang kini menyelimuti ketiga negara tersebut.

Seandainya pikiran damai muncul di benak Benyamin Netanyahu, Ali Khamenei, dan Donald Trump — niscaya kompleksitas geopolitik itu bisa diurai. Bukankah 57 negara-negara Islam yang tergabung dalam OKI (Organisasi Kerjasama Islam) sudah menjamin keamanan dan mengakui Israel jika Tel Aviv mau mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Palestina?

Jika itu terjadi, yakinlah niat Iran untuk melenyapkan Israel sirna. Begitu pula Israel — pikiran yang membuat dirinya selalu terancam akan sirna pula.

Perang — seperti kata Presiden Tiongkok Xi Jinping — tidak akan menyelesaikan masalah. Yang menang akan jadi arang. Yang kalah akan jadi abu!

Tags: Amerika SerikatIranIsraelKoranmerapi.idPalestina

Related Posts

Pembelajaran Sains Berwawasan Nilai-Nilai Tamansiswa
Opini

Pembelajaran Sains Berwawasan Nilai-Nilai Tamansiswa

21 Juni 2026
Sipilisasi Polri dan Jalan Panjang Reformasi yang Terlupakan
Opini

Sipilisasi Polri dan Jalan Panjang Reformasi yang Terlupakan

10 Juni 2026
Memelihara Harapan, Catatan Hendry Ch Bangun (FWK)
Opini

Memelihara Harapan, Catatan Hendry Ch Bangun (FWK)

6 Juni 2026
Ketika ‘Pesta Babi’ Menjadi Metafora Papua
Opini

Ketika ‘Pesta Babi’ Menjadi Metafora Papua

14 Mei 2026
Saat Rasa Aman Dipertaruhkan: Menakar Akuntabilitas Layanan Pendidikan Anak Usia Dini
Opini

Saat Rasa Aman Dipertaruhkan: Menakar Akuntabilitas Layanan Pendidikan Anak Usia Dini

28 April 2026
Hari Kebebasan Pers Dunia:  Menjadi Suluh dan Lokomotif Bangsa
Opini

Hari Kebebasan Pers Dunia:  Menjadi Suluh dan Lokomotif Bangsa

3 Mei 2026

Stay Connected

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Penutupan Plengkung Nirboyo (Plengkung Gading) untuk Konservasi dan Keselamatan

Penutupan Plengkung Nirboyo (Plengkung Gading) untuk Konservasi dan Keselamatan

15 Maret 2025
Bukber Alumni SMPN 1 Jogja Tahun 1983: Ayo Reuni & Bernostalgia!

Bukber Alumni SMPN 1 Jogja Tahun 1983: Ayo Reuni & Bernostalgia!

15 Maret 2025
Mematahkan Stigma, Penyintas Stroke Lumpuh dan Dokternya Berlari Bersama di Bethesda Heritage Run 2026: “Stroke Bukan Akhir Segalanya”

Mematahkan Stigma, Penyintas Stroke Lumpuh dan Dokternya Berlari Bersama di Bethesda Heritage Run 2026: “Stroke Bukan Akhir Segalanya”

17 Mei 2026
Retno Soetarto : Dunia Hiburan dapat Memberikan Manfaat Dalam Hidupnya.

Retno Soetarto : Dunia Hiburan dapat Memberikan Manfaat Dalam Hidupnya.

18 April 2024
UPN Veteran Yogyakarta Dampingi Louby Batik, Perkuat Branding dan Daya Saing Digital

UPN Veteran Yogyakarta Dampingi Louby Batik, Perkuat Branding dan Daya Saing Digital

0
Dampak Exit Tol di Maguwoharjo Dipetakan, Dishub DIY Wacanakan Bundaran Besar

Dampak Exit Tol di Maguwoharjo Dipetakan, Dishub DIY Wacanakan Bundaran Besar

0
Pelatih Fisik PSS Sleman Anel Hidic Benahi Fisik Pemain Secara Bertahap Hingga Capai Peak Performance Saat BRI Liga 1 Kembali Bergulir

Pelatih Fisik PSS Sleman Anel Hidic Benahi Fisik Pemain Secara Bertahap Hingga Capai Peak Performance Saat BRI Liga 1 Kembali Bergulir

0
Begini ritual tahunan di Jogja, pelaku wisata untung

Begini ritual tahunan di Jogja, pelaku wisata untung

0
UPN Veteran Yogyakarta Dampingi Louby Batik, Perkuat Branding dan Daya Saing Digital

UPN Veteran Yogyakarta Dampingi Louby Batik, Perkuat Branding dan Daya Saing Digital

23 Juni 2026
Menakar Manisnya Sukses Bakpia Jogkem di Bawah Komando Ariyanto

Menakar Manisnya Sukses Bakpia Jogkem di Bawah Komando Ariyanto

22 Juni 2026
Pembelajaran Sains Berwawasan Nilai-Nilai Tamansiswa

Pembelajaran Sains Berwawasan Nilai-Nilai Tamansiswa

21 Juni 2026
AXA Mandiri menggelar Shake Out Run Mandiri Jogja Marathon 2026, Sabtu (20/6). Foto: Dok. Istimewa

AXA Mandiri Gelar Shake Out Run, Komitmen Lindungi Pelari Mandiri Jogja Marathon 2026

20 Juni 2026
UPN Veteran Yogyakarta Dampingi Louby Batik, Perkuat Branding dan Daya Saing Digital

UPN Veteran Yogyakarta Dampingi Louby Batik, Perkuat Branding dan Daya Saing Digital

23 Juni 2026
Menakar Manisnya Sukses Bakpia Jogkem di Bawah Komando Ariyanto

Menakar Manisnya Sukses Bakpia Jogkem di Bawah Komando Ariyanto

22 Juni 2026
Pembelajaran Sains Berwawasan Nilai-Nilai Tamansiswa

Pembelajaran Sains Berwawasan Nilai-Nilai Tamansiswa

21 Juni 2026
AXA Mandiri menggelar Shake Out Run Mandiri Jogja Marathon 2026, Sabtu (20/6). Foto: Dok. Istimewa

AXA Mandiri Gelar Shake Out Run, Komitmen Lindungi Pelari Mandiri Jogja Marathon 2026

20 Juni 2026
Langkah Sehat MOM Berkolaborasi dengan Stakeholder di Kelurahan Kadipaten

Langkah Sehat MOM Berkolaborasi dengan Stakeholder di Kelurahan Kadipaten

20 Juni 2026
BRI Regional Office Yogyakarta Salurkan KUR Rp10,3 Triliun hingga Mei 2026 Bagi UMKM

BRI Regional Office Yogyakarta Salurkan KUR Rp10,3 Triliun hingga Mei 2026 Bagi UMKM

19 Juni 2026