KORAN MERAPI – Yogyakarta tidak pernah kehabisan ide untuk melahirkan produk kreatif. Selain warisan budaya yang mengakar, kota ini juga menjadi melting pot inovasi, terutama di bidang kuliner. Dari gudeg yang legendaris hingga kini bermunculan produk-produk kekinian, semangat kreatif itu terus bergulir. Kini, sebuah inovasi muncul dari sesuatu yang sering diabaikan: bonggol pisang. Keripik Bonggol Pisang (KBP) mulai mencuri perhatian bukan hanya karena keunikannya, tetapi juga narasi di baliknya. Namun, pertanyaannya, mampukah produk ini naik kelas dari sekadar tren sesaat menjadi produk unggulan UMKM yang berdaya saing dan berkelanjutan?
Yang membuat KBP menarik adalah nilai lebihnya yang multi-dimensional. Pertama, ia adalah teladan sempurna dari circular economy atau ekonomi sirkular. Bonggol pisang yang biasanya terbuang sebagai limbah pertanian dan rumah tangga, diolah menjadi produk bernilai ekonomi. Hal ini sejalan dengan semangat zero waste dan keberlanjutan (sustainability) yang semakin digemari konsumen modern.
Kedua, dari segi kesehatan, bonggol pisang kaya serat dan memiliki beberapa kandungan nutrisi yang baik. Ketiga, rasa dan teksturnya yang unik, renyah dan gurih, memberikan pengalaman kuliner baru. Dalam konteks yang lebih besar, KBP bukan hanya menjual produk, tetapi juga sebuah cerita tentang pemanfaatan limbah, dukungan pada produk lokal, dan gaya hidup yang lebih sadar lingkungan. Ini adalah value proposition yang kuat di era di mana konsumen semakin kritis.
Meski menjanjikan, jalan KBP untuk go-national tidaklah mulus. Tantangan terbesarnya adalah mengubah persepsi bahwa ia adalah “makanan dari limbah” menjadi “makanan premium yang bernutrisi dan berkelanjutan”. Selain itu, sejumlah tantangan klasik UMKM juga menghadang: standardisasi rasa dan kerenyahan yang sering tidak konsisten, kemasan yang masih sederhana sehingga mudah melempem, daya simpan yang terbatas, serta kesulitan untuk scale-up produksi guna memenuhi permintaan yang besar. Di pasar, persaingan dengan keripik konvensional dan produk camilan baru lainnya juga sangat ketat.
Di sinilah peran teknologi digital menjadi kunci penentu, sebagaimana yang telah dibuktikan banyak UMKM sukses. Media sosial seperti Instagram dan TikTok adalah panggung utama untuk membangun branding. Konten-konten kreatif yang menunjukkan proses pengolahan yang higienis, narasi zero-waste-nya, dan testimoni pengguna dapat membangun keterikatan emosional dengan calon konsumen.
Platform e-commerce seperti Tokopedia, Shopee, dan GoFood/Foodpanda menjadi saluran distribusi yang mampu menjangkau pasar jauh lebih luas daripada sekedar kedai fisik di pinggir jalan. Digital marketing yang terukur memungkinkan produsen KBP menargetkan segmen konsumen yang tepat: kaum muda perkotaan yang peduli lingkungan dan pencinta kuliner unik. Untuk mengatasi tantangan daya simpan, teknologi pengemasan sederhana seperti vacuum sealing atau penggunaan penyerap oksigen dapat diadopsi untuk memperpanjang usia produk selama pengiriman.
Agar KBP dapat benar-benar menjadi kekuatan ekonomi baru, kolaborasi multipihak mutlak diperlukan. Pemerintah, melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan serta Dinas Pertanian, dapat memberikan pendampingan dalam hal pelatihan standardisasi produksi, manajemen usaha, dan bantuan akses peralatan pengemasan. Akademisi dan peneliti dari universitas-universitas terkemuka di Yogya dapat berkontribusi melalui penelitian untuk mengukur nilai gizi secara akurat dan mengembangkan teknik pengawetan yang tepat tanpa bahan kimia berbahaya. Komunitas lokal dan influencer dapat menjadi ambassador yang memperkuat promosi. Pada akhirnya, para pelaku UMKM sendiri harus terbuka untuk berjejaring, berbagi ilmu, dan bersinergi agar industri KBP tidak tumbuh sendiri-sendiri.
Keripik Bonggol Pisang memiliki semua bahan dasar untuk sukses: cerita yang powerful, nilai yang relevan dengan zaman, dan pasar yang potensial. Ia adalah lebih dari sekadar camilan; ia adalah simbol kreativitas dan semangat berkelanjutan masyarakat Yogya. Dengan pendekatan yang strategis, memanfaatkan kekuatan digital, dan didukung oleh kolaborasi yang erat, KBP berpotensi menjadi legacy baru kuliner Yogya yang mendunia. Yang diperlukan sekarang adalah komitmen bersama untuk mengubah potensi ini menjadi kenyataan, membawa produk dari limbah dapur ini menjadi primadona pasar digital yang tangguh dan berkelanjutan. (*)




















