KORAN MERAPI – Di era digital seperti sekarang, arus informasi begitu deras dan cepat. Generasi Z,mereka yang lahir di rentang tahun 1997 hingga 2012, adalah generasi yang tumbuh bersama internet, media sosial, dan gawai. Mereka sangat akrab dengan konten visual dan serba instan, seperti video pendek, meme, dan story yang hanya bertahan 24 jam. Sayangnya, hal ini turut memengaruhi pola kebiasaan membaca. Buku sebagai sumber pengetahuan yang lebih dalam dan reflektif, sering kali kalah pamor dibandingkan konten digital yang cepat dan ringan.
Padahal, membaca buku bukan sekadar kegiatan mengisi waktu luang, tetapi merupakan kebiasaan penting yang memperkaya wawasan, meningkatkan daya nalar, serta memperkuat kemampuan berbahasa dan berpikir kritis. Buku melatih kita untuk tidak hanya tahu “apa” yang sedang terjadi, tetapi juga memahami “mengapa” dan “bagaimana” hal itu terjadi.
Lalu, bagaimana caranya agar generasi Z tertarik dan termotivasi membaca buku?
Pertama, mulailah dari minat pribadi. Jangan paksa diri membaca buku berat yang tidak sesuai selera. Jika seseorang menyukai film fiksi ilmiah, maka mulailah dengan novel fiksi bertema serupa. Jika tertarik pada isu sosial, bacalah esai atau memoar yang relevan. Dengan begitu, membaca akan terasa menyenangkan, bukan membebani.
Kedua, gunakan media sosial sebagai alat bantu, bukan pengalih perhatian. Banyak akun Instagram, TikTok, atau YouTube yang kini membahas buku dengan cara yang ringan dan menarik. Komunitas bookstagram dan booktok misalnya, menjadi ruang kreatif yang mengajak anak muda berdiskusi tentang buku dengan cara yang kekinian. Mereka merekomendasikan buku, membuat ulasan singkat, bahkan menciptakan tantangan membaca yang menyenangkan.

Ketiga, tetapkan target membaca yang realistis. Tak perlu langsung menargetkan membaca satu buku per minggu. Mulailah dari 10 halaman per hari atau satu buku per bulan. Konsistensi jauh lebih penting daripada kuantitas di awal. Semakin sering membaca, otak akan terbiasa dan mulai merindukan waktu untuk membaca.
Keempat, buat suasana membaca yang nyaman dan bebas distraksi. Pilih tempat tenang, nyalakan musik instrumental jika perlu, dan matikan notifikasi gawai selama membaca. Jika memungkinkan, bawalah buku ke mana pun, sehingga waktu tunggu atau perjalanan bisa dimanfaatkan untuk membaca beberapa halaman.
Kelima, catat dan rayakan progres membaca. Gunakan aplikasi pembaca seperti Goodreads atau jurnal khusus untuk mencatat buku-buku yang sudah dibaca. Setiap kali menyelesaikan satu buku, beri diri sendiri apresiasi kecil, misalnya waktu santai ekstra atau membeli buku baru.
Terakhir, jadikan membaca sebagai gaya hidup, bukan kewajiban. Jangan hanya membaca demi terlihat pintar. Baca karena ingin tahu, ingin tumbuh, dan ingin memahami dunia. Bacalah buku yang membuat kita bertanya, merenung, dan kadang tersenyum sendiri karena merasa dipahami.
Generasi Z bukan generasi yang malas membaca, mereka hanya butuh pendekatan yang tepat. Dengan kombinasi teknologi dan kebiasaan membaca yang menyenangkan, kita bisa menciptakan generasi yang tak hanya cerdas secara informasi, tetapi juga dalam berpikir dan merasakan. Membaca buku adalah bentuk perlawanan terhadap arus instan dan dangkal. Dan dalam jangka panjang, kebiasaan ini adalah investasi terbaik untuk masa depan siapa pun, termasuk generasi Z.



















