KORAN MERAPI – Delapan puluh tahun yang lalu, bangsa Indonesia ini merdeka bukan hanya dari penjajahan fisik, tetapi juga dari kebodohan, ketertinggalan, dan keterbatasan berpikir. Kini, ketika kita berada di ambang HUT RI ke-80 pada 17 Agustus 2025, tantangan kemerdekaan bergeser. Bukan lagi tentang mengangkat senjata, melainkan tentang menajamkan pikiran. Dalam konteks ini, literasi menjadi medan juang baru, terutama bagi generasi Z, generasi muda yang lahir dan tumbuh dalam arus deras informasi digital.
Di Kota Yogyakarta, yang dikenal sebagai kota pelajar dan budaya, geliat literasi memiliki napas yang berbeda. Namun, meski memiliki ratusan perpustakaan, komunitas literasi, dan ruang diskusi, tak berarti generasi Z di kota ini otomatis melek literasi. Literasi bukan sekadar bisa membaca dan menulis. Literasi adalah kemampuan memahami, menganalisis, dan menggunakan informasi secara kritis, dan inilah tantangan besar generasi sekarang.
Generasi Z di Yogyakarta hidup di tengah keterhubungan digital yang luar biasa. Informasi datang silih berganti, namun tak semuanya berdasar fakta. Di sinilah tantangan literasi muncul. Apakah generasi muda kita mampu memilah kebenaran di antara kabar bohong? Apakah mereka bisa berdialog dengan toleransi di tengah perbedaan? Apakah mereka mampu menjadikan pengetahuan sebagai bekal membangun negeri, bukan hanya sebagai konten viral?
Menyongsong usia 80 tahun Indonesia merdeka, literasi harus menjadi agenda utama dalam pembentukan karakter generasi muda. Literasi digital, literasi budaya, literasi sains, hingga literasi kewargaan perlu ditanamkan sejak dini. Yogyakarta memiliki potensi besar untuk menjadi contoh nasional dalam hal ini. Kolaborasi antara sekolah, perguruan tinggi, komunitas literasi, dan pemerintah kota harus diperkuat, bukan hanya dalam bentuk seremoni, tetapi dalam aksi nyata.
Gerakan seperti pojok baca di ruang publik, festival literasi anak muda, pelatihan menulis kreatif, atau diskusi rutin tentang isu-isu aktual bisa menjadi jalan. Lebih dari itu, penting juga membangun ekosistem digital yang sehat, tempat generasi muda bisa berekspresi sekaligus belajar menjadi warga digital yang bertanggung jawab. Literasi bukan hanya alat, tapi juga sikap hidup. Sebuah cara untuk merayakan kemerdekaan dengan bijak.

Peringatan HUT RI ke-80 bukan hanya soal karnaval dan lomba-lomba, tetapi juga saat refleksi tentang seberapa merdeka kita dalam berpikir. Di tengah dunia yang cepat berubah, hanya generasi yang literatlah yang mampu menjaga api kemerdekaan tetap menyala. Kota Yogyakarta, dengan warisan budayanya dan semangat mudanya, punya tanggung jawab besar untuk memimpin perubahan ini.
Merdeka hari ini adalah ketika generasi Z tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tapi juga pencipta narasi. Ketika mereka tak hanya mengonsumsi informasi, tapi mampu menciptakan pengetahuan. Ketika mereka memilih untuk membaca sebelum berbicara, dan berpikir sebelum membagikan.
Mari jadikan literasi sebagai cara baru kita mengisi kemerdekaan. Sebab kemerdekaan sejati bukan hanya terbebas dari penjajahan, tapi juga dari kebodohan, kemalasan berpikir, dan ketidakpedulian. Dan di Yogyakarta, kota tempat ilmu dan budaya tumbuh bersama, literasi harus menjadi nyala obor yang menerangi jalan menuju Indonesia emas.




















