KORAN MERAPI – Matahari pagi di Embung Potorono, Banguntapan, tampak bersahabat pada Rabu pagi (15/4). Semilir angin dan riak tenang air waduk desa ini menjadi saksi berkumpulnya lebih dari 300 “pejuang” ekonomi kerakyatan dalam perhelatan Syawalan Gerakan BMT DIY 1447 H.
Bukan sekadar seremonial pasca-Lebaran, pertemuan ini menjadi panggung besar bagi konsolidasi ide. Mengusung tema “Kolaborasi BMT se-DIY: Menguatkan Ekosistem Ekonomi Syariah Berbasis Maslahah”, acara ini menegaskan bahwa kekuatan BMT (Baitul Maal wat Tamwil) di Yogyakarta terletak pada satu kata kunci: Sinergi.

Acara dibuka dengan penuh energi melalui senam sehat. Ratusan insan BMT dari pelosok lima kabupaten/kota di DIY melebur tanpa sekat. Tak ada lagi sekat antarlembaga; yang ada hanyalah visi kolektif untuk memajukan ekonomi syariah di tanah mataraman.
Ketua Panitia, Sutardi, dalam sambutannya menekankan bahwa BMT bukan sekadar lembaga keuangan, melainkan pilar pemberdayaan.
“Melalui momentum Syawalan ini, kami ingin meneguhkan kembali komitmen bersama untuk membangun ekosistem ekonomi syariah yang inklusif, berkeadilan, dan berorientasi pada maslahah,” ujarnya di sela-sela acara.
Kekuatan acara ini tercermin dari daftar hadirnya. Gerakan BMT DIY membuktikan kemampuannya merangkul berbagai elemen strategis. Mulai dari asosiasi seperti ABSINDO, PINBUK, PBMTI, hingga deretan Pusat Koperasi Syariah (Puskopsyah) dari Bantul hingga Gunungkidul hadir dalam satu barisan.
Dukungan pemerintah pun tampak nyata dengan kehadiran Dinas Koperasi dan UKM DIY beserta jajaran dinas kabupaten/kota, serta DEKOPINWIL DIY, DEKOPINDA Kota Yogyakarta, Panewu Banguntapan dan Kurah Potorono. Tak ketinggalan, ormas dan lembaga cendekiawan seperti MUI, DMI, MES, ICMI, hingga IAEI turut memberi bobot intelektual dan spiritual pada gerakan ini.
Kolaborasi ini semakin lengkap dengan dukungan lembaga filantropi (LAZISMU, LAZISNU, Dompet Dhuafa) serta sektor perbankan syariah seperti Bank BPD DIY Syariah dan BSI, yang menunjukkan bahwa ekosistem ini telah matang dan saling menopang.
Di balik tawa dan jabat tangan erat para peserta, terselip agenda besar untuk menjawab tantangan zaman. Syawalan ini menjadi ruang diskusi informal namun strategis mengenai: Pemberdayaan UMKM, memastikan pelaku usaha kecil tetap tangguh pasca-pandemi dan di tengah ketidakpastian global.
Kemudian Digitalisasi Layanan, mendorong BMT agar lebih adaptif dan inovatif namun tetap memegang teguh prinsip syariah.
Selanjutnya Pengentasan Kemiskinan, mengintegrasikan peran Maal (sosial) dan Tamwil (bisnis) secara seimbang demi kesejahteraan umat.

Keberhasilan acara ini tak lepas dari sokongan puluhan BMT dan lembaga keuangan yang bahu-membahu, mulai dari BMT Tamziz, Beringharjo, hingga BMT pelosok desa yang memiliki spirit serupa. Panitia memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pendukung yang telah membuktikan bahwa kompetisi bisnis di antara mereka kalah jauh oleh semangat kolaborasi demi kemaslahatan.
Saat matahari mulai meninggi, Syawalan Gerakan BMT DIY 1447 H resmi berakhir. Namun, semangat yang dibawa dari tepi Embung Potorono hari ini menjadi bahan bakar baru bagi para insan BMT untuk kembali ke masyarakat, membawa misi ekonomi yang tidak hanya mencari untung, tapi menebar manfaat (maslahah) bagi seluruh alam. (Ags)


















